Zebra Cross Pac-Man di Tebet: Warga Gambar Ulang Jalanan, Dinas Bina Marga DKI Dihebohkan

IPD – 02 April 2026 | Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, yang biasanya dipenuhi garis putih sebagai penanda aman bagi pejalan kaki, belakangan ini menjadi sorotan publik setelah sejumlah titik zebra cross menghilang atau warnanya memudar. Hilangnya marka jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna, melainkan juga menimbulkan risiko keselamatan, terutama di area padat aktivitas seperti perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan permukiman.

Isu ini pertama kali mencuat ke permukaan melalui konten kreator bernama Ijoel, seorang aktivis media sosial yang menyoroti masalah infrastruktur publik melalui akun Instagram dan TikTok-nya. Ijoel mengungkapkan bahwa setidaknya ada lima titik zebra cross di kawasan Tebet‑Pancoran yang kondisinya rusak atau tidak ada sama sekali. Menurutnya, kerusakan tersebut muncul setelah proses perbaikan jalan yang dilakukan secara bertahap, namun tanpa disertai penggambaran ulang marka jalan yang memadai.

Pengaduan Ijoel tidak berhenti pada platform digital; ia juga melaporkan temuan tersebut ke pihak kecamatan serta melalui aplikasi JAKI (Jalan Aman Kita). Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas dari Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Keterlambatan respons ini memicu rasa frustrasi di kalangan warga, terutama mereka yang mengandalkan jalur pedestrian untuk beraktivitas sehari‑hari.

Menanggapi situasi yang semakin menegangkan, Ijoel bersama sejumlah seniman mural memutuskan mengambil langkah aksi langsung. Pada libur Lebaran, mereka memilih satu titik zebra cross paling strategis di dekat lampu merah Pancoran untuk digambar ulang. Namun, alih‑alih membuat zebra cross konvensional, mereka menambahkan elemen visual berupa karakter ikonik game Pac‑Man. Kombinasi antara fungsi keselamatan (80 persen) dan unsur seni (20 persen) ini berhasil menarik perhatian publik dan media.

Gambar Pac‑Man tersebut bukan sekadar estetika semata; ia menjadi simbol perlawanan kreatif terhadap kelalaian pemerintah dalam menjaga fasilitas publik. Sejak aksi tersebut dipublikasikan, citra zebra cross Pac‑Man menjadi viral di media sosial, menghasilkan ribuan like, share, dan komentar yang menuntut perbaikan segera. Warga lain pun mulai melaporkan masalah serupa di daerah lain, menandakan bahwa permasalahan marka jalan tidak terbatas pada Tebet saja.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta akhirnya merespons dengan mengirimkan tim teknis pada Selasa, 31 Maret 2026, untuk menggambar ulang zebra cross yang rusak di depan Universitas Sahid Jakarta. Pekerjaan ini mencakup penandaan ulang garis putih dan penambahan cat yang tahan lama, meskipun tidak menyertakan elemen Pac‑Man. Pihak dinas menyatakan bahwa proses perbaikan sedang dalam tahap finalisasi dan akan meluas ke titik‑titik lain yang dilaporkan warga.

Meski demikian, kritik tetap mengalir. Beberapa pengamat kebijakan publik menilai bahwa respons reaktif ini tidak cukup; diperlukan mekanisme monitoring dan pemeliharaan berkala agar marka jalan tidak kembali terabaikan. Mereka menyarankan integrasi laporan warga melalui aplikasi digital dengan jadwal inspeksi rutin dari Dinas Bina Marga.

Kasus zebra cross Pac‑Man di Tebet memperlihatkan dinamika baru dalam partisipasi warga terhadap kebijakan kota. Dengan memanfaatkan platform media sosial, warga tidak hanya menyuarakan keluhan, tetapi juga menghasilkan solusi kreatif yang menggabungkan fungsi dan estetika. Keberhasilan aksi ini memberi pelajaran penting bagi pemerintah daerah: keterlibatan publik harus diakomodasi secara proaktif, bukan sekadar sebagai reaksi setelah masalah meluas.

Ke depan, diharapkan Dinas Bina Marga DKI Jakarta dapat memperkuat sinergi dengan komunitas kreatif, mempercepat proses perbaikan marka jalan, dan membangun sistem pelaporan yang transparan. Upaya bersama ini akan memastikan keamanan pejalan kaki tetap terjaga, sekaligus menjadikan ruang publik sebagai kanvas kolaboratif antara pemerintah dan warga.

Leave a Comment