Ratusan Ribu Warga AS Turun ke Jalan dari LA hingga New York Protes Rencana Invasi Darat Trump ke Iran

IPD – 30 Maret 2026 | Washington, 30 Maret 2026 – Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah rencana invasi darat ke Iran terkuak dalam beberapa laporan Pentagon. Penambahan personel militer AS di Timur Tengah kini melampaui 50.000 orang, termasuk 2.500 marinir dan 2.500 pelaut tambahan, serta sekitar 3.500 tentara yang tiba pada 27 Maret lewat kapal USS Tripoli. Jumlah ini jauh di atas kehadiran rutin yang biasanya berkisar 40.000 personel di pangkalan-pangkalan Saudi, Bahrain, Irak, Suriah, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Rencana operasi darat terbatas mencakup kemungkinan penyergapan di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, serta aksi di pesisir Selat Hormuz. Pentagon menyiapkan pasukan khusus dan infanteri konvensional, sementara Divisi Lintas Udara ke-82 diperkirakan akan menambah sekitar 2.000 prajurit ke wilayah yang berada dalam jangkauan tembakan Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa hingga kini Presiden Trump belum memberikan persetujuan final, meskipun skenario tersebut telah dibahas secara intensif selama beberapa pekan terakhir.

Keputusan militer ini memicu reaksi keras di dalam negeri Amerika Serikat. Sejak awal pekan ini, gelombang protes anti-invasi bermula di Los Angeles dan menyebar cepat ke kota-kota besar lainnya, termasuk San Francisco, Chicago, Dallas, dan berujung di New York. Menurut hasil survei lapangan, lebih dari 60 persen warga menolak penggunaan pasukan darat di Iran, sementara hanya sekitar 12 persen yang mendukung langkah tersebut.

  • Los Angeles: Lebih dari 12.000 orang berkumpul di depan Gedung Pemerintahan County, mengangkat spanduk berisi tuntutan “Jangan Bawa Pasukan ke Iran”.
  • San Francisco: Demonstran berjumlah 8.500 orang melakukan aksi damai di depan Konsulat Amerika Serikat, menuntut transparansi kebijakan luar negeri.
  • Chicago: Ribuan warga menurunkan lampu kota selama satu jam sebagai simbol penolakan terhadap perang.
  • Dallas: Aksi berujung pada penangkapan tiga orang yang mencoba menghalangi kendaraan militer yang melintas.
  • New York: Di Times Square, lebih dari 15.000 orang berkumpul, menyanyikan lagu perdamaian dan memprotes kebijakan Presiden Trump.

Para aktivis menyoroti dampak kemanusiaan yang mungkin timbul jika pasukan darat dikerahkan ke wilayah yang sudah dipenuhi drone dan rudal Iran. Michael Eisenstadt, pakar militer, memperingatkan bahwa “kondisi di Pulau Kharg dan Selat Hormuz sangat berbahaya bagi pasukan yang tidak memiliki mobilitas tinggi”.

Sementara itu, pemerintah Iran belum memberikan komentar resmi mengenai ancaman invasi tersebut, namun menegaskan kesiapan militer untuk melindungi kedaulatan negara. Konflik di kawasan Teluk semakin memanas sejak serangan gabungan Israel‑AS pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan drone dan rudar ke wilayah Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Kepala Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Kevin McCarthy, menilai bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden, namun menekankan perlunya dialog diplomatik dengan sekutu regional, termasuk Pakistan yang kini berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran.

Dengan tekanan publik yang terus meningkat, keputusan Trump mengenai invasi darat ke Iran diprediksi akan menjadi salah satu isu politik paling menentukan menjelang pemilihan presiden berikutnya. Sementara itu, demonstran di seluruh negeri tetap berjanji akan melanjutkan aksi mereka hingga ada kejelasan kebijakan yang lebih damai.

Leave a Comment