Pound Sterling Tertekan Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Ketegangan AS‑Iran

IPD – 14 April 2026 | Pound Sterling (GBP) mengalami penurunan signifikan terhadap mata uang utama pada sesi perdagangan Eropa Senin lalu, mencatat pelemahan 0,25% dan berbalik mendekati level 1,3425 terhadap dolar AS (USD). Penurunan ini dipicu oleh kegagalan perundingan berisiko tinggi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai gencatan senjata permanen, yang menggerus selera risiko investor global.

Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah memicu blokade pelabuhan Iran yang dijadwalkan mulai 13 April pukul 10:00 WIB (ET 14:00 GMT). Pengumuman tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa konflik akan berlarut, menambah tekanan pada mata uang negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Inggris. Kenaikan harga minyak mentah yang menyusul aksi geopolitik ini juga memperparah outlook negatif terhadap pound.

Data pasar menunjukkan bahwa pound berada di posisi terlemah dibandingkan euro, meski tetap menjadi mata uang yang relatif kuat di antara sekumpulan mata uang utama. Tabel berikut merangkum persentase perubahan nilai tukar GBP terhadap mata uang utama pada hari tersebut.

USDEURJPYCADAUDNZDCHF
GBP-0,25%+0,08%-0,02%-0,22%0,00%+0,13%+0,12%

Heat map yang disediakan oleh platform forex menegaskan bahwa pound berada di zona merah ketika dibandingkan dengan dolar AS, sementara euro dan dolar Swiss menunjukkan pergerakan yang lebih stabil.

Sentimen risk‑off juga tercermin pada indeks S&P 500 yang menutup sesi Eropa dengan penurunan tajam, serta indeks Dolar AS (DXY) yang naik 0,3% mendekati level 99,00. Kenaikan DXY menambah beban pada pound, mengingat korelasi negatif yang biasanya terjadi antara dolar kuat dan mata uang lain.

Di dalam negeri, pasar menanti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) bulanan Inggris untuk bulan Februari yang dijadwalkan pada hari Kamis. Konsensus memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,1% setelah pencapaian datar pada Januari. Bersamaan dengan itu, data manufaktur dan produksi industri akan menjadi fokus utama bagi pelaku pasar, karena indikator tersebut dapat memberi sinyal arah kebijakan Bank of England (BoE) dalam jangka pendek.

  • Pound Sterling tertekan karena kegagalan perundingan AS‑Iran yang menurunkan sentimen risiko.
  • Blokade pelabuhan Iran yang akan dimulai pada 13 April menambah ketidakpastian geopolitik.
  • Harga minyak naik, menurunkan daya tarik mata uang negara importir energi seperti Inggris.

Di Amerika Serikat, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) semakin hawkish. Harga minyak yang kembali menguat memicu perkiraan inflasi yang lebih tinggi, sehingga para pedagang memperkirakan The Fed akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan suku bunga pada pertemuan mendatang. Langkah ini berpotensi memperkuat dolar AS lebih lanjut, menambah tekanan pada pound.

Bank of England sendiri berada dalam posisi menunggu data ekonomi domestik sebelum mengambil keputusan suku bunga. Jika data PDB dan indikator produksi menunjukkan pertumbuhan yang kuat, BoE dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi. Sebaliknya, data yang lemah dapat mendorong kebijakan pelonggaran, yang pada gilirannya dapat menurunkan nilai GBP lebih lanjut.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal berupa eskalasi konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta faktor internal berupa ketidakpastian data ekonomi Inggris, menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pound sterling. Investor diharapkan tetap berhati-hati, dengan mempertimbangkan diversifikasi portofolio dan mengawasi perkembangan geopolitik serta rilis data ekonomi utama dalam beberapa hari ke depan.

Leave a Comment