Tragedi KM Nazila 05 di Perairan Taliabu: 21 ABK Selamat, Aksandri Kitong Minta Maaf, dan Dampaknya bagi Pelayaran di Maluku Utara

IPD – 01 April 2026 | Insiden kapal penumpang KM Nazila 05 yang tenggelam di perairan utara Pulau Taliabu, Maluku Utara, kembali menjadi sorotan utama media regional pada akhir Maret 2026. Pada Minggu, 29 Maret, kapal yang berangkat dari Taliabu menuju Desa Kema, Sulawesi Utara, dilaporkan mengalami patah haluan akibat cuaca buruk. Pada pukul 04.00 WIT, kapal terbalik dan tenggelam, memaksa seluruh 21 anggota kru melakukan evakuasi mandiri dengan perahu karet.

Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Kepala Basarnas Palu, Muh Rizal, segera meluncurkan operasi pencarian. Menggunakan kapal SAR Bhisma dan pesawat RB 216 Gorontalo, tim menelusuri area yang diperkirakan berada sekitar 16 mil laut dari titik kejadian. Pada sore hari yang sama, semua 21 ABK berhasil ditemukan dalam keadaan selamat dan dievakuasi ke RB 216 Gorontalo untuk dibawa kembali ke Pelabuhan Pelindo Gorontalo. Operasi dinyatakan selesai setelah seluruh korban selamat dipulangkan, dan Basarnas menegaskan pentingnya pemeriksaan cuaca sebelum berlayar.

Sementara itu, peristiwa ini memicu reaksi publik yang meluas, terutama di wilayah Maluku Utara yang bergantung pada transportasi laut untuk mobilitas penduduk dan distribusi barang. Di tengah keprihatinan atas kecelakaan, muncul kabar lain yang menambah dinamika berita: Aksandri Kitong, tokoh masyarakat setempat yang sebelumnya terlibat dalam kontroversi politik lokal, secara terbuka meminta maaf kepada warga atas pernyataan yang dianggap menyinggung korban tragedi laut tersebut.

Aksandri Kitong, yang dikenal sebagai aktivis sosial dan mantan pejabat daerah, sebelumnya mengeluarkan komentar yang menuduh pihak kapal tidak mematuhi prosedur keselamatan. Kritik tersebut menuai protes keras dari keluarga korban dan organisasi kemanusiaan yang menilai pernyataan tersebut tidak sensitif. Pada hari Selasa, 31 Maret, Kitong muncul di hadapan media lokal, menyampaikan permohonan maaf secara tulus dan menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya peningkatan keselamatan pelayaran di wilayah perairan Maluku Utara. Ia menambahkan bahwa penyesalan tersebut didorong oleh fakta bahwa tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran bersama, bukan bahan perdebatan politik.

Respons pemerintah provinsi Maluku Utara terhadap kedua peristiwa tersebut terlihat melalui langkah konkret. Gubernur Maluku Utara, Muhammad Alwi, melalui kantor pemerintah daerah, menginstruksikan Dinas Perhubungan untuk meninjau kembali standar operasional kapal penumpang di wilayah perairan yang rawan gelombang tinggi. Selain itu, Basarnas mengumumkan akan meningkatkan frekuensi patroli SAR dan memperluas jaringan pemantauan cuaca maritim dengan bantuan satelit.

Para ahli kelautan menilai bahwa faktor cuaca ekstrem di wilayah perairan Taliabu memang menjadi ancaman serius. Menurut Dr. Rudi Hartono, dosen Fakultas Kelautan Universitas Hasanuddin, pola angin monsun yang berubah akibat pemanasan global dapat meningkatkan frekuensi badai tropis di wilayah Indonesia timur. Ia menyarankan agar operator kapal memperkuat struktur haluan, meningkatkan pelatihan kru dalam prosedur evakuasi, serta mengadopsi sistem peringatan dini berbasis data satelit.

Di sisi lain, masyarakat setempat menanggapi permintaan maaf Aksandri Kitong dengan campuran rasa lega dan keingintahuan. Sebagian mengapresiasi sikapnya yang terbuka, sementara yang lain menuntut tindakan nyata, seperti alokasi dana untuk perbaikan kapal penumpang dan pelatihan keselamatan bagi para nelayan. Kelompok relawan SAR lokal juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan otoritas dalam penyuluhan keselamatan laut.

Secara keseluruhan, insiden KM Nazila 05 menegaskan kembali pentingnya koordinasi antara otoritas maritim, tim SAR, dan komunitas pelayaran. Keberhasilan penyelamatan seluruh ABK tanpa korban jiwa menunjukkan efektivitas respon cepat Basarnas, namun juga mengungkap celah dalam prosedur navigasi yang harus diperbaiki. Permintaan maaf Aksandri Kitong menambah dimensi sosial-politik, mengingat pernyataan publik tokoh politik dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penanganan bencana. Kedepannya, diharapkan langkah-langkah preventif yang lebih kuat dapat mencegah tragedi serupa, sekaligus memperkuat rasa solidaritas di antara semua pemangku kepentingan di perairan Maluku Utara.

Leave a Comment