IPD – 03 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan rangkaian kunjungan kenegaraan ke Asia Timur dengan tiba di Seoul, Korea Selatan pada Rabu (1/4/2026). Kedatangan Prabowo disambut secara resmi di Blue House, kediaman resmi Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang kemudian memberikan pelukan hangat sebagai simbol persahabatan antara kedua negara.
Acara penyambutan berlangsung dalam suasana formal namun bersahabat. Setelah upacara protokoler, Presiden Lee Jae Myung melangkah mendekati Prabowo dan memeluknya, sebuah gestur yang jarang terlihat dalam pertemuan diplomatik tingkat tinggi. Pelukan tersebut menjadi sorotan media internasional dan menandai dimulainya diskusi bilateral yang lebih mendalam.
Pertemuan ini tidak hanya mencakup aspek politik, melainkan juga menampilkan elemen budaya. Dalam jamuan makan siang kenegaraan yang diadakan di ruang makan utama Blue House, kehadiran idol K‑pop asal Indonesia, Carmen dari grup Hearts2Hearts, menambah kehangatan suasana. Carmen berpose bersama Prabowo dan Lee Jae Myung dengan melakukan simbol “finger heart”, sebuah gerakan populer di kalangan penggemar K‑pop. Penampilan Carmen dalam mini dress abu‑abu preppy menjadi perbincangan tersendiri di kalangan netizen, sekaligus menunjukkan sinergi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Secara substansial, kunjungan Prabowo berfokus pada penguatan kemitraan strategis komprehensif antara Indonesia dan Korea Selatan. Kedua pemimpin sepakat untuk menandatangani sepuluh nota kesepahaman (MoU) yang mencakup bidang pertahanan, teknologi tinggi, energi terbarukan, serta pengembangan industri kreatif. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen menjadi satu‑satunya negara yang memiliki kemitraan khusus dengan Korea Selatan dalam skala strategis yang komprehensif.
Penghargaan tertinggi Korea Selatan, The Grand Order of Mugunghwa, juga diserahkan secara resmi kepada Prabowo oleh Presiden Lee. Penghargaan ini melambangkan pengakuan atas kontribusi signifikan Prabowo dalam mempererat hubungan bilateral, terutama dalam sektor ekonomi berkelanjutan dan keamanan regional. The Grand Order of Mugunghwa terdiri dari selempang, kalung, bros, dan pin kerah yang terbuat dari logam mulia dan batu permata, menandakan kehormatan tertinggi yang biasanya diberikan kepada kepala negara sahabat.
Selain urusan resmi, Prabowo juga memperkenalkan elemen diplomasi anabul dengan memberikan hadiah pakaian khusus untuk anjing peliharaan Presiden Lee. Hadiah tersebut, yang dipilih secara khusus, menjadi bahan candaan hangat di antara staf kedua kepresidenan dan menegaskan pendekatan pribadi dalam diplomasi modern.
Rangkaian agenda kunjungan meliputi forum bisnis berjudul “Indonesia–Korea Partnership for Resilient Growth”. Forum tersebut menjadi wadah bagi perusahaan Indonesia dan Korea untuk mengeksplorasi peluang investasi di sektor manufaktur, digital, serta energi hijau. Sebanyak 120 perusahaan, termasuk pelaku UMKM yang menonjolkan kerajinan tradisional seperti keris Bali dan keramik Jawa Timur, dipamerkan dalam pameran mini yang diadakan di dalam kompleks Blue House.
Para analis politik menilai bahwa pelukan simbolis tersebut mencerminkan perubahan paradigma dalam hubungan diplomatik Asia‑Pasifik, di mana kedekatan personal antar pemimpin dipandang sebagai katalisator utama dalam penyelesaian isu-isu strategis. “Kedekatan emosional yang ditunjukkan melalui gestur sederhana seperti pelukan dapat memperkuat kepercayaan dan mempermudah negosiasi di level tertinggi,” ujar Dr. Ahmad Rizki, pakar hubungan internasional Universitas Indonesia.
Keberadaan Carmen di acara resmi menandakan langkah strategis Indonesia dalam mempromosikan soft power melalui budaya pop. Kehadiran artis muda Indonesia di Blue House tidak hanya menambah citra modern negara, tetapi juga membuka peluang kolaborasi di industri hiburan dan kreatif antara kedua negara.
Secara keseluruhan, kunjungan kenegaraan Prabowo ke Korea Selatan berhasil menggabungkan elemen protokol, ekonomi, budaya, dan diplomasi pribadi dalam satu agenda terpadu. Pelukan hangat Presiden Lee Jae Myung menjadi simbol utama yang menegaskan komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama di era globalisasi yang semakin kompleks.
Kesimpulannya, pertemuan antara Prabowo Subianto dan Lee Jae Myung di Blue House menandai babak baru dalam hubungan Indonesia‑Korea Selatan. Dengan penandatanganan MoU, penghargaan tertinggi, serta interaksi budaya yang unik, kedua negara tampak siap melangkah menuju kemitraan yang lebih strategis, berkelanjutan, dan berorientasi pada inovasi di masa depan.
