IPD – 10 April 2026 | Pasangan mata uang AUD/USD mencatat penurunan signifikan pada sesi perdagangan Jumat, menembus level 0,7060. Penurunan ini terjadi meski pasangan tetap berada di jalur kenaikan mingguan sebesar sekitar 2,6 persen, mengindikasikan dinamika pasar yang masih dipengaruhi oleh sentimen risiko global.
Selera risiko investor menurun secara tajam setelah optimisme mengenai tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar. Kegagalan negosiasi damai menimbulkan kembali permintaan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) sebagai aset safe‑haven, memaksa Dolar Australia (AUD) kehilangan sebagian daya tariknya.
Berbagai faktor geopolitik turut memperkuat tekanan pada AUD. Otoritas Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam dialog damai sampai Israel menghentikan serangannya di Lebanon. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat mengkritik penanganan Selat Hormuz oleh Tehran, yang masih menerapkan blokade de‑facto pada jalur penting pasokan gas dan minyak dunia. Kondisi ini menambah ketidakpastian di Timur Tengah dan memicu pergeseran aliran dana ke aset yang dianggap lebih stabil.
Di dalam negeri, data inflasi Australia yang dirilis pada awal pekan menunjukkan lonjakan bulanan tertinggi dalam sejarah, berdasarkan laporan Melbourne Institute (MI). Kenaikan inflasi ini dipicu oleh shock harga minyak akibat konflik di Iran, yang pada gilirannya memberikan tekanan tambahan pada Reserve Bank of Australia (RBA) untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga jangka pendek.
Sementara itu, di Amerika Serikat, pasar menantikan rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Maret yang dijadwalkan pada hari Jumat. Prediksi menunjukkan inflasi konsumen tahunan akan mencapai 3,3 persen, tingkat tertinggi dalam hampir dua tahun. Angka tersebut dapat memperkuat posisi hawk Federal Reserve (The Fed) dalam kebijakan pengetatan moneter, yang pada gilirannya akan menambah daya tarik USD terhadap mata uang lainnya, termasuk AUD.
Secara teknikal, AUD/USD berhasil mengakhiri pekan dengan peningkatan lebih dari 2,5 persen, menandai reli mingguan terkuat sejak awal tahun. Namun, penurunan ke 0,7060 mengindikasikan adanya koreksi awal menjelang sesi perdagangan berikutnya, terutama bila data inflasi AS menguat dan ketegangan geopolitik tetap tinggi.
Berikut beberapa poin utama yang dapat menjadi acuan bagi pelaku pasar:
- Pasangan AUD/USD menurun ke level 0,7060 setelah memuncak di 0,7090 pada tiga minggu terakhir.
- Optimisme gencatan senjata Iran‑AS memudar, memicu pergeseran dana ke USD.
- Inflasi Australia tercatat tertinggi dalam sejarah, menambah tekanan pada RBA untuk menaikkan suku bunga.
- Indeks Harga Konsumen AS diperkirakan naik ke 3,3% YoY, memperkuat kemungkinan kebijakan pengetatan The Fed.
- Meskipun turun, AUD/USD tetap mencatat kenaikan mingguan lebih dari 2,5%.
Para analis memperingatkan bahwa volatilitas dapat meningkat jika konflik di Timur Tengah kembali memuncak atau jika data inflasi AS menunjukkan tren yang lebih kuat dari perkiraan. Dalam skenario tersebut, Dolar AS diperkirakan akan terus menguat, menekan AUD lebih lanjut. Sebaliknya, jika RBA mengambil langkah agresif menaikkan suku bunga, AUD berpotensi kembali menguat dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, pergerakan AUD/USD pada pekan ini mencerminkan interaksi kompleks antara faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan sentimen risiko pasar. Investor perlu memantau perkembangan negosiasi damai di Iran serta data inflasi utama dari Australia dan Amerika Serikat untuk menilai arah pergerakan pasangan mata uang ini ke depan.
