IPD – 10 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Perseteruan publik antara Haldy Sabri dan Ammar Zoni kembali menjadi sorotan utama media hiburan setelah Haldy mengkritik isi pledoinya yang menyebut nama istri mantan selebriti, Irish Bella. Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosialnya, Haldy menegaskan bahwa ia tidak menerima istri Ammar masih dibahas secara terus‑menerus, dan secara tegas meminta Ammar untuk “move on” dari masalah yang melibatkan Irish Bella.
Insiden ini bermula ketika Ammar Zoni, suami dari aktris Irish Bella, memposting sebuah pledoin di Instagram Stories yang menyinggung kasus perseteruan hukum yang melibatkan Haldy Sabri. Pledoin tersebut menyebutkan nama Irish Bella secara tidak langsung, memicu spekulasi bahwa Ammar masih berusaha menyoroti permasalahan keluarganya di ruang publik. Haldy, yang dikenal tegas dalam menanggapi hal‑hal pribadi yang dibawa ke ranah media, segera merespon dengan mengkritik isi pledoin tersebut, menuding bahwa Ammar masih menjerat istri mantannya dalam perdebatan yang seharusnya sudah selesai.
Menanggapi kritik tersebut, Ammar Zoni mengeluarkan pernyataan permintaan maaf di platform yang sama. Dalam tulisan yang singkat namun lugas, ia menyatakan, “Saya tidak berniat menyinggung atau memperkeruh situasi. Jika ada yang tersinggung, saya mohon maaf.” Ia menambahkan bahwa tujuan pledoin tersebut semata‑mata untuk menyampaikan fakta terkait kasus hukum yang melibatkan Haldy, bukan untuk menyerang pribadi Irish Bella. Ammar menegaskan pula bahwa ia menghormati keputusan Haldy dan berjanji tidak akan lagi membahas hal yang bersifat pribadi dalam konteks publik.
Reaksi netizen beragam. Sebagian besar menganggap Ammar sudah melakukan langkah tepat dengan meminta maaf, sementara yang lain menilai bahwa permintaan maaf tersebut masih belum cukup karena pledoin awalnya tetap menyentuh isu sensitif. Di sisi lain, pendukung Haldy Sabri menyambut baik sikap tegasnya dan menilai bahwa Haldy berhak menuntut batasan dalam pembicaraan publik tentang keluarganya. Mereka menambahkan bahwa publikasi berulang tentang masalah pribadi dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi semua pihak yang terlibat.
Para pakar komunikasi menyoroti pentingnya etika dalam penggunaan media sosial, terutama bagi publik figur. Menurut Dr. Rina Wulandari, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, “Pledoin atau pernyataan singkat di media sosial memang menjadi cara cepat untuk menyampaikan pendapat, namun selebriti harus lebih berhati‑hati agar tidak menimbulkan konflik yang tidak perlu. Permintaan maaf yang tulus dan penarikan kembali pernyataan yang menyinggung adalah langkah yang tepat untuk meredakan ketegangan.”
Sementara itu, tim hukum Haldy Sabri menegaskan bahwa mereka tidak akan menutup mata terhadap segala bentuk pencemaran nama baik yang terjadi di ruang digital. Namun, mereka juga menambahkan bahwa saat ini fokus utama adalah mencapai penyelesaian damai melalui dialog, bukan melalui proses hukum yang berlarut‑larut.
Kasus ini menambah deretan perseteruan publik yang melibatkan Haldy Sabri dalam beberapa tahun terakhir. Sejak pernikahannya dengan Irish Bella pada tahun 2022, Haldy sering menjadi sorotan karena dinamika hubungan rumah tangga yang rumit. Meski demikian, Haldy tetap melanjutkan kariernya di dunia hiburan sebagai aktor dan presenter, serta terus berusaha menjaga citra profesional di depan publik.
Di akhir pekan, Ammar Zoni kembali muncul di media sosial dengan pesan yang menekankan pentingnya menjaga privasi keluarga. Ia menulis, “Keluarga kami membutuhkan ruang untuk menyelesaikan masalah secara pribadi tanpa campur tangan publik. Kami berharap semua pihak dapat menghormati batasan tersebut.” Pernyataan ini tampak sebagai upaya memperbaiki hubungan yang sempat tegang dengan Haldy dan menegaskan komitmen untuk tidak mengangkat kembali isu yang sama di masa mendatang.
Secara keseluruhan, episode ini menjadi contoh nyata bagaimana interaksi di media sosial dapat memicu konflik yang meluas, terutama ketika melibatkan tokoh publik. Permintaan maaf Ammar Zoni dan sikap terbuka Haldy Sabri untuk dialog menjadi langkah positif dalam meredakan ketegangan, sekaligus mengingatkan semua pihak akan pentingnya etika berkomunikasi di era digital.
Kesimpulannya, meski perdebatan ini belum sepenuhnya selesai, kedua belah pihak menunjukkan niat untuk menyelesaikannya secara damai. Publik diharapkan dapat memberi ruang bagi kedua keluarga untuk mengatasi persoalan pribadi tanpa menambah beban melalui spekulasi berlebih di media sosial.
