IPD – 03 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (1 April 2026) menyampaikan bahwa operasi militer terhadap Iran hampir mencapai tujuan strategis utama. Dalam pidato utama yang disiarkan langsung dari Gedung Putih, ia menegaskan bahwa pasukan AS telah meraih “kemenangan yang cepat, tepat, dan luar biasa” selama empat pekan terakhir, sekaligus mengumumkan rencana serangan lebih keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Trump menyatakan, “Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan, dan membawa mereka kembali ke zaman batu.”
Pernyataan tersebut diikuti oleh ancaman eksplisit untuk menargetkan infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Trump menegaskan Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui selat tersebut, sehingga beban utama ada pada negara‑negara pengguna energi yang bergantung pada jalur itu.
Reaksi Tehran tidak memakan waktu lama. Komando militer Khatam Al‑Anbiya mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan Amerika Serikat dan Israel akan serangan balasan yang lebih besar. “Dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, perang ini akan terus berlanjut hingga kalian mengalami penghinaan, aib, dan penyesalan permanen,” kata juru bicara militer Iran. Pada hari yang sama, pasukan Iran meluncurkan rudal balistik ke wilayah Tel Aviv, memicu sistem pertahanan udara Israel serta sirene peringatan serangan udara di kota tersebut. Serangan terjadi saat perayaan Paskah Yahudi, memaksa sebagian warga Israel berlindung di bunker.
Selain Iran, kelompok militan Lebanon Hezbollah juga melancarkan serangan drone dan roket ke Israel utara. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.300 korban jiwa sejak awal konflik, menambah tekanan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Di dalam negeri, dukungan publik Amerika Serikat terhadap konflik ini menurun tajam. Survei Ipsos untuk Reuters mencatat 60 persen responden menolak perang, sementara hanya 35 persen yang mendukungnya. Mayoritas, yaitu 66 persen, menginginkan AS mengakhiri keterlibatan militer secepat mungkin, meskipun tujuan strategis belum sepenuhnya tercapai.
Pernyataan Trump juga menimbulkan gejolak pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak ke kisaran $106–108 per barel (sekitar Rp1,8 juta), sementara minyak mentah Amerika melewati $104 per barel. Harga bensin di AS menembus $4 per galon, level tertinggi sejak 2022.
Di Iran, pejabat pemerintah mengecam retorika Trump sebagai “tidak masuk akal” namun berjanji akan memperkuat tekad nasional. Juru bicara presiden Iran, Elias Hazrati, menegaskan bahwa pernyataan Washington justru memicu semangat perlawanan rakyat Iran.
Analisis militer menilai bahwa klaim Trump mengenai penghancuran total angkatan laut, angkatan udara, serta program misil balistik Iran belum dapat diverifikasi secara independen. Pengamatan satelit menunjukkan beberapa instalasi militer Iran masih beroperasi, meskipun mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara gabungan AS‑Israel yang dimulai akhir Februari 2026.
Sejumlah pakar keamanan menilai bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memperluas konflik ke wilayah Teluk Persia, mengancam keamanan jalur pengiriman energi dunia. Mereka mengingatkan bahwa tindakan militer yang intensif dalam waktu singkat dapat memicu respons balasan yang tidak terduga, termasuk serangan siber terhadap infrastruktur kritis di kedua belah pihak.
Kesimpulannya, ancaman keras Donald Trump terhadap Iran dan balasan militer Tehran menandai titik kritis dalam konflik Timur Tengah. Sementara Amerika Serikat menegaskan keunggulan militer dan kesiapan memperluas serangan, Iran dan sekutunya memperlihatkan kemampuan balasan yang signifikan. Dampak politik domestik di AS, fluktuasi harga energi, serta risiko eskalasi regional menjadikan situasi ini sangat dinamis dan menuntut pemantauan terus‑menerus.
