IPD – 10 April 2026 | Jumlah pengemudi layanan ride‑hailing di Indonesia terus meningkat tajam, sementara pendapatan rata‑rata mitra Gojek, Grab, dan Maxim menunjukkan tren penurunan. Fenomena ini memicu desakan kuat dari asosiasi pengemudi, seperti Garda dan Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), untuk memperbaiki struktur bagi hasil serta menambah fitur aplikasi yang lebih mendukung produktivitas di lapangan.
Menurut Ketua Umum Garda, Raden Igun Wicaksono, keberlanjutan bisnis transportasi daring sangat bergantung pada keadilan pembagian pendapatan dan kepatuhan regulasi. Ia menuntut transparansi penuh dalam skema bagi hasil, dengan proporsi ideal 90% untuk pengemudi dan 10% untuk platform. “Rincian potongan harus tercantum jelas di setiap transaksi, sehingga tidak ada ruang abu‑abu yang merugikan mitra,” ujarnya dalam wawancara dengan Bisnis pada 8 April 2026.
Garda juga mengusulkan serangkaian fitur baru yang dianggap dapat menstabilkan pendapatan driver. Di antaranya:
- Pengaturan jam operasional fleksibel, memungkinkan driver menentukan batas waktu kerja harian.
- Pilihan jarak layanan yang dapat disesuaikan, memberi kebebasan memilih order dalam radius tertentu.
- Hak membatalkan pesanan tanpa risiko suspend, sehingga driver tidak terpaksa menuruti order yang merugikan.
- Dashboard transparan yang menampilkan detail potongan, pajak, dan bonus secara real‑time.
Di sisi lain, SPAI yang dipimpin oleh Lily Pujiati menuntut perubahan status pengemudi menjadi pekerja formal. SPAI berargumen bahwa skema kemitraan saat ini gagal memberikan kepastian penghasilan dan melanggar Undang‑Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. “Jika driver diperlakukan sebagai karyawan, upah minimum dapat dijamin dan potongan layanan berlebih akan terhapus,” tegas Lily dalam pernyataannya.
Para ekonom dari Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), yang dipimpin oleh Nailul Huda, menilai bahwa isu utama bukan sekadar persentase pembagian, melainkan pemerataan perlindungan sosial. Huda mengusulkan mekanisme baru di mana tarif dasar dihitung dari total biaya yang dibayarkan konsumen, termasuk biaya tambahan seperti layanan premium atau biaya layanan ekstra. Dengan pendekatan ini, rasio 80% bagi driver dapat dianggap adil, asalkan semua komponen biaya masuk dalam perhitungan.
Selain tuntutan struktural, driver juga mengeluhkan dampak inovasi AI yang dikembangkan oleh platform. Dalam laporan berjudul “Dilema Inovasi Ojol: Antara Ambisi AI Aplikator dan Keluhan ‘Jarak Jemput’ Driver”, disebutkan bahwa algoritma penentuan jarak dan harga kini didominasi oleh kecerdasan buatan yang lebih mengutamakan efisiensi platform ketimbang kesejahteraan driver. AI tersebut cenderung menurunkan jarak tempuh yang menguntungkan driver, sehingga menurunkan rata‑rata pendapatan per order.
Pemerintah diharapkan menjadi pengatur pasar yang netral, namun hingga kini peran tersebut masih minim. Igun menilai bahwa regulator harus berperan sebagai integrator ekosistem, menyeimbangkan kepentingan profitabilitas platform dengan kesejahteraan pengemudi. Tanpa kebijakan yang tegas, ketegangan antara driver, platform, dan pemerintah diprediksi akan semakin intens.
Data internal platform menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2026, jumlah driver terdaftar naik sebesar 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rata‑rata pendapatan harian per driver turun sekitar 12%, terutama disebabkan oleh peningkatan biaya operasional, termasuk bahan bakar, perawatan kendaraan, dan biaya asuransi yang terus naik.
Untuk mengatasi tekanan finansial, beberapa driver mulai bergabung dalam koperasi atau komunitas mandiri yang menawarkan layanan asuransi kesehatan kolektif dan pembelian bahan bakar secara grosir. Upaya ini menunjukkan adaptasi grassroots yang belum diakomodasi secara resmi oleh platform.
Secara keseluruhan, masa depan industri ride‑hailing di Indonesia bergantung pada kemampuan platform untuk mengintegrasikan fitur yang mendukung produktivitas driver, sekaligus menjamin perlindungan sosial yang memadai. Jika tidak, risiko eksodus driver ke sektor informal atau layanan kompetitor yang lebih ramah driver akan semakin tinggi.
