IPD – 18 April 2026 | Jakarta – Dua tanker milik PT Pertamina (Persero) yang masih berada di perairan Selat Hormuz belum dapat melintasi jalur strategis tersebut meski Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah menerima sinyal positif dari pemerintah Iran. Kapal Pertamina Pride berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sementara MT Gamsunoro terpantau di perairan dekat Dubai, Uni Emirat Arab.
Koordinasi intensif terus dilakukan oleh pihak Kemlu bersama otoritas Iran, angkatan bersenjata Iran, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran. Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Mulachela menegaskan bahwa proses pemantauan teknis kapal – termasuk kesiapan kru, asuransi, dan dokumen pelayaran – sedang berlangsung agar kapal dapat bergerak segera setelah izin resmi diberikan.
Pertamina sendiri tidak tinggal diam. Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa perusahaan terus berkomunikasi dengan awak kapal untuk memastikan keselamatan mereka. “Kami juga berkoordinasi dengan Pertamina International Shipping, perusahaan asuransi, serta pihak terkait lainnya demi menjamin semua aspek operasional kapal tetap terjaga,” ujarnya dalam sebuah acara internal pada 16 April 2026.
Berikut rangkaian langkah yang telah diambil oleh kedua belah pihak:
- Pengiriman sinyal positif dari pemerintah Iran pada pertengahan Maret 2026 untuk membuka jalur pelayaran.
- Koordinasi harian antara Kemlu, Kedutaan RI di Tehran, dan otoritas maritim Iran.
- Pemantauan teknis kapal oleh tim khusus, mencakup inspeksi peralatan navigasi, kesiapan bahan bakar, dan verifikasi asuransi.
- Komunikasi rutin dengan kru kapal melalui satelit untuk menginformasikan perkembangan situasi keamanan.
- Negosiasi dengan pihak asuransi internasional guna memastikan perlindungan penuh selama pelayaran.
Meski demikian, Vahd Nabyl Mulachela mengakui bahwa sinyal positif belum berubah menjadi izin resmi yang dapat diimplementasikan secara langsung. “Kami masih menunggu konfirmasi akhir dari otoritas Iran serta memastikan tidak ada hambatan lain, termasuk isu overflight clearance yang sempat menjadi spekulasi media,” jelasnya.
Isu overflight clearance muncul setelah beberapa laporan media mengaitkan penundaan kapal dengan pembatasan ruang udara di wilayah tersebut. Kemlu menegaskan bahwa tidak ada kaitan antara izin penerbangan dan penahanan kapal di Selat Hormuz. Fokus utama tetap pada keamanan pelayaran dan kepatuhan terhadap regulasi maritim internasional.
Pemerintah Iran pada 17 April 2026 secara resmi membuka kembali Selat Hormuz untuk aktivitas pelayaran komersial internasional. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan jalur tersebut kini berstatus terbuka penuh. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, melalui juru bicara Dwi Anggia, menyampaikan harapan agar kapal Pertamina dapat segera melintas, mengingat peran vital kedua kapal dalam rantai pasok energi nasional.
Kapal Pertamina Pride, sebuah Very Large Crude Carrier (VLCC), tengah mengangkut light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Sementara MT Gamsunoro beroperasi sebagai kapal pengangkut kargo pihak ketiga, menyediakan layanan logistik bagi pelanggan internasional. Kedua kapal tersebut memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan energi Indonesia.
Data Vessel Finder pada sore hari Sabtu menunjukkan posisi kedua kapal masih berada di zona perairan Teluk Persia. Dengan pembukaan Selat Hormuz, para analis memprediksi bahwa dalam beberapa hari ke depan kedua kapal dapat melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan masing-masing.
Secara keseluruhan, situasi menunjukkan dinamika geopolitik yang cepat berubah namun tetap menuntut koordinasi lintas lembaga yang kuat. Kemlu, Pertamina, serta otoritas Iran terus bekerja sama untuk memastikan kelancaran arus energi global dan menjaga kepentingan nasional Indonesia.
Jika kondisi keamanan di Selat Hormuz tetap kondusif, diharapkan Kapal Pertamina dapat melintasi jalur tersebut dalam waktu dekat, mengakhiri hampir tiga pekan penahanan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan industri energi.
