Teror Bom Molotov Ganda di Palembang Terekam CCTV, Warga Dihantam Api!

IPD – 27 Maret 2026 | Palembang kembali diguncang oleh serangkaian aksi teror yang terjadi dalam rentang waktu singkat, dimana dua bom molotov dilemparkan ke dua rumah warga pada sore hari yang sama. Kejadian tersebut terekam jelas oleh jaringan kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar kawasan perumahan, memperlihatkan momen menegangkan saat pelaku tak dikenal melemparkan bahan bakar yang menyala ke pintu masuk rumah korban.

Insiden pertama terjadi sekitar pukul 16.30 WIB di Jalan Kertapati, ketika seorang pria berpenampilan gelap melemparkan botol berisi bahan bakar yang diperkirakan telah diberi percikan bensin ke jendela rumah milik keluarga Budi. Ledakan kecil itu menyebabkan kaca pecah dan menimbulkan kebakaran ringan, namun beruntung tidak ada korban jiwa. Pemilik rumah serta tetangga segera memadamkan api dengan selang kebakaran dan memanggil petugas pemadam kebakaran.

Detik-detik teror terekam CCTV

Rekaman CCTV memperlihatkan pelaku berlari menjauh setelah melemparkan bom molotov, dengan langkah yang cepat dan menghindari area yang terlihat dipantau kamera. Pada video terlihat jelas cahaya api menyulut pada kaca jendela, diikuti oleh kepanikan warga sekitar yang berteriak memanggil bantuan. Petugas kepolisian yang tiba di lokasi pada pukul 16.45 WIB langsung melakukan olah TKP, mengamankan rekaman, dan menutup area untuk mengumpulkan bukti.

Tak lama setelah kejadian pertama, pada pukul 18.10 WIB, terjadi serangan kedua di Jalan Gubeng, hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi pertama. Sekali lagi, bom molotov dilemparkan ke rumah warga bernama Siti, yang sedang berada di dalam rumah bersama dua anaknya. Kebakaran yang lebih besar terjadi, menghanguskan sebagian dinding dapur dan melukai ringan pada salah satu anak akibat percikan api. Tim medis setempat langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat.

Polisi Palembang mengonfirmasi bahwa kedua kejadian tersebut memiliki pola yang serupa: penggunaan bom molotov dengan bahan bakar yang sama, waktu kejadian pada sore hari, dan pelaku yang menghilang cepat setelah aksi. Berdasarkan analisis video CCTV, tim forensik digital berhasil mengidentifikasi beberapa ciri fisik pelaku, antara lain tinggi sekitar 170 cm, mengenakan jaket hitam, serta menggunakan sarung tangan yang menutupi jari.

Respon aparat dan penyelidikan

Pihak kepolisian segera membentuk satuan tugas khusus yang melibatkan unit anti‑teror, forensik, serta intelijen. Satuan ini melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk penelusuran jejak digital pada kamera pengawas tetangga, pemetaan jalur pelarian, serta pemeriksaan saksi mata. Hingga saat ini, belum ada penangkapan, namun polisi mengimbau masyarakat untuk memberikan informasi apapun yang dapat mempercepat proses identifikasi pelaku.

Selain itu, Dinas Penanggulangan Bencana dan Kebencanaan Kota Palembang meningkatkan kesiapsiagaan dengan menempatkan tim pemadam kebakaran tambahan di area rawan, serta melakukan patroli intensif pada sore hingga malam hari. Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, mengunci pintu, dan melaporkan aktivitas mencurigakan kepada pihak berwajib.

Dampak sosial dan psikologis

Serangan bom molotov ini menimbulkan rasa takut dan cemas di kalangan penduduk Palembang, terutama di wilayah perumahan yang sebelumnya dianggap aman. Beberapa warga melaporkan gangguan tidur dan kecemasan berlebih setelah menyaksikan rekaman video yang beredar di media sosial. Pihak kepolisian bersama Dinas Kesehatan setempat menyediakan layanan konseling psikologis gratis bagi korban dan warga yang merasa tertekan.

Insiden ini juga menyoroti pentingnya sistem keamanan lingkungan, termasuk pemasangan CCTV yang terintegrasi dengan pusat pemantauan. Pemerintah kota berjanji akan memperluas jaringan kamera serta meningkatkan koordinasi antara aparat keamanan dan masyarakat.

Dengan terus berlangsungnya penyelidikan, diharapkan pelaku teror ini dapat segera diidentifikasi dan ditangkap, sehingga rasa aman warga Palembang dapat kembali pulih. Upaya bersama antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan komunitas lokal menjadi kunci utama dalam mencegah terulangnya aksi serupa di masa mendatang.

Leave a Comment