IPD – 19 April 2026 | Operasi pencarian dan evakuasi jenazah helikopter Airbus H130 dengan nomor registrasi PK-CFX yang jatuh di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, berhasil diselesaikan dalam waktu 6,5 jam. Kejadian tersebut terjadi pada Kamis, 16 April 2026, ketika helikopter kehilangan kontak dan kemudian ditemukan menimpa bukit perbukitan di Dusun Gandis, Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman.
Setelah menerima laporan, Kodam XII/Tanjungpura segera mengerahkan ratusan prajurit TNI dari berbagai satuan, termasuk Poskotis Korem 121/Alambhana Wanawai, Yonif TP 833/BD, Yonif 642/Kapuas, serta Kodim 1204/Sanggau. Tim SAR Gabungan juga melibatkan elemen dari Lanud Supadio yang menambah satu unit helikopter Super Puma dan pasukan khusus Korps Penerbang Angkatan Darat (Korpasgat) untuk mempercepat proses evakuasi.
Mayor Inf. Ikhwan memimpin tim dari Yonif TP 833/BD yang berhasil menemukan titik jatuh helikopter pada malam Kamis. Lokasi tepatnya berada di Bukit Puntak, sebuah area hutan lebat dengan medan perbukitan yang menghambat akses kendaraan. Karena kondisi tersebut, prajurit harus menempuh perjalanan kaki, memikul peralatan dan kantong jenazah secara manual.
Delapan jenazah korban, terdiri atas dua anggota kru dan enam penumpang, dipindahkan dengan hati-hati ke posko tim SAR gabungan yang berada di Gereja Katolik Santo Yohanes, Dusun Gandis. Proses evakuasi dimulai pada dini hari Jumat, 17 April, dan memakan waktu cukup lama karena harus melewati jalur hutan yang sempit serta medan yang curam. Pada pukul 06.30 WIB, seluruh jenazah beserta barang bukti, termasuk black box helikopter, berhasil terkumpul di posko.
Selanjutnya, jenazah dan barang bukti dipindahkan menggunakan delapan unit ambulans menuju Lapangan Yonif 642/Kapuas, sebelum akhirnya diangkut ke RS Bhayangkara Pontianak untuk proses identifikasi lebih lanjut. Tim DVI (Disaster Victim Identification) Polda Kalbar turut serta dalam proses identifikasi dan konfirmasi identitas korban.
Kolonel Inf. Ahmad Daud Harahap, Asops Kasdam XII/Tanjungpura, menegaskan komitmen penuh TNI dalam mendukung operasi kemanusiaan. Ia menyatakan, "Atas perintah Pangdam XII/Tanjungpura serta hasil koordinasi dengan Tim SAR gabungan, jajaran diarahkan untuk membantu pelaksanaan pencarian secara maksimal." Pernyataan tersebut menegaskan peran strategis TNI dalam penanganan bencana di wilayah terpencil.
Selama operasi, satu unit helikopter Super Puma berfungsi sebagai transportasi udara bagi personel dan logistik, mempercepat perpindahan material penting di antara titik-titik evakuasi. Kehadiran pasukan khusus Korpasgat juga memastikan keamanan dan kelancaran proses evakuasi di medan yang berbahaya.
Berikut rangkaian unit yang terlibat dalam operasi ini:
- Poskotis Korem 121/Alambhana Wanawai
- Yonif TP 833/BD
- Yonif 642/Kapuas
- Kodim 1204/Sanggau
- Lanud Supadio (Super Puma)
- Korps Penerbang Angkatan Darat (Korpasgat)
Operasi evakuasi ini tidak hanya menyoroti profesionalisme prajurit TNI, tetapi juga menegaskan pentingnya sinergi antara unsur militer, aparat kepolisian, dan tim SAR dalam menghadapi situasi darurat. Kendala geografis yang ekstrem, seperti hutan lebat dan perbukitan curam, tidak menghalangi keberhasilan misi berkat koordinasi yang solid dan dedikasi tinggi para personel.
Keberhasilan evakuasi dalam waktu singkat memberikan harapan bagi keluarga korban bahwa proses identifikasi dan penanganan lanjutan dapat berjalan dengan cepat. Selain itu, peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi penanganan kecelakaan serupa di masa mendatang, khususnya dalam hal persiapan logistik, penggunaan aset udara, dan kesiapan personel di medan sulit.
Dengan selesainya evakuasi jenazah dan pengamanan barang bukti, fokus selanjutnya beralih pada proses investigasi penyebab kecelakaan serta penanganan psikologis bagi keluarga korban. TNI tetap siap memberikan dukungan penuh dalam setiap tahap penanganan pasca-kejadian.
