IPD – 17 April 2026 | Di Pulau Makian, Maluku Utara, deretan pohon kenari yang berusia ratusan tahun menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dari era VOC hingga era pertambangan modern. Tanaman yang awalnya diperkenalkan oleh Belanda pada abad ke-17 sebagai pengganti cengkeh kini menjadi sumber penghidupan utama bagi ribuan keluarga. Namun, dengan meluasnya tambang mineral di wilayah tersebut, keberadaan kenari semakin terpinggirkan.
Sejarahnya bermula ketika VOC, yang kesulitan mengendalikan perdagangan cengkeh, melancarkan penebangan paksa melalui sistem hongitochten pada 1652–1654. Kebun cengkeh tradisional warga dipotong habis untuk menurunkan produksi dan menjaga monopoli harga. Untuk menenangkan penduduk, VOC menawarkan harga lebih tinggi untuk batang dan akar cengkeh, sehingga banyak petani menebang pohon mereka sendiri. Pada saat bersamaan, VOC memperkenalkan kenari sebagai tanaman pengganti. Selama abad ke-19, kenari berubah menjadi komoditas penting; penduduk belajar mengolahnya menjadi minyak goreng, bahkan sebelum minyak kelapa populer.
Hingga kini, metode panen kenari masih mempertahankan tradisi lama. Di Desa Bobawae, Kecamatan Makian Barat, perempuan bernama Asiani setiap pagi memanggul saloi, sebuah wadah anyaman tradisional, untuk menampung buah kenari yang dipetik dengan bantuan popoga, sebuah galah panjang. Suaminya, Ridwan (dikenal sebagai Idu), menebang buah dengan menundukkan galah ke pucuk pohon. Suara buah jatuh bersatu dengan desiran angin laut, menciptakan suasana yang tenang.
Sebuah pohon kenari dewasa dapat menghasilkan rata-rata 30 kilogram biji per musim, dengan dua musim panen dalam setahun. Petani yang mengumpulkan buah secara manual dapat mengisi 4–6 saloi per hari, masing-masing berisi 1–2 kilogram biji. Harga jual biji kenari kepada pengepul desa berfluktuasi antara Rp70.000 hingga Rp110.000 per kilogram, tergantung pada musim dan ketersediaan. Berikut adalah contoh rentang harga dan nilai tambah dalam rantai pemasaran:
| Tahap | Harga (Rp/kg) | Keterangan |
|---|---|---|
| Pengepul desa | 90.000 | Harga yang diterima petani |
| Pasar Kota Ternate | 110.000 | Harga jual akhir |
Selisih tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar nilai tambah diserap di luar tingkat petani. Hubungan sosial antara petani dan pengepul memperkuat ketergantungan ini; banyak petani meminjam uang dengan jaminan hasil panen, sehingga daya tawar mereka semakin lemah.
Potensi ekonomi kenari jauh melampaui sekadar penjualan biji mentah. UMKM Ifamoy di Kota Ternate, yang dikelola oleh Irmawati, mengolah biji kenari menjadi produk bernilai tambah seperti kue, makanan ringan dengan rasa himalaya, lada hitam, gula merah, serta minyak dan selai kenari. Cangkang kenari pun dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, arang, bahkan karbon aktif untuk pengolahan limbah industri. Sayangnya, manfaat tersebut belum merambah ke petani di tingkat desa, yang masih menjual biji secara mentah.
Kenari pernah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Makian. Riswan, seorang petani veteran, mengingatkan bahwa pendapatan dari kebun kenari memungkinkan anak-anaknya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Namun, kenaikan biaya hidup dan volatilitas harga kini menimbulkan kekhawatiran. “Tidak tahu apakah anak bungsuku masih bisa menjadi sarjana,” ujarnya dengan nada cemas.
Generasi muda semakin beralih ke pekerjaan di tambang yang menjanjikan penghasilan lebih stabil. Keputusan ini bukan semata-mata karena kurangnya rasa cinta pada tanah, melainkan pertimbangan ekonomi yang rasional. Akibatnya, kebun kenari kehilangan penerus, mempercepat proses marginalisasi sektor pertanian.
Ketimpangan struktural antara industri pertambangan dan pertanian semakin terlihat. Investasi, infrastruktur, dan kebijakan pembangunan lebih condong pada tambang, sementara akses jalan ke kebun kenari masih berupa jalur tanah berliku. Kondisi ini menghambat distribusi hasil panen dan menurunkan posisi tawar petani.
Solusi potensial meliputi pembentukan koperasi petani yang dapat menegosiasikan harga langsung dengan pembeli, serta program hilirisasi yang didukung pemerintah daerah. Pelatihan pengolahan produk kenari, penyediaan mesin penggiling, dan akses permodalan dapat meningkatkan nilai tambah di tingkat lokal. Jika berhasil, kenari dapat bertransformasi menjadi basis ekonomi berkelanjutan yang tidak bergantung pada sumber daya tak terbarukan.
Berbeda dengan tambang yang pada akhirnya akan habis, pohon kenari dapat terus berproduksi selamanya asalkan dirawat dan diwariskan. Dengan pengelolaan yang tepat, nilai ekonominya dapat meningkat, membuka lapangan kerja baru, dan menjaga kelestarian lingkungan. Selama masih ada tangan-tangan seperti Asiani dan Idu yang terus memanggul saloi tiap pagi, harapan akan kebangkitan kembali kenari di Pulau Makian tetap hidup.
Kenari bukan sekadar tanaman tua yang tersisa dari masa lalu; ia adalah simbol potensi ekonomi Maluku Utara yang belum sepenuhnya digali. Mengalihkan fokus pembangunan dari sekadar ekstraksi mineral ke pemanfaatan sumber daya agraris dapat membawa kesejahteraan yang lebih merata dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
