Emas Mencapai $4.800: Dolar Melemah, Imbal Hasil Treasury Naik, dan Permintaan Safe Haven Meningkat

IPD – 10 April 2026 | Harga emas (XAU/USD) terus menguat pada Kamis kemarin, menembus level $4.800 per troy ounce setelah serangkaian faktor fundamental dan teknikal memperkuat sentimen pembeli. Kelemahan dolar Amerika Serikat, penurunan imbal hasil obligasi Treasury, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama kenaikan logam mulia ini.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan kesiapan untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan Beirut, satu hari setelah serangan besar-besaran Israel menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon. Pernyataan tersebut menambah harapan akan adanya gencatan senjata, yang pada gilirannya memperkuat peran emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian.

Sementara itu, Selat Hormuz—jalur strategis yang menghubungkan Timur Tengah dengan pasar energi dunia—masih mengalami gangguan meski terdapat kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Data terbaru menunjukkan hanya lima kapal, termasuk satu kapal pengangkut minyak, yang berhasil melintasi selat pada 24 jam terakhir, dibandingkan dengan rata-rata 140 kapal per hari sebelum konflik.

Pengaruh geopolitik tersebut tercermin pada pasar energi, dengan minyak mentah WTI diperdagangkan di sekitar $95,60 per barel, turun 0,13 persen. Penurunan harga minyak berkontribusi pada pelemahan dolar, yang pada hari yang sama turun 0,30 persen dan indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 98,63.

Di sisi lain, imbal hasil Treasury AS berjangka 10 tahun menurun dua basis poin menjadi 4,279 persen. Penurunan tersebut meningkatkan daya tarik emas karena investor mencari aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap namun dapat melindungi nilai ketika obligasi menjadi kurang menarik.

Data ekonomi Amerika Serikat juga memberikan dukungan pada pergerakan emas. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal terakhir 2025 tumbuh hanya 0,5 persen secara tahunan, berada di bawah perkiraan 0,7 persen. Indeks Harga Pengeluaran Konsumen (PCE) inti pada Februari turun menjadi 3,0 persen YoY, selaras dengan ekspektasi pasar.

Pasar tenaga kerja AS tetap kuat; klaim tunjangan pengangguran awal meningkat menjadi 219 ribu, namun klaim berkelanjutan menurun menjadi 1,794 juta, terendah sejak Mei 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja masih dapat menyerap tekanan, meskipun ada indikasi perlambatan.

Ekspektasi para pelaku pasar terhadap kebijakan The Fed tetap stabil. Pasar uang memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 7,5 basis poin menjelang akhir tahun, menurut data Prime Market Terminal (PMT). Probabilitas pemotongan suku bunga tetap tinggi, yang pada gilirannya menurunkan biaya peluang memegang emas.

  • Dolar AS yang melemah meningkatkan nilai emas yang dihitung dalam mata uang lokal.
  • Penurunan imbal hasil Treasury meningkatkan permintaan safe haven.
  • Ketegangan Israel-Lebanon dan hambatan di Selat Hormuz menambah tekanan pada pasar risiko.

Agenda ekonomi Amerika Serikat pada hari Jumat akan menampilkan rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan Maret. Analis memproyeksikan kenaikan signifikan, dengan IHK utama diperkirakan naik dari 2,4 persen menjadi 3,3 persen, sementara IHK inti diprediksi naik menjadi 2,7 persen. Fokus pasar juga akan beralih ke Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan dan ekspektasi inflasi yang akan memberi petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter.

Dari sudut pandang teknikal, grafik harian emas menunjukkan pola shooting star pada Rabu, menandakan potensi pembalikan sementara. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) telah melintasi level netral 50, menandakan momentum pembeli mulai menguat. Jika harga berhasil menembus kembali level $4.800, langkah selanjutnya mengarah ke resistance di $4.857, level tertinggi harian 8 April.

Namun, jika emas turun di bawah Simple Moving Average (SMA) 20-hari di $4.690, tekanan jual dapat menguji SMA 100-hari di $4.656. Di bawah level tersebut, terendah harian 2 April berada di $4.553, yang dapat menjadi zona support penting bagi trader yang mengadopsi pendekatan short.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor makroekonomi—termasuk pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi, dan data ekonomi AS yang menunjukkan pertumbuhan melambat—bersama dengan risiko geopolitik yang masih tinggi, menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi emas. Investor institusional dan ritel diperkirakan akan terus menambah posisi logam kuning sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan volatilitas pasar.

Ke depan, pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh hasil rilis IHK dan data inflasi lainnya. Jika inflasi tetap di atas target The Fed, tekanan untuk menjaga kebijakan moneter longgar dapat memperpanjang rally harga emas. Sebaliknya, jika data menunjukkan penurunan inflasi yang tajam, dolar mungkin kembali menguat, menurunkan daya tarik emas.

Dalam konteks Indonesia, kenaikan harga emas global berdampak pada pasar domestik, terutama bagi investor ritel yang mengandalkan logam mulia sebagai alternatif investasi. Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah dapat memperkuat permintaan emas fisik di pasar lokal, sementara bank-bank di Indonesia terus menawarkan produk tabungan emas sebagai instrumen diversifikasi.

Dengan semua faktor tersebut, emas diproyeksikan tetap berada di zona bullish hingga akhir kuartal, kecuali terjadi perubahan drastis pada kebijakan moneter AS atau resolusi cepat atas konflik di Timur Tengah.

Leave a Comment