IPD – 23 April 2026 | Jakarta – Nama Rismon kembali menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan bahwa ia memiliki kepribadian ganda. Kontroversi ini muncul bersamaan dengan pernyataan-penyataan kontroversialnya mengenai legalitas ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang masih berlanjut lima hari sebelum ia mengajukan permohonan Rujuk (RJ). Situasi ini menambah kerumitan citra politikus muda yang tengah berupaya menata kembali kariernya di panggung nasional.
Menurut laporan media, Rismon kembali mengangkat isu ijazah Jokowi pada hari Senin, menjelang jadwal pengajuan RJ yang dijadwalkan pada hari Sabtu. Ia menuduh adanya ketidaksesuaian prosedur dalam penerbitan ijazah tersebut, meskipun tidak menyertakan bukti konkret. Pernyataan ini menimbulkan gelombang perdebatan di media sosial, dengan netizen terbagi antara yang mendukung kebebasan berpendapat dan yang menilai langkah tersebut sebagai taktik politik untuk mengalihkan perhatian publik.
Tak lama setelah itu, tokoh politik senior Roy Suryo menanggapi sikap Rismon dengan tajam. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi nasional, Roy Suryo menilai bahwa “pemikiran Rismon saat ini seolah-olah berubah-ubah, seperti memiliki kepribadian ganda”. Ia menekankan bahwa mengangkat isu-isu sensitif seperti ijazah presiden tanpa dasar yang kuat dapat merusak integritas proses politik dan menurunkan kepercayaan publik.
Pengamat politik menilai bahwa pernyataan Roy Suryo sekaligus mengingatkan Rismon akan konsekuensi etis dan hukum bila terus menyebarkan tuduhan tanpa bukti. “Jika seorang politisi ingin mengajukan RJ, ia harus menunjukkan konsistensi dan integritas. Menggunakan isu kontroversial sebagai bahan kampanye dapat berbalik merugikan diri sendiri,” ujar Dr. Ahmad Rizal, dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Sementara itu, tim hukum Rismon mengklaim bahwa semua pernyataan yang disampaikan adalah bagian dari hak kebebasan berpendapat yang dilindungi konstitusi. Mereka menambahkan bahwa proses pengajuan RJ masih dalam tahap akhir, dan tidak ada halangan administratif yang signifikan. Namun, mereka mengakui bahwa intensitas perdebatan publik dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap niat baik Rismon dalam mengajukan RJ.
- Rismon mengkritik legalitas ijazah Jokowi.
- Roy Suryo menilai Rismon memiliki kepribadian ganda.
- Pengajuan RJ Rismon dijadwalkan lima hari setelah kontroversi.
- Pengamat menilai langkah tersebut berisiko bagi citra politikus.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah partai politik menyatakan keprihatinannya atas dinamika ini. Partai A menegaskan pentingnya menjaga etika politik dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Sementara Partai B memberikan dukungan kepada Rismon, menyatakan bahwa setiap warganegara berhak menyuarakan pendapat, termasuk mengenai kebijakan pendidikan tinggi.
Sejumlah ahli hukum menyoroti bahwa tuduhan terhadap ijazah seorang presiden dapat menimbulkan implikasi pidana jika terbukti memfitnah. Namun, sampai kini belum ada bukti kuat yang menguatkan klaim Rismon. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah langkah tersebut bersifat strategis menjelang pengajuan RJ atau merupakan refleksi genuine concern yang belum terstruktur.
Di tengah kegaduhan tersebut, Rismon tetap konsisten bahwa ia akan mengajukan RJ pada tanggal yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa proses RJ akan dilaksanakan secara transparan dan akan melibatkan pihak berwenang untuk memastikan segala prosedur terpenuhi. Menurutnya, RJ bukan sekadar langkah politik, melainkan upaya memperbaiki citra pribadi dan melanjutkan kontribusi publik secara lebih konstruktif.
Kesimpulannya, kontroversi mengenai kepribadian ganda dan perdebatan ijazah Jokowi menambah lapisan kompleks pada proses pengajuan RJ Rismon. Bagaimana publik menanggapi kombinasi antara kebebasan berpendapat, integritas politik, dan proses hukum akan menjadi penentu utama dalam menilai kelanjutan karier politikus muda ini. Sementara itu, tekanan publik dan kritik dari tokoh senior seperti Roy Suryo menunjukkan bahwa dunia politik Indonesia terus menuntut standar etika yang lebih tinggi dari para aktor publik.
