IPD – 08 April 2026 | Pasangan mata uang Euro versus Dolar Amerika (EUR/USD) terus menguat pada Selasa kemarin, menembus level 1,1570 setelah dua hari berturut‑turut mengalami kenaikan. Penguatan ini bertepatan dengan melemahnya dolar AS di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak menjelang batas waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump untuk Iran menandatangani kesepakatan atau membuka Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan infrastruktur energi dan sipil Iran bila tidak ada penyelesaian pada pukul 20.00 waktu setempat (00.00 GMT hari Rabu). Menanggapi ancaman tersebut, media Iran, Tehran Times, melaporkan penangguhan semua jalur komunikasi diplomatik dengan Washington. Di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menambahkan pernyataan dramatis bahwa “sebuah peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah kembali lagi”.
Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak mentah, yang pada saat penulisan berada pada level tertinggi beberapa minggu terakhir. Kenaikan harga energi menambah tekanan inflasi global, terutama di wilayah Eurozone yang masih menjadi importir energi bersih. Sementara Amerika Serikat, sebagai eksportir energi, berada dalam posisi yang relatif lebih tahan banting terhadap guncangan harga minyak.
Data inflasi terbaru dari Zona Euro menunjukkan percepatan yang signifikan. Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (HICP) naik 1,2 % secara bulanan pada Maret, melampaui 0,6 % bulan sebelumnya, dan inflasi tahunan mencapai 2,5 % dari 1,9 % pada Februari. Angka ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) dapat melakukan satu atau dua kali kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun bila tekanan inflasi tetap tinggi.
Sementara itu, pasar menantikan data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini. Konsensus memperkirakan Consumer Price Index (CPI) akan naik 0,9 % MoM, naik dari 0,3 % pada Februari, dengan inflasi tahunan diprediksi mencapai 3,3 % dibandingkan 2,4 % sebelumnya. Jika data tersebut menguat, Federal Reserve (Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga saat ini, namun para analis memperkirakan kemungkinan dua kali kenaikan tambahan di akhir tahun jika tekanan inflasi tetap tinggi.
Kebijakan moneter kedua bank sentral mencerminkan sikap berhati‑hati. John Williams, Presiden Federal Reserve New York, menyatakan bahwa kebijakan moneter berada pada posisi “baik untuk menunggu dan melihat” sekaligus menambahkan bahwa konflik geopolitik dapat menambah “sepersepuluh atau dua” pada inflasi inti. Di sisi lain, Pierre Wunsch, anggota Dewan Eksekutif ECB, menegaskan kesiapan bank sentral untuk melakukan beberapa kali kenaikan suku bunga bila krisis Iran berlanjut, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Penguatan EUR/USD juga dipengaruhi oleh pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), yang mencerminkan nilai dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama. Pada saat penulisan, DXY berada di sekitar 99,90, turun dari level 100 yang sebelumnya menjadi psikologis penting. Penurunan ini menandakan melemahnya dolar yang didorong oleh ekspektasi kebijakan Fed yang lebih dovish serta kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh harga minyak.
- EUR/USD menguat menjadi 1,1571, mencatat kenaikan kedua hari berturut‑turut.
- Dolar AS melemah, DXY turun di bawah 100.
- Harga minyak naik, menambah tekanan inflasi global.
- Inflasi Eurozone mempercepat ke 2,5 % YoY pada Maret.
- Data CPI AS diproyeksikan naik 0,9 % MoM, 3,3 % YoY.
- Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun dua kali kenaikan masih mungkin.
- ECB siap menaikkan suku bunga bila inflasi tetap tinggi.
Secara keseluruhan, pasar valuta asing berada dalam fase penyesuaian yang dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik, energi, dan data inflasi. Penguatan euro terhadap dolar tidak hanya mencerminkan melemahnya dolar, tetapi juga ekspektasi bahwa kebijakan moneter di Amerika Serikat akan tetap akomodatif sementara ECB dapat mengambil langkah lebih agresif bila inflasi tidak terkendali. Investor harus tetap waspada terhadap perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, karena setiap eskalasi tambahan dapat mengguncang pasar energi dan memperkuat alur aliran modal ke aset safe‑haven.
Kesimpulannya, EUR/USD diperkirakan akan tetap berada pada zona bullish selama ketegangan Iran‑AS berlanjut dan data inflasi terus menguat. Para pelaku pasar perlu memantau keputusan kebijakan Fed dan ECB, serta perkembangan negosiasi Iran yang dapat mengubah dinamika harga minyak dan, pada gilirannya, tekanan inflasi di kedua wilayah. Ketidakpastian politik dan ekonomi ini menegaskan pentingnya strategi manajemen risiko yang fleksibel bagi investor valuta asing.
