Netanyahu Tegaskan: AS dan Iran Tak Hentikan Perang di Lebanon, Serangan Israel Memuncak

IPD – 06 April 2026 | Dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa konflik di Lebanon tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, meski Amerika Serikat dan Iran tampak berusaha mengendalikan eskalasi. “AS‑Iran tidak menghentikan perang di Lebanon,” ujar Netanyahu, menyoroti serangkaian serangan udara Israel yang terus meluas ke wilayah selatan Lebanon dan ibu kota Beirut pada minggu pertama April 2026.

Serangan terbaru, yang diluncurkan oleh pesawat jet, drone, dan kapal perang, menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai 39 lainnya, menurut laporan lapangan. Dari korban tersebut, empat orang tewas dalam serangan di kawasan Jnah, sebuah daerah padat penduduk di selatan Beirut yang juga menjadi tempat Kedutaan Besar China. Serangan di desa Kfarhata, selatan Lebanon, menewaskan tujuh orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun, sementara desa Jnah mencatat empat korban jiwa dan puluhan luka-luka. Total korban sipil selama satu bulan terakhir diperkirakan mencapai lebih dari 400 jiwa, dengan ribuan orang mengungsi ke wilayah lain.

Konflik yang bermula pada 2 Maret 2026, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Iran, telah berkembang menjadi perang tiga pihak yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada 2 April, Iran menembakkan rudal ke Tel Aviv setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi dan jembatan Iran jika tidak ada kesepakatan damai. Ancaman tersebut memicu serangan udara gabungan AS‑Israel ke instalasi strategis di Tehran, termasuk universitas teknologi dan fasilitas produksi air berat di Khondab.

Seiring dengan aksi militer, upaya diplomatik mulai muncul. Pada 6 April, usulan gencatan senjata selama 45 hari diajukan oleh pihak internasional, dengan dukungan awal dari Tehran. Namun, pejabat senior Iran menolak kesepakatan sementara, menuntut pembukaan Selat Hormuz sebagai syarat utama. Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan negosiasi dengan Israel untuk menghentikan kehancuran di selatan negara itu, mengingat lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi sejak konflik meluas.

Serangan Israel tidak hanya menargetkan infrastruktur militer Hizbullah, melainkan juga fasilitas kesehatan. Rumah sakit publik terbesar di Lebanon, Rafik Hariri University Hospital, hampir terkena dampak langsung ketika serangan menghantam kawasan Jnah yang berdekatan. Lebih dari puluhan tenaga medis dilaporkan tewas atau terluka, sementara ambulans dan peralatan medis hancur, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah.

Berikut rangkuman data korban dan dampak hingga 7 April 2026:

  • Total korban tewas: 14 (4 di Jnah, 7 di Kfarhata, 3 lainnya di wilayah selatan Lebanon).
  • Korban luka-luka: lebih dari 70 orang.
  • Pengungsi internal: lebih dari 1,2 juta orang.
  • Fasilitas kesehatan yang rusak: minimal 5 rumah sakit utama, termasuk Rafik Hariri University Hospital.
  • Kerusakan infrastruktur: jaringan listrik, jalur transportasi, dan gedung hunian bertingkat di Beirut.

Netanyahu menambahkan bahwa Israel akan terus menargetkan infrastruktur Hizbullah hingga ada jaminan keamanan di perbatasan utara. Ia menegaskan bahwa dukungan logistik dan intelijen dari Amerika Serikat tetap kuat, meski Washington berusaha menyeimbangkan tekanan politik domestik yang dipicu oleh ancaman Trump terhadap Iran.

Di sisi lain, pernyataan Trump pada 5 April menegaskan ancaman baru terhadap infrastruktur energi Iran jika gencatan senjata tidak tercapai sebelum 8 April. Sikap keras tersebut menambah ketegangan dalam negosiasi yang sudah rapuh, sementara negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran ke wilayah mereka.

Ketegangan ini menyoroti dilema geopolitik di kawasan Timur Tengah, di mana Lebanon menjadi medan pertempuran kedua antara Iran dan Israel. Dengan ribuan korban sipil dan kerusakan infrastruktur yang meluas, tekanan internasional untuk menghentikan permusuhan semakin meningkat, namun pernyataan tegas dari pemimpin-pemimpin utama menunjukkan bahwa solusi damai masih jauh dari jangkauan.

Situasi di Lebanon kini berada pada titik krusial, menuntut aksi cepat dari komunitas internasional untuk menghindari bencana kemanusiaan yang lebih besar. Jika tidak, perang yang kini melibatkan Israel, Hizbullah, Iran, dan Amerika Serikat berpotensi meluas ke wilayah lain, mengancam stabilitas regional secara keseluruhan.

Leave a Comment