Emas Tetap Stabil di Tengah Ketegangan Geopolitik, Diprediksi Beroperasi dalam Kisaran $4.500-$5.000 dengan Bias Naik

IPD – 08 April 2026 | Analisis terbaru dari Eugene Leow, peneliti senior di DBS Group Research, menggarisbawahi bahwa logam mulia masih berada dalam zona stabil meski dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang beragam. Sementara ada sinyal potensi gencatan senjata selama 45 hari, ancaman baru muncul dari Presiden Amerika Serikat yang mengintensifkan tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kedua faktor ini menciptakan arus silang berita yang menyeimbangkan sentimen pasar.

Leow menegaskan bahwa emas saat ini masih berada dalam fase korektif. Tekanan utama berasal dari hasil riil obligasi AS 10‑tahun yang berada di sekitar ambang 2 %, level yang secara historis menahan kenaikan harga emas. Selama periode ini, investor cenderung mengalihkan alokasi ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil kompetitif, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai safe‑haven.

Meski demikian, Leow mencatat bahwa konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda‑tanda de‑eskalasi yang jelas. Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi katalisator utama yang dapat memicu pergerakan harga emas ke arah atas bila terjadi perubahan signifikan, seperti penurunan ketegangan atau pergeseran kebijakan moneter Amerika Serikat.

Berbasis pada data pasar terkini, analis DBS memperkirakan emas akan berfluktuasi dalam rentang $4.500 hingga $5.000 per troy ounce dalam jangka pendek. Rentang ini diperkirakan akan tetap terjaga sampai salah satu dari dua kondisi berikut terjadi: pertama, penurunan yang signifikan pada hasil riil obligasi AS, atau kedua, pelemahan berkelanjutan pada dolar AS. Kedua faktor tersebut dapat membuka ruang bagi emas untuk melanjutkan pemulihan strukturalnya.

Dalam skenario paling optimis, apabila hasil riil obligasi AS menurun di bawah 2 % dan dolar AS melemah secara konsisten, emas berpotensi menembus level $5.000 dan melanjutkan tren naiknya. Namun, Leow memperingatkan bahwa penembusan semacam itu tidak akan terjadi secara otomatis; ia sangat bergantung pada evolusi geopolitik, khususnya perkembangan di Selat Hormuz dan potensi gencatan senjata di wilayah konflik lainnya.

Selain faktor makro, dinamika pasar spot dan futures juga memberikan sinyal bahwa likuiditas masih cukup tinggi, mendukung pergerakan harga yang relatif tenang. Investor institusional tampaknya masih mengamati arah kebijakan Federal Reserve, khususnya terkait kemungkinan penurunan suku bunga yang dapat mengurangi tekanan pada hasil obligasi.

Secara keseluruhan, pandangan DBS menekankan bahwa emas berada pada titik persimpangan antara tekanan hasil riil yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang terus berubah. Selama kondisi tersebut berlangsung, emas diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran yang telah ditetapkan, dengan potensi kenaikan terbatas hingga ada pergeseran signifikan dalam salah satu faktor kunci tersebut.

Kesimpulannya, para pelaku pasar disarankan untuk memantau secara cermat data hasil obligasi AS serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kedua indikator ini akan menjadi penentu utama apakah emas dapat melanjutkan fase korektifnya atau beralih ke fase pemulihan yang lebih kuat. Sementara itu, strategi diversifikasi tetap menjadi landasan penting bagi investor yang ingin melindungi portofolio mereka dari volatilitas yang masih mungkin terjadi.

Leave a Comment