Tottenham Tertahan di Zona Degradasi Setelah Gol Menit Akhir Brighton: Drama di Tottenham Hotspur Stadium

IPD – 19 April 2026 | Tottenham Hotspur kembali merasakan kepedihan di Tottenham Hotspur Stadium pada laga pekan ke-33 Liga Inggris. Setelah unggul dua kali lewat gol Pedro Porro pada menit ke-39 dan Xavi Simons pada menit ke-77, Spurs harus menelan gol penyama kedudukan dari Georginio Rutter pada menit tambahan 90+3. Skor akhir 2-2 itu menempatkan Tottenham kembali di zona degradasi dengan 31 poin dari 33 pertandingan.

Gol pertama Brighton datang dari tendangan voli Kaoru Mitoma pada babak pertama, namun gol Simons yang tampak menaklukkan lawan memberi harapan bagi pendukung Spurs. Simons, yang baru mencatatkan gol keduanya di Premier League, merayakan dengan mengangkat kaosnya, namun euforia itu berakhir dengan serangan balik terakhir Brighton. Rutter, yang sebelumnya mencetak gol krusial bagi Seagulls, menegaskan kedalaman kualitas mereka dengan menyundul bola pada menit tambahan, mengubah suasana stadion menjadi tegang.

Manajer baru Tottenham, Roberto De Zerbi, memberikan penilaian optimis meski situasi semakin menantang. Ia menekankan bahwa tim masih menunjukkan “darah dan karakter” pada pertandingan tersebut. De Zerbi, yang menjadi manajer ketiga musim ini setelah pemecatan Thomas Frank dan Igor Tudor, menyatakan keyakinannya bahwa Spurs dapat memenangkan lima pertandingan terakhir jika mempertahankan mentalitas positif. “Kami tidak ingin bekerja dengan orang yang sedih atau negatif. Semua pemain harus percaya pada kemampuan mereka untuk tetap di Liga Premier,” ujarnya.

Keberuntungan cedera kembali menghantui Tottenham. Rodrigo Bentancur kembali memperkuat lini tengah setelah absen lama, sementara James Maddison, yang baru pulih dari cedera ligamen anterior cruciatum (ACL), harus menerima peran di bangku cadangan. Kedua pemain tersebut menambah dimensi taktis bagi De Zerbi, namun mereka belum cukup untuk mengatasi kekurangan yang terus menggerogoti performa tim.

Secara statistik, Tottenham berada di posisi ke-18 dengan 31 poin, hanya satu poin di atas West Ham yang memiliki satu pertandingan tambahan. Mereka juga tertinggal dua poin dari Nottingham Forest yang juga memiliki satu game in hand. Jika Forest dan West Ham meraih kemenangan, Spurs dapat terperosok lebih jauh ke zona merah.

Reaksi dari pihak lain turut menambah tekanan. Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, menyatakan kekecewaannya karena tidak dapat memanfaatkan keunggulan awal. “Kami ingin lebih, namun kami tidak tampil pada level tertinggi,” katanya kepada Sky Sports. Sementara itu, pengamat Premier League menyoroti perubahan dinamika “Big Six”. Menurut mereka, bahkan klub-klub tradisional kuat seperti Manchester United pernah berada di posisi 15 pada musim sebelumnya, menandakan betapa kompetitifnya kompetisi saat ini.

Para penggemar Tottenham memberikan reaksi beragam di media sosial. Beberapa mengkritik perayaan Simons yang dianggap berlebihan, sementara yang lain menyoroti keberuntungan yang menimpa tim karena harus menahan gol di menit tambahan. Sejumlah komentar menyoroti pentingnya menjaga fokus mental menjelang lima laga tersisa, termasuk pertandingan tandang melawan Wolverhampton Wanderers pada akhir pekan depan.

Laga berikutnya menjadi krusial. Tottenham harus mengamankan tiga poin melawan tim terbawah, Wolves, yang tengah berjuang keras untuk menghindari degradasi. Jika Spurs berhasil mengumpulkan lima kemenangan beruntun, mereka berpotensi menyalip lawan-lawan terdekat dan mengamankan tempat aman di zona tengah klasemen. Namun, kegagalan di satu laga saja dapat menutup harapan mereka.

Secara finansial, kegagalan promosi ke Liga Premier berikutnya dapat menimbulkan dampak signifikan pada pendapatan komersial dan sponsor klub. De Zerbi mengingatkan bahwa stabilitas klub tidak hanya bergantung pada hasil di lapangan, melainkan juga pada dukungan pemilik dan komunitas penggemar.

Dengan waktu yang semakin menipis, Tottenham harus memanfaatkan setiap peluang, mengoptimalkan strategi De Zerbi, dan mengandalkan pengalaman pemain veteran untuk menghindari nasib pertama kali turun sejak 1977. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sejati bagi mentalitas baru yang dibangun di tengah krisis.

Leave a Comment