IPD – 31 Mei 2026 | Perajin tahu dan tempe di Lebak, Banten, mengalami krisis akibat lonjakan harga kedelai impor. Para pelaku usaha kecil terpaksa memperkecil ukuran produk guna mempertahankan operasional dan menghindari pemutusan hubungan kerja karyawan.
Harga kedelai melonjak drastis dari Rp300.000 menjadi Rp545.000 per karung isi 50 kilogram. Kondisi ini memaksa para pelaku usaha kecil melakukan strategi bertahan hidup yang pahit: memperkecil ukuran produk demi menghindari kebangkrutan.
Imbas kenaikan harga kedelai juga dirasakan oleh perusahaan eksportir sawit. Bareskrim Polri terus mendalami dugaan manipulasi data ekspor komoditas sawit atau praktik under invoicing yang dilakukan salah satu perusahaan eksportir sawit.
Sementara itu, impor minyak Jepang dari Timur Tengah anjlok lebih dari 67 persen pada April, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menyentuh level bulanan terendah sejak pencatatan dimulai pada 1979.
Di sisi lain, impor barang dari China ke Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang awal 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$21,20 miliar, atau naik 18,21% dari Januari 2025 secara year-on-year.
Pemerintah mulai menyiapkan jalur baru impor minyak Rusia setelah Pertamina dinilai menghadapi kendala akibat keterikatan pada obligasi global atau global bond. Langkah itu dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 yang membuka peluang Lemigas ikut mengimpor minyak mentah, BBM, hingga LPG dari luar negeri.
Kesimpulan, kenaikan harga kedelai dan impor minyak memiliki dampak yang signifikan pada perekonomian Indonesia. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi krisis ini dan mempertahankan stabilitas perekonomian.
