IPD – 10 April 2026 | Strategi pasar emas kembali menjadi sorotan utama setelah harga logam mulia ini menunjukkan tren kenaikan selama tiga minggu berturut‑turut. Menurut Ewa Manthey dan Warren Patterson, analis senior di ING, kenaikan hampir 2% dalam seminggu terakhir didorong oleh kombinasi faktor diplomatik, permintaan berkelanjutan dari bank sentral, serta ekspektasi inflasi yang meningkat.
Optimisme diplomatik seputar penyelesaian ketegangan di Iran memberikan sentimen positif bagi emas sebagai aset safe‑haven. Meski demikian, para analis menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek masih dipengaruhi oleh berita utama yang cepat berubah. Risiko geopolitik yang belum terselesaikan, terutama ketegangan di Timur Tengah, menimbulkan ketidakpastian yang dapat memicu fluktuasi harga secara tiba‑tiba.
Sejak konflik besar dimulai, emas telah mengalami penurunan sekitar 10%, menandakan bahwa hambatan makro seperti real yield yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS masih menjadi faktor penahan permintaan. Namun, para strategis ING menilai bahwa tekanan ini bersifat sementara, mengingat dukungan fundamental yang kuat pada sisi permintaan institusional.
- Pembelian bank sentral: Bank‑bank sentral di seluruh dunia terus menambah alokasi emas dalam cadangan devisa mereka, mencerminkan keinginan diversifikasi terhadap risiko mata uang fiat.
- Ekspektasi inflasi: Data terbaru menunjukkan perkiraan inflasi yang lebih tinggi, memperkuat argumen bahwa emas dapat berfungsi sebagai pelindung nilai jangka panjang.
- Suku bunga riil: Meskipun suku bunga riil masih berada pada level yang relatif restriktif, prospek penurunan kebijakan moneter di beberapa ekonomi maju membuka peluang bagi emas untuk kembali menguat.
Analisis jangka panjang tetap optimis. Manthey dan Patterson menekankan bahwa pembelian resmi oleh otoritas moneter akan terus berlanjut, sejalan dengan strategi diversifikasi cadangan yang menjadi prioritas banyak negara. Selain itu, mereka mengantisipasi bahwa suku bunga riil tidak akan tetap berada pada level tinggi selamanya; penurunan kebijakan moneter di masa depan diperkirakan akan mengurangi tekanan pada logam mulia.
Di sisi lain, volatilitas jangka pendek diperkirakan tetap tinggi. Faktor-faktor seperti keputusan kebijakan moneter mendadak, data inflasi yang tidak terduga, atau perkembangan politik di kawasan konflik dapat menggerakkan harga emas secara signifikan dalam hitungan hari atau minggu. Oleh karena itu, para pelaku pasar disarankan untuk memantau indikator makro secara cermat dan menyesuaikan strategi investasi mereka sesuai dengan dinamika pasar yang cepat berubah.
Secara keseluruhan, pandangan ING menggabungkan dua narasi utama: sementara volatilitas jangka pendek tetap menjadi tantangan, fondasi fundamental emas – yaitu peranannya sebagai penyimpan nilai, permintaan institusional yang stabil, dan ekspektasi penurunan suku bunga riil – memberikan landasan yang kuat bagi prospek jangka panjang yang konstruktif. Investor yang mampu menyeimbangkan antara risiko volatilitas harian dan potensi pertumbuhan nilai jangka panjang diposisikan untuk memperoleh manfaat maksimal dari pergerakan pasar emas ke depan.
Kesimpulannya, meskipun pasar emas masih berada dalam fase fluktuatif yang dipengaruhi oleh berita geopolitik dan kebijakan moneter, prospek jangka panjang tetap positif berkat dukungan kuat dari sektor resmi dan ekspektasi penurunan suku bunga riil. Bagi investor yang mengedepankan diversifikasi dan perlindungan nilai, emas tetap menjadi pilihan yang relevan dalam portofolio investasi.
