IPD – 18 April 2026 | Pasar logam mulia kembali menunjukkan dinamika kuat pada hari Jumat, ketika harga perak melonjak lebih dari 4 persen dan berhasil menembus level $81 per troy ons. Lonjakan ini dipicu oleh penurunan dolar AS yang dipengaruhi oleh perkembangan positif di kawasan Timur Tengah, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan lanjutan pembicaraan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pergerakan naik ini menandai minggu keempat beruntun bagi perak, sekaligus mencatatkan harga tertinggi lima minggu di $83,05 sebelum mengalami koreksi ringan kembali ke $81,82. Jika penutupan harga pada hari itu tetap berada di atas $81, peluang untuk melanjutkan rally menuju target jangka pendek di atas $90 menjadi semakin nyata.
Berikut rangkuman poin penting yang menjadi sorotan analis:
- Perak berhasil menembus $81, mencatatkan kenaikan empat minggu berturut‑turut.
- Indeks Kekuatan Relatif (RSI) menembus puncak sebelumnya, mengonfirmasi momentum bullish.
- Penembusan di atas $83,05 membuka jalur menuju resistance di $85,44, $87,43, dan $89,42, serta level psikologis $90.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa indikator RSI berada di zona yang mengindikasikan pembeli mulai mengumpulkan kekuatan. Kondisi ini menandakan potensi lanjutan kenaikan harga perak dalam jangka pendek, terutama bila harga dapat menutup di atas $81 pada sesi berikutnya.
Resistance utama selanjutnya terletak pada level tertinggi 13 Maret di $85,44. Jika berhasil ditembus, jalur selanjutnya mengarah ke level tertinggi 12 Maret di $87,43, dan puncak 11 Maret di $89,42. Penembusan konsisten di atas $90 akan menandai zona psikologis penting yang dapat menarik perhatian investor institusional.
Di sisi lain, jika harga perak turun di bawah support utama berupa garis tren yang berada di kisaran $77,65‑$77,85, kemungkinan penurunan lebih lanjut akan mengintai. Support tambahan dapat ditemukan pada Simple Moving Average (SMA) 100‑hari di $77,24, dan SMA 20‑hari di $73,77.
Faktor fundamental yang memperkuat sentimen bullish mencakup ketidakstabilan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, yang biasanya meningkatkan permintaan logam mulia sebagai safe haven. Dolar AS yang melemah turut memberi dorongan bagi harga perak, mengingat perak diperdagangkan dalam satuan dolar. Selain itu, permintaan industri—terutama dalam sektor elektronik, energi surya, dan teknologi—menjadi pendorong tambahan, mengingat perak memiliki konduktivitas listrik tertinggi di antara logam non‑permata.
Penting untuk mencatat bahwa perak tidak hanya berfungsi sebagai aset lindung nilai, melainkan juga sebagai komoditas industri. Kenaikan harga dapat berdampak pada biaya produksi barang elektronik dan panel surya, yang pada gilirannya memengaruhi profitabilitas perusahaan di sektor tersebut.
Investor yang mempertimbangkan penambahan perak ke dalam portofolio harus memperhatikan dinamika teknikal serta faktor fundamental yang melatarbelakangi pergerakan harga. Penggunaan instrumen seperti kontrak berjangka, ETF berbasis perak, atau bahkan pembelian fisik dalam bentuk koin atau batangan dapat menjadi pilihan tergantung pada profil risiko dan horizon investasi masing‑masing.
Secara keseluruhan, momentum bullish yang ditunjukkan oleh RSI, didukung oleh faktor geopolitik dan fundamental industri, memberikan prospek yang cukup optimis bagi pergerakan harga perak dalam beberapa minggu ke depan. Namun, investor tetap disarankan untuk memantau level support kritis dan memperhatikan volatilitas dolar AS yang dapat mengubah arah pasar secara cepat.
