IPD – 31 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menimbulkan kehebohan internasional dengan pernyataan terbuka yang menegaskan keinginannya untuk mengambil alih minyak Iran. Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan pada akhir pekan lalu, Trump menyatakan, “Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS bertanya kenapa saya melakukannya. Mereka orang bodoh.” Pernyataan tersebut menambah ketegangan di tengah konflik yang sudah berlangsung antara AS dan Iran sejak akhir Februari 2026.
Trump menegaskan bahwa AS memiliki sejumlah opsi, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran. Pulau Kharg, yang terletak sekitar 25 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia, mengelola hampir 90 persen ekspor minyak Tehran. Dengan luas setara sepertiga Manhattan, pulau ini dikenal sebagai “Pulau Terlarang” karena pengawasan militer yang ketat.
Menurut data yang dikutip dari Reuters, Iran menyumbang sekitar 4,5 persen produksi minyak dunia dengan output harian mencapai 3,3 juta barel minyak mentah serta 1,3 juta barel kondensat dan cairan lainnya. Minyak Iran dipindahkan setiap hari dari ladang utama seperti Ahvaz, Marun, dan Gachsaran melalui jaringan pipa ke fasilitas di Kharg. Dokumen CIA tahun 1984 menandai fasilitas tersebut sebagai elemen paling vital dalam sistem minyak Iran, menandakan pentingnya pulau itu bagi perekonomian negara.
Rencana ambisius Trump tidak muncul begitu saja. Pentagon dilaporkan sedang menyiapkan opsi invasi darat terbatas selama beberapa minggu di Iran, termasuk kemungkinan serangan terhadap terminal minyak di Pulau Kharg serta lokasi strategis di dekat Selat Hormuz. Opsi tersebut, yang disampaikan oleh pejabat militer kepada The Washington Post, tidak berarti AS sudah memutuskan untuk melancarkan operasi penuh, melainkan memberikan pilihan taktis kepada Panglima Tertinggi. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa persiapan tersebut masih berada pada tahap perencanaan.
Sejumlah ribuan personel militer AS telah dikerahkan ke wilayah Timur Tengah sebagai respons terhadap eskalasi konflik. United States Central Command (CENTCOM) melaporkan kedatangan sekitar 3.500 tentara, termasuk unit Marinir ke-31, serta pesawat tempur dan aset amfibi. Penempatan pasukan tambahan ini bertujuan memperkuat kehadiran AS di kawasan, sekaligus mempersiapkan operasi yang mungkin memakan waktu lama di Pulau Kharg.
Trump membandingkan rencananya dengan strategi AS di Venezuela, di mana Washington berhasil menguasai sektor minyak setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari 2026. Ia menambahkan bahwa pilihan untuk menguasai sumber energi strategis tidak terbatas pada satu wilayah, melainkan bagian dari kebijakan luar negeri yang menekankan kontrol atas sumber daya energi global.
Namun, para analis menilai bahwa langkah tersebut membawa risiko tinggi. Penyerangan Pulau Kharg dapat memicu respons militer Iran yang kuat, meningkatkan kemungkinan serangan drone, rudal, atau bahan peledak improvisasi terhadap pasukan AS. Selain itu, aksi tersebut dapat memperburuk harga minyak dunia yang telah naik lebih dari 50 persen dalam sebulan terakhir, mendorong harga Brent melampaui US$116 per barel.
Reaksi domestik di AS pun beragam. Sebagian warga dan anggota Kongres mempertanyakan legalitas dan moralitas mengambil alih sumber daya negara lain, sementara pendukung Trump menilai langkah ini sebagai upaya mengamankan kepentingan energi nasional. Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, menyatakan bahwa penghancuran fasilitas di Kharg dapat melumpuhkan ekonomi Iran dan memperlemah rezim Tehran.
Dengan berbagai skenario yang masih dalam tahap penilaian, belum ada keputusan final dari Gedung Putih. Namun, pernyataan tegas Trump menegaskan bahwa AS memiliki banyak pilihan, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg untuk jangka waktu tertentu, dan siap menempatkan pasukan di lokasi tersebut bila diperlukan. Situasi ini menuntut pemantauan ketat dari komunitas internasional, mengingat implikasinya terhadap stabilitas regional dan pasar energi global.
