IPD – 11 April 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi Ketua Umum Persatuan Pencak Silat Indonesia (IPSI) setelah mengabdi selama tiga dekade. Pengumuman ini disampaikan dalam pembukaan Musyawarah Nasional IPSI di Jakarta, sekaligus menjadi momen refleksi atas perjalanan panjangnya dalam memajukan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
Selama 34 tahun memimpin IPSI, Prabowo menekankan peran silat tidak hanya sebagai olahraga, tetapi juga simbol identitas nasional yang mampu menyatukan generasi. Ia mengingat kembali masa mudanya, ketika ia menekuni seni bela diri ini dengan tekad kuat, meski harus menahan luka-luka fisik yang menguji ketangguhannya. “Silat adalah panggilan jiwa saya,” ujar Prabowo dalam sambutannya, menambahkan bahwa nilai disiplin, keberanian, dan kebersamaan yang diajarkan silat menjadi fondasi kepemimpinannya di panggung politik.
Pengunduran diri tersebut tidak menutup pintu kontribusi Prabowo di dunia silat. Sebaliknya, ia berjanji akan terus mendukung pengembangan IPSI lewat peran advokasi di tingkat nasional dan internasional, memastikan pencak silat terus berkembang menjadi olahraga kompetitif sekaligus sarana diplomasi budaya.
Sementara itu, agenda politik Prabowo tidak berhenti pada bidang budaya. Dalam pekan yang sama, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Moskow, Rusia, untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Menteri Luar Negeri Sugiono, yang akan mendampingi dalam perjalanan, menegaskan bahwa pertemuan ini bersifat strategis bagi kepentingan Indonesia, terutama dalam pembahasan energi, geopolitik, dan kerja sama bilateral.
Jadwal resmi lawatan mencakup serangkaian pertemuan dengan pejabat tinggi Rusia, termasuk diskusi dengan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, yang mengonfirmasi kesiapan pihak Rusia untuk membahas agenda bersama. Fokus utama diperkirakan meliputi diversifikasi sumber energi Indonesia, stabilitas kawasan Asia‑Pasifik, serta potensi kerja sama di bidang pertahanan dan teknologi.
Keberangkatan Prabowo ke Rusia menandai titik penting dalam diplomasi Indonesia‑Rusia, mengingat hubungan kedua negara yang telah lama menjalin kerja sama di sektor energi dan perdagangan. Pertemuan ini juga dipandang sebagai peluang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global, khususnya di tengah ketegangan energi dunia.
Di balik agenda politik dan budaya, Prabowo menyoroti pentingnya sinergi antara nilai tradisional dan kebijakan modern. Ia mencontohkan bagaimana semangat silat—yang menekankan keseimbangan antara kekuatan fisik dan kebijaksanaan—dapat menjadi inspirasi dalam mengambil keputusan strategis di panggung internasional.
Pengunduran diri dari IPSI sekaligus persiapan kunjungan ke Rusia mencerminkan fase transisi kepemimpinan Prabowo, yang kini lebih fokus pada peran sebagai kepala negara. Meskipun menutup bab kepemimpinan dalam organisasi pencak silat, ia tetap mengajak generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan seni bela diri ini, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.
Secara keseluruhan, langkah Prabowo menunjukkan komitmen berkelanjutan terhadap dua pilar penting: kebudayaan nasional melalui silat, dan kebijakan luar negeri yang mengedepankan kepentingan strategis Indonesia. Dengan latar belakang pengalaman militer, politik, dan seni bela diri, Prabowo diharapkan dapat memanfaatkan nilai-nilai tradisional untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia.
