IPD – 02 April 2026 | JAKARTA, 2 April 2026 – Pemerintah Indonesia resmi menyelesaikan serangkaian reformasi pasar modal yang diminta oleh penyedia indeks global, menandai langkah penting dalam upaya memulihkan kepercayaan investor setelah peringatan tajam dari MSCI pada awal tahun ini. Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengonfirmasi pada konferensi pers hari Kamis bahwa semua langkah perbaikan telah diterapkan, termasuk publikasi daftar saham dengan konsentrasi pemegang saham tinggi yang akan dirilis setelah penutupan pasar.
Reformasi ini dimulai setelah MSCI mengeluarkan peringatan bahwa Indonesia berisiko diturunkan peringkat indeksnya karena kurangnya transparansi mengenai kepemilikan saham dan praktik perdagangan yang dinilai rawan manipulasi. Dampak langsung peringatan tersebut menelan sekitar US$120 miliar nilai pasar pada Bursa Efek Jakarta (IDX), sekaligus memicu penurunan indeks lebih dari 17 persen dalam beberapa bulan pertama 2026, menjadikannya salah satu pasar terburuk di Asia pada periode tersebut.
Berikut poin utama reformasi yang telah diimplementasikan:
- Peningkatan minimum free float saham yang dapat diperdagangkan menjadi 15 persen, dua kali lipat dari ketentuan sebelumnya, guna memperluas likuiditas dan mengurangi peluang manipulasi harga.
- Penerbitan regulasi pelaksanaan free float yang memberikan perusahaan hingga tiga tahun untuk menyesuaikan struktur kepemilikan.
- Pengungkapan data pemegang saham secara lebih rinci, termasuk publikasi daftar saham dengan konsentrasi pemegang saham tinggi untuk meningkatkan transparansi.
- Peningkatan pengawasan terhadap praktik manipulasi pergerakan saham, dengan komitmen OJK untuk menindak tegas pelanggaran.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menstabilkan pasar dan menarik kembali aliran dana asing. Pada Rabu (1/4), indeks IHSG mencatat kenaikan 1,92 persen, menutup pada level 7.184, didorong oleh aksi beli pada saham-saham unggulan LQ45 seperti Bumi Resources (BUMI), Nusantara Comp (NCKL), dan Indofood CBP (INCO). Kenaikan ini menandai pergeseran positif setelah minggu-minggu volatilitas tinggi.
Sementara itu, data perdagangan di platform alternatif Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 110,5 triliun pada kuartal pertama 2026, mengindikasikan diversifikasi minat investor ke instrumen derivatif selain saham. Meskipun detail lengkap tidak tersedia karena kendala akses, angka tersebut menegaskan besarnya volume aktivitas keuangan di pasar domestik.
Para analis menilai bahwa kebijakan free float yang lebih ketat akan memperluas basis kepemilikan saham, mengurangi dominasi pemegang saham mayoritas, dan meningkatkan kepercayaan investor institusional. “Kebijakan ini sejalan dengan standar internasional yang diterapkan oleh indeks seperti MSCI dan FTSE. Jika perusahaan dapat memenuhi persyaratan dalam jangka waktu yang ditetapkan, kami perkirakan IDX akan kembali masuk dalam komposisi utama indeks global dalam 12 sampai 18 bulan ke depan,” ujar seorang analis senior di sebuah bank investasi terkemuka.
Namun, tantangan belum selesai. OJK tetap mengawasi praktik perdagangan harian untuk mencegah manipulasi harga yang dapat memicu penurunan kembali. Hasan Fawzi menegaskan, “Kami tidak akan toleransi terhadap praktik tidak wajar. Setiap pelanggaran akan mendapat sanksi tegas untuk melindungi integritas pasar.”
Secara keseluruhan, reformasi yang diselesaikan ini menandakan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperbaiki tata kelola pasar modal, meningkatkan transparansi, dan memperkuat likuiditas. Jika langkah-langkah ini dijalankan secara konsisten, prospek pasar saham Indonesia diperkirakan akan kembali menarik minat investor global, mengurangi volatilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
