IPD – 07 Juni 2026 | Perekonomian Indonesia diklaim berada dalam kondisi yang kuat dan mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar keuangan yang terjadi belakangan disebut karena sentimen global. Berdasarkan catatan tersebut, ekonomi Indonesia dianggap jauh dari kondisi krisis 1998.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak mengarah pada krisis seperti 1997-1998. Hal ini karena fundamental ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia masih kuat. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih dipicu sentimen negatif jangka pendek yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Purbaya optimistis kondisi tersebut dapat diatasi melalui koordinasi yang erat antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia. “Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” kata Purbaya. Purbaya menyampaikan, penyebab dari tekanan yang terjadi saat ini condong kepada sejumlah sentimen negatif. Sentimen itulah yang kerap mengganggu pergerakan nilai tukar rupiah.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan Indonesia menghadapi kolaps di sektor perbankan dengan inflasi yang tinggi pada krisis 1998. Kemudian saat itu posisi nilai tukar rupiah juga meningkat tajam seiring terkontraksi ekonomi nasional. Koreksi terhadap mata uang rupiah saat itu, terang Josua, tidak dapat disamakan dengan kondisi saat krisis.
Menurut Josua, ketahanan ekonomi Indonesia masih tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi tetap berada pada level yang relatif tinggi, inflasi terkendali, serta konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) masih tumbuh solid. Selain itu, belanja pemerintah pada awal tahun turut menopang aktivitas ekonomi domestik.
Dari sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga masih mencatatkan kinerja positif. “Kepercayaan investor tetap terjaga karena fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ke depan,” katanya.
Untuk menjaga kelompok masyarakat rentan, pemerintah juga memperkuat berbagai program perlindungan sosial agar dampak tekanan ekonomi dapat diminimalisir. Terkait program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Josua menilai efektivitas program tidak tepat diukur hanya dalam jangka pendek.
Kesimpulan dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini adalah bahwa perekonomian nasional masih dalam kondisi yang kuat dan mampu menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan rupiah dan volatilitas pasar keuangan dapat diatasi melalui koordinasi yang erat antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia.
