IPD – 03 April 2026 | Italia kembali menelan kepahitan setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026 pada laga play-off UEFA melawan Bosnia dan Herzegovina. Pertandingan yang berlangsung di Zenica berakhir dengan adu penalti, di mana Italia kalah 4-3 setelah Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal mengeksekusi tendangan mereka. Bosnia, sebaliknya, tampil sempurna dari titik penalti, mengeksekusi keempat tendangan tanpa kegagalan. Kekalahan ini menandai kegagalan Italia untuk lolos ke turnamen dunia ketiga berturut-turut, sebuah catatan suram sejak kemenangan Piala Dunia 2006.
Keputusan keras tersebut memicu gelombang kritik terhadap pelatih kepala Gennaro Gattuso. Gattuso, yang sebelumnya menyatakan akan meninggalkan Italia bila timnya gagal lolos, kini berada di ambang akhir masa jabatannya. Ia menyebut bahwa timnya tidak menunjukkan kualitas yang diharapkan dalam fase krusial, sementara tekanan publik dan media semakin intens. Di sisi lain, kapten legendaris Gianluigi Buffon, yang juga menjabat sebagai presiden delegasi, mengumumkan pengunduran dirinya bersama beberapa staf penting, menandakan perlunya restrukturisasi total dalam manajemen sepak bola Italia.
Meski tampak gelap, ada percikan harapan yang muncul dari skenario luar kebiasaan. Sebuah rumor menyebutkan kemungkinan Italia kembali ke Piala Dunia 2026 melalui jalur penggantian tim yang ditarik karena konflik geopolitik. Konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Israel serta serangan udara yang mengguncang wilayah, mengancam partisipasi Iran dalam grup G. FIFA telah menegaskan bahwa Iran tetap akan bermain di Amerika Serikat, namun jika terjadi penarikan, peraturan FIFA (Pasal 6.2) memungkinkan tim pengganti dipilih dari runner-up atau tim berperingkat tertinggi yang belum lolos.
Beberapa analis, termasuk mantan pelatih cadangan Manchester United Rene Meulensteen, menyebutkan bahwa Italia berada di posisi tertinggi secara peringkat FIFA di antara tim-tim Eropa yang belum lolos. Jika FIFA memutuskan untuk mengangkat tim pengganti berdasarkan peringkat global, Italia bisa menjadi kandidat utama. Skenario ini, meskipun masih bersifat spekulatif, menimbulkan perdebatan sengit di kalangan federasi dan penggemar, mengingat implikasi tambahan tim Eropa dalam kompetisi yang secara tradisional mengutamakan representasi kontinen.
Selain implikasi kompetitif, kegagalan melawan Bosnia juga membuka pertanyaan tentang masa depan pemain muda Italia. Pio Esposito, yang sebelumnya dianggap sebagai harapan baru di lini depan, kini harus menanggung beban mental setelah kegagalan eksekusi penalti. Bryan Cristante, yang juga menyesal, diharapkan dapat belajar dari pengalaman ini untuk memperkuat mentalitas tim dalam laga penentu. Sementara itu, manajer Gattuso harus memikirkan strategi pembaruan skuad, mengingat banyak veteran yang sudah berusia menengah dan memerlukan regenerasi.
Secara keseluruhan, kegagalan Italia melawan Bosnia mencerminkan krisis struktural yang lebih dalam dalam sepak bola nasional. Dari kegagalan taktik di lapangan hingga pergantian kepemimpinan di tingkat administrasi, semua faktor berkontribusi pada krisis ini. Namun, dengan kemungkinan jalur penggantian yang belum pasti, Italia masih memiliki secercah peluang untuk kembali ke Piala Dunia, asalkan FIFA mengambil keputusan yang mendukung tim dengan peringkat tertinggi. Jika tidak, proses rekonstruksi harus dimulai segera, dengan fokus pada pengembangan talenta muda, penataan taktik modern, dan pembaruan manajerial.
