Kebakaran Besar di SPBE Cimuning Bikin Warga Heboh, DPRD Soroti Risiko dan Pertamina Tanggap Cepat

IPD – 06 April 2026 | Bekasi, 5 April 2026 – Sebuah kebakaran hebat melanda Stasiun Pengisian Bahan Energi (SPBE) di kawasan Cimuning, menewaskan satu orang keamanan SPBE yang mengalami luka bakar hingga 90 persen tubuhnya. Insiden yang terjadi pada sore hari itu mengundang kepanikan warga sekitar, memicu aksi cepat dari pihak berwenang, dan menimbulkan sorotan kritis dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi terkait keamanan fasilitas publik yang berada dekat pemukiman.

Menurut saksi mata, api muncul secara tiba-tiba di area tangki bahan bakar utama sekitar pukul 16.30 WIB. Asap hitam tebal mengepul, menutupi langit sore dan memaksa evakuasi cepat bagi para pelanggan yang sedang mengisi kendaraan. Tim pemadam kebakaran setempat tiba dalam hitungan menit, namun intensitas api yang tinggi membuat proses pemadaman memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Petugas keamanan SPBE yang berada di lokasi pada saat kejadian berusaha mengevakuasi orang-orang di sekitar, namun ia sendiri terkena percikan api dan luka bakar serius. Kondisi korban saat ini dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, dengan persentase luka bakar diperkirakan mencapai 90 persen. Keluarga korban masih menunggu kabar perkembangan kondisi medisnya.

Di tengah kepanikan, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Barat-Banten (JBB) segera mengerahkan bantuan. Tim penanganan darurat Pertamina tiba di posko pengungsian yang dibangun di dekat lokasi kejadian, menyediakan air bersih, makanan siap saji, serta perlengkapan medis dasar untuk warga yang terdampak. “Kami berkomitmen membantu sesegera mungkin, baik dalam penanganan kebakaran maupun pemulihan pasca‑bencana,” ujar juru bicara Pertamina Patra Niaga Regional JBB dalam konferensi pers singkat.

Selain bantuan logistik, Pertamina juga menyiapkan dana bantuan khusus bagi korban langsung kebakaran. Sebanyak 10 juta rupiah dialokasikan untuk masing‑masing keluarga yang kehilangan harta benda, serta penyediaan paket sembako selama tiga hari ke depan. Upaya ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi warga yang harus mengungsi sementara menunggu pemulihan infrastruktur SPBE.

Sementara itu, DPRD Kabupaten Bekasi mengirim delegasi untuk meninjau lokasi kebakaran. Anggota DPRD, Budi Santoso, menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian ini dan menyoroti risiko tinggi yang ditimbulkan oleh keberadaan fasilitas bahan bakar di area yang padat penduduk. “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan, izin operasional, dan jarak aman antara SPBE dengan permukiman. Jika diperlukan, penutupan sementara atau relokasi akan dipertimbangkan demi melindungi warga,” tegasnya.

Dalam rapat khusus yang diadakan pada malam hari, komisi DPRD terkait mengusulkan pembentukan tim investigasi gabungan antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup, serta pihak kepolisian. Tim ini akan menyelidiki penyebab kebakaran, menilai kepatuhan SPBE terhadap standar keamanan, serta menyusun rekomendasi kebijakan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Menurut data yang dirilis oleh Dinas Perhubungan Bekasi, terdapat total enam SPBE yang beroperasi di wilayah Cimuning dan sekitarnya. Semua fasilitas tersebut diwajibkan memiliki sistem pemadam kebakaran otomatis, sistem deteksi kebocoran, serta jarak minimal 30 meter dari bangunan tempat tinggal. Namun, hasil inspeksi tahun lalu menunjukkan beberapa pelanggaran minor, termasuk kurangnya pemeliharaan alat pemadam kebakaran.

Setelah kebakaran berhasil dipadamkan pada pukul 20.00 WIB, tim teknis melakukan penilaian kerusakan. Diperkirakan kerusakan struktural pada bangunan utama mencapai 40 persen, dengan kerusakan total nilai ekonomi diperkirakan mencapai 2,5 miliar rupiah. Pertamina menyatakan komitmen untuk melakukan perbaikan dan memastikan kembali operasi SPBE berjalan aman.

Warga sekitar, yang kini menunggu kepastian mengenai keamanan lingkungan mereka, mengekspresikan rasa takut sekaligus harapan. “Kami berharap pihak berwenang tidak hanya menutup SPBE ini, tetapi juga memberikan solusi jangka panjang, seperti pemindahan lokasi atau peningkatan standar keselamatan,” ujar seorang ibu rumah tangga yang mengungsi bersama keluarganya.

Insiden ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pengawasan ketat terhadap fasilitas bahan bakar, terutama di wilayah permukiman padat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan energi, dan masyarakat, diharapkan langkah preventif dapat diimplementasikan untuk menghindari tragedi serupa di masa yang akan datang.

Secara keseluruhan, kebakaran SPBE Cimuning tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga menguji kesiapan respons darurat serta kebijakan keselamatan publik. Penanganan cepat dari Pertamina Patra Niaga Regional JBB, aksi kepolisian, serta intervensi DPRD menjadi faktor kunci dalam mengurangi dampak bencana dan menyiapkan langkah perbaikan yang lebih sistematis.

Leave a Comment