IPD – 29 Maret 2026 | Juwono Sudarsono, tokoh senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia selama dua periode (1999-2000 dan 2004-2009), meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026, di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada pukul 13.45 WIB. Usianya saat wafat mencapai 84 tahun. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di kalangan pejabat negara, akademisi, dan masyarakat luas yang mengenal dedikasinya dalam bidang pertahanan serta pendidikan.
Kementerian Pertahanan melalui akun Instagram resmi menyampaikan belasungkawa resmi, menyebut Juwono sebagai sosok yang berperan penting dalam meletakkan fondasi pertahanan nasional. Pernyataan tersebut menegaskan kontribusi strategisnya dalam mengembangkan kebijakan pertahanan yang modern dan inklusif, serta menyoroti peranannya sebagai Menteri Pertahanan pertama yang berasal dari kalangan sipil, menandai perubahan paradigma setelah lebih dari empat dekade jabatan itu didominasi oleh militer.
Sebelum menapaki karier di dunia politik, Juwono menempuh pendidikan yang menonjol. Ia menyelesaikan gelar sarjana di Universitas Indonesia pada tahun 1965, kemudian melanjutkan studi magister (M.A.) di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, yang diraih pada tahun 1970. Tak berhenti di situ, ia kembali ke Eropa untuk menempuh program doktor (Ph.D.) di London School of Economics and Political Science, yang selesai pada tahun 1975. Latar belakang akademik yang kuat ini menjadi landasan bagi pemikiran kebijakan publiknya, khususnya dalam bidang pendidikan dan pertahanan.
Karier politik Juwono dimulai pada era reformasi. Pada kabinet Presiden BJ Habibie, ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, di mana ia berupaya memperkuat sistem pendidikan tinggi serta memperluas akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pengalaman ini memperdalam pemahamannya tentang peran pendidikan dalam pembangunan nasional.
Setelah itu, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Juwono dipercayakan menjadi Menteri Pertahanan. Penunjukan ini menandai titik penting karena ia menjadi Menteri Pertahanan pertama yang bukan berasal dari militer. Selama masa jabatan pertamanya, ia menekankan pentingnya modernisasi alutsista, peningkatan profesionalisme TNI, serta kerja sama internasional dalam bidang pertahanan.
Pada tahun 2002 hingga 2004, Juwono menjalani tugas diplomatik sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris, memperluas jaringan kerja sama bilateral Indonesia dengan negara-negara Eropa Barat. Pengalamannya di panggung internasional menambah perspektif strategis yang kemudian ia bawa kembali ke kementerian pertahanan.
Puncak kariernya kembali tercapai ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya sebagai Menteri Pertahanan pada 21 Oktober 2004, memulai periode kedua yang berlangsung hingga 2009. Selama masa tersebut, Juwono mengawal pelaksanaan reformasi struktural, peningkatan anggaran pertahanan, serta penguatan kerjasama pertahanan multilateral, termasuk partisipasi Indonesia dalam latihan bersama ASEAN dan forum pertahanan regional lainnya.
Setelah pensiun dari dunia politik, Juwono tetap aktif sebagai dosen, peneliti, dan penulis, menyumbangkan pemikiran tentang kebijakan pertahanan dan pendidikan melalui berbagai publikasi akademik. Keberadaannya tetap menjadi referensi bagi generasi penerus dalam merumuskan kebijakan strategis.
Upacara pemakaman Juwono direncanakan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan. Jenazahnya pertama kali disemayamkan pada Minggu, 29 Maret 2026, pukul 09.00 WIB, di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. Upacara semayam ini dihadiri oleh pejabat tinggi negara, keluarga, serta rekan-rekan kerja yang memberikan penghormatan terakhir. Setelah prosesi semayam, jenazah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata untuk dimakamkan. Upacara pemakaman dipimpin oleh Menteri Pertahanan saat itu, Sjafrie Sjamsoeddin, sesuai harapan keluarga Juwono yang menyampaikan rencana tersebut melalui putranya, Vishnu Juwono.
Berbagai elemen masyarakat menyatakan rasa kehilangan sekaligus apresiasi terhadap warisan yang ditinggalkan Juwono. Ia dikenang tidak hanya sebagai pejabat tinggi, tetapi juga sebagai akademisi yang mengedepankan integritas, dedikasi, dan semangat kebangsaan. Kontribusinya dalam mengintegrasikan perspektif sipil ke dalam kebijakan pertahanan membuka jalan bagi generasi pemimpin masa depan yang lebih inklusif dan berwawasan luas.
Secara keseluruhan, perjalanan hidup Juwono Sudarsono mencerminkan sinergi antara pendidikan tinggi, pelayanan publik, dan diplomasi. Kepergiannya menandai berakhirnya era seorang tokoh yang berhasil menjembatani dunia akademik dan pemerintahan, serta meninggalkan jejak yang akan terus dikenang dalam sejarah pertahanan dan pendidikan Indonesia.
