IPD – 04 April 2026 | Pound Sterling menguat pada sesi perdagangan Eropa Selasa kemarin, naik 0,17% mendekati level 1,3200 terhadap dolar AS. Penguatan ini menandai kinerja terbaik di antara mata uang utama, dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kesediaannya menengahi konflik dengan Iran. Sentimen “risk‑on” yang kembali menguat mendorong investor beralih ke aset‑aset berisiko, termasuk mata uang Inggris.
Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat siap mengakhiri perang dengan Iran melalui jalur diplomatik dan akan mengosongkan Selat Hormuz, meski selat tersebut masih sebagian tertutup. Pernyataan ini dilihat sebagai de‑eskalasi signifikan di kawasan Timur Tengah, menurunkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak. Dampaknya langsung terasa di pasar forex, di mana Pound Sterling melaju mengungguli rekan‑rekannya.
Berikut adalah persentase perubahan nilai tukar Pound Sterling terhadap mata uang utama pada hari tersebut. Data diambil dari pasar spot pada akhir sesi perdagangan Eropa.
| Mata Uang | USD | EUR | JPY | CAD | AUD | NZD | CHF |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| GBP | +0,17% | +0,13% | -0,13% | -0,35% | +0,09% | -0,22% | -0,34% |
Selain Pound Sterling, mata uang lain yang menunjukkan pergerakan positif termasuk Dolar Kanada (CAD) dan Dolar Australia (AUD), sementara Dolar AS (USD) hanya bergerak tipis naik karena para pelaku pasar masih yakin Federal Reserve (The Fed) tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kenaikan energi dan ekspektasi inflasi global menahan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter.
Bank of England (BoE) juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Kenaikan harga energi di dalam negeri Inggris meningkatkan tekanan inflasi, sehingga bank sentral belum siap untuk mengurangi tingkat bunga. Kebijakan ini memperkuat daya tarik Pound Sterling bagi investor yang mencari hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan mata uang lain.
Sentimen “risk‑on” biasanya ditandai dengan kenaikan indeks saham, komoditas (kecuali emas) dan mata uang negara pengekspor komoditas. Dalam konteks ini, pernyataan Trump menurunkan ketidakpastian geopolitik, memberi ruang bagi risiko yang lebih tinggi. Investor pun menambah alokasi ke aset‑aset berisiko, termasuk saham, komoditas energi, dan mata uang seperti Pound Sterling yang dipandang lebih menguntungkan.
Namun, risiko tetap ada. Penutupan sebagian Selat Hormuz masih dapat memengaruhi harga minyak mentah, dan ketegangan di kawasan tersebut dapat kembali memicu pergerakan pasar yang tajam. Selain itu, kebijakan suku bunga The Fed dan BoE tetap menjadi faktor penentu utama arah nilai tukar dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, pernyataan perdamaian dari Presiden AS telah memicu pergeseran sentimen pasar menjadi lebih optimis, mendorong Pound Sterling mengungguli rekan‑rekannya. Namun, para pelaku pasar tetap harus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan moneter bank sentral utama, yang dapat mengubah dinamika pasar dalam beberapa hari ke depan.
