IPD – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kembali mencuri perhatian pasar modal setelah mengumumkan dividen luar biasa senilai Rp383 per saham, yang setara dengan yield sekitar 8,1 persen. Angka ini menempatkan Mandiri di antara sekuritas yang menawarkan imbal hasil tertinggi di sektor perbankan, sekaligus menegaskan posisi bank BUMN dalam ekosistem keuangan digital yang terus berkembang.
Pengumuman dividen tersebut tidak lepas dari rangkaian inovasi yang diluncurkan oleh Mandiri selama setahun terakhir. Salah satu inisiatif paling menonjol adalah peluncuran layanan pusat panggilan bebas pulsa melalui fitur Livin’ Call, yang terintegrasi dalam aplikasi Livin’ by Mandiri. Layanan ini memungkinkan nasabah melakukan panggilan tanpa biaya tambahan, meningkatkan interaksi digital dan menambah nilai layanan bagi konsumen.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai bahwa keberhasilan “Super App” Livin’ by Mandiri telah menjadi pendorong utama pertumbuhan fee‑based income (pendapatan berbasis komisi). Menurutnya, digitalisasi yang berhasil menurunkan Cost‑to‑Income Ratio (CIR) Mandiri, sehingga efisiensi operasional kini mulai menyaingi kompetitor utama seperti BBCA. Nafan juga menyoroti keunggulan Mandiri dalam ekosistem BUMN dan Danantara, yang diproyeksikan akan menambah permintaan layanan perbankan korporasi berskala besar.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menambahkan bahwa volume transaksi melalui Livin’ by Mandiri terus meningkat tajam. Hingga Februari 2026, total transaksi mencapai lebih dari 738,7 juta, naik sekitar 28 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong oleh adopsi luas layanan digital, mulai dari pembayaran tagihan, pembelian produk digital, hingga transfer dana antar individu dan UMKM.
Peningkatan aktivitas digital ini berimbas pada pendapatan berbasis komisi. Livin’ by Mandiri mencatat pendapatan sebesar Rp625 miliar, tumbuh 45,3 persen YoY, sementara platform wholesale Kopra by Mandiri menghasilkan Rp421 miliar, naik 29,3 persen. Pendapatan tambahan ini memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan dividend payout tanpa mengorbankan likuiditas.
Berikut adalah ringkasan data keuangan utama yang mendukung keputusan dividen jumbo:
| Item | 2025 | 2026 (Proyeksi) |
|---|---|---|
| Fee‑Based Income | Rp5,8 triliun | Rp6,4 triliun |
| Cost‑to‑Income Ratio | 38,5% | 36,9% |
| Total Transaksi Livin’ | 580 juta | 738,7 juta |
| Dividen per Saham | Rp350 | Rp383 |
| Yield Dividen | 7,2% | 8,1% |
Data di atas menunjukkan bagaimana digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga menciptakan aliran pendapatan baru yang stabil. Dengan margin biaya yang menurun, Mandiri dapat menyalurkan lebih banyak laba kepada pemegang saham melalui dividen.
Selain faktor internal, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia memberikan dukungan tambahan. Pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, serta peningkatan investasi dalam energi baru dan terbarukan diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan pembiayaan korporat dalam skala besar. Mandiri, sebagai bank dengan jaringan luas dan keahlian dalam sindikasi kredit serta manajemen kas, berada pada posisi yang menguntungkan untuk menangkap peluang tersebut.
Investor yang mengincar kombinasi income dan capital gain kini melihat BMRI sebagai pilihan menarik. Dengan dividend yield mendekati 8,1 persen dan potensi kenaikan nilai saham berkat digitalisasi, ekspektasi total return menjadi semakin optimis. Analisis Nafan menegaskan bahwa dividen yang tinggi, dipadukan dengan prospek pertumbuhan pendapatan fee‑based, menambah daya tarik BMRI di tengah volatilitas pasar.
Kesimpulannya, dividen jumbo BMRI bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil sinergi antara strategi digital yang agresif, peningkatan efisiensi operasional, serta posisi strategis dalam ekosistem BUMN. Jika tren digitalisasi terus berlanjut, serta ekonomi Indonesia tetap pada jalur pertumbuhan yang kuat, kemungkinan besar Mandiri akan melanjutkan kebijakan dividend payout tinggi, memberikan keuntungan berkelanjutan bagi pemegang saham.
