Tragedi Kebakaran SPBE Cimuning: Sekuriti Suyadi Meninggal, Warga Dapat Bantuan Darurat

IPD – 06 April 2026 | Bekasi, 5 April 2026 – Kebakaran hebat yang melanda Stasiun Pengisian Bahan Bakar Ekstra (SPBE) Cimuning pada hari Senin sore menewaskan satu orang dan meninggalkan puluhan korban luka bakar serius. Sekuriti SPBE, Suyadi, yang berusia 45 tahun, dinyatakan meninggal dunia pada hari Kamis setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi.

Insiden terjadi sekitar pukul 16.30 WIB ketika api tiba‑tiba menyambar area depot bahan bakar. Menurut saksi mata, percikan api muncul dari salah satu tangki penyimpanan yang diduga mengalami korsleting listrik. Api dengan cepat meluas, mengakibatkan suhu tinggi dan asap tebal yang menyulitkan evakuasi.

Suyadi, yang bertugas mengawasi keamanan kawasan, berusaha mengevakuasi pekerja dan warga sekitar. Selama proses penanggulangan, ia terkena luka bakar pada 90 persen permukaan tubuhnya. Upaya pertolongan pertama dilakukan oleh rekan kerja dan tim pemadam kebakaran, namun luka yang diderita terlalu parah. Setelah dirawat di ruang perawatan intensif, kondisi Suyadi dinyatakan kritis dan pada akhir pekan beliau menghembuskan napas terakhir.

Pihak Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyatakan bahwa luka bakar yang dialami Suyadi tergolong derajat tiga, meliputi seluruh tubuh dengan kerusakan jaringan yang luas. “Luka bakar 90 persen sangat berbahaya dan memerlukan perawatan khusus yang intensif. Kami telah melakukan segala upaya medis, namun sayangnya korban tidak dapat diselamatkan,” ujar Dr. Hadi, Kepala Dinas Kesehatan Bekasi.

Selain Suyadi, sebanyak 23 orang lainnya mengalami luka bakar, sebagian besar dengan derajat dua. Beberapa di antaranya dirawat di RSUD, sementara yang lain di rumah sakit swasta dengan fasilitas perawatan luka bakar. Semua korban telah diberikan perawatan medis awal dan dipantau secara ketat.

Dalam upaya menanggulangi dampak sosial akibat kebakaran, Pertamina Patra Niaga Regional Jabo (Jabodetabek) segera mengirimkan tim bantuan ke posko pengungsian yang dibuka di sekitar SPBE. Tim tersebut mendistribusikan perlengkapan darurat, termasuk selimut, makanan siap saji, dan perlengkapan kebersihan.

  • Distribusi makanan dan minuman selama 3 hari pertama.
  • Pemberian selimut dan pakaian ganti bagi korban yang kehilangan harta benda.
  • Pelayanan psikologis awal untuk mengurangi trauma pasca‑kebakaran.
  • Koordinasi dengan Dinas Sosial untuk penyaluran bantuan jangka panjang.

“Kami berkomitmen membantu warga yang terdampak, baik secara material maupun psikologis. Kebakaran ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan di fasilitas bahan bakar,” kata Budi Santoso, Kepala Unit Operasional Pertamina Patra Niaga Regional JBB.

Pihak kepolisian setempat membuka penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kebakaran. Sementara itu, Dinas Perhubungan dan Dinas Penanggulangan Bencana Kota Bekasi berkoordinasi untuk memperbaiki sistem keamanan dan instalasi listrik di seluruh SPBE wilayah tersebut.

Warga sekitar mengekspresikan rasa duka yang mendalam serta keprihatinan atas kehilangan Suyadi, yang dikenal sebagai sosok yang selalu sigap dalam menjaga keamanan lingkungan. “Suyadi adalah pahlawan bagi kami. Ia selalu membantu, bahkan di luar jam kerja. Kami sangat kehilangan,” ungkap Rina, tetangga Suyadi.

Kasus kebakaran ini menyoroti perlunya peninjauan kembali standar keselamatan pada instalasi bahan bakar, terutama terkait perlindungan terhadap potensi korsleting listrik. Pemerintah daerah telah berjanji untuk meningkatkan inspeksi rutin serta menyediakan pelatihan keselamatan kerja bagi seluruh petugas yang bekerja di SPBE.

Dengan dukungan dari Pertamina, pemerintah daerah, dan lembaga kesehatan, diharapkan korban kebakaran dapat pulih dan keluarga Suyadi mendapatkan dukungan moral serta material. Tragedi ini sekaligus menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan protokol keamanan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.

Leave a Comment