IPD – 02 April 2026 | Vatican kembali mencuri sorotan internasional pada Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, ketika Paus Leo XIV secara tegas menolak penggunaan doa untuk mendukung perang. Dalam khotbahnya, Sang Pemimpin Gereja Katolik menegaskan bahwa Tuhan tidak mendengar doa para pemimpin yang menyalakan konflik, termasuk Presiden Amerika Serikat dan sekutunya yang melancarkan operasi militer gabungan ke Iran pada akhir Februari 2026. Paus menuturkan, “Yesus adalah Raja Damai yang menolak perang; doa orang yang memicu konflik tidak akan sampai ke singgasana Tuhan.”
Pernyataan Paus berangkat dari eskalasi perang di Timur Tengah yang kini melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik yang dimulai dari serangan udara pada 28 Februari telah menewaskan ribuan jiwa, mengganggu pasokan energi global, dan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi dunia. Dalam konteks tersebut, Paus Leo menyoroti moralitas penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan militer, menuduh para penguasa memiliki “tangan yang penuh darah” dan menolak segala bentuk pembenaran religius atas kekerasan.
Sementara itu, Gedung Putih merespons kritik Paus melalui juru bicara Karoline Leavitt pada 30 Maret 2026. Leavitt menegaskan bahwa doa telah menjadi bagian integral tradisi nasional Amerika Serikat, khususnya pada masa-masa krisis. “Negara kami didirikan hampir 250 tahun lalu berdasarkan nilai-nilai Yudeo-Kristen. Para presiden, pemimpin Departemen Perang, dan pasukan kami telah berdoa dalam periode paling bergolak dalam sejarah bangsa ini,” ujar Leavitt, mengutip pernyataan sebelumnya di Newsweek. Ia menambahkan bahwa tentara Amerika menghargai dukungan rohaniah tersebut, dan bahwa tidak ada yang salah dengan memimpin doa bagi prajurit yang bertugas di luar negeri.
Respons tersebut memperkuat ketegangan antara pesan damai Vatikan dan kebijakan militer Washington. Menurut laporan lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyampaikan doa yang meminta setiap peluru “menyasar musuh kebenaran”, menandakan penggunaan bahasa religius dalam konteks konflik. Leavitt, bersama Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menekankan nilai-nilai Yudaisme-Kristen sebagai landasan kebijakan luar negeri Amerika, sambil menegaskan bahwa doa dapat menjadi sumber moral bagi prajurit.
Paus Leo tidak berhenti pada kritik umum. Ia secara khusus menyebutkan Presiden Donald Trump, menuntut agar sang pemimpin mencari jalan keluar untuk menghentikan perang Iran yang semakin meluas. Pada pertemuan di Castel Gandolfo pada 31 Maret, Paus melaporkan bahwa ia menerima sinyal bahwa Trump ingin mengakhiri konflik, namun menekankan perlunya langkah konkret untuk menurunkan tingkat kekerasan. “Saya berharap Presiden Trump mencari cara untuk mengurangi kekerasan dan mengakhiri perang,” ungkap Paus Leo, menandai pergeseran nada Vatikan yang jarang secara langsung mengarahkan seruan kepada kepala negara.
Reaksi Trump sendiri belum secara resmi dipublikasikan, namun komentar dari tim komunikasinya menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen pada kebebasan berdoa dan pada kebijakan yang dianggap melindungi kepentingan nasional serta sekutu di wilayah tersebut. Sementara itu, para analis politik menilai bahwa tekanan moral dari Vatikan dapat memicu perdebatan internal di kalangan elit militer dan politisi Amerika, terutama mengingat tradisi doa militer yang kuat di negara tersebut.
Konflik Iran kini tidak hanya menjadi urusan geopolitik, melainkan juga arena pertarungan nilai-nilai etika dan spiritualitas. Sektor energi global merasakan dampaknya; harga minyak naik tajam, pasar saham mengalami volatilitas, dan negara-negara pengimpor energi menghadapi risiko inflasi. Di samping itu, lembaga kemanusiaan melaporkan peningkatan jumlah pengungsi internal dan kebutuhan bantuan medis yang mendesak.
Secara keseluruhan, pernyataan Paus Leo XIV menegaskan kembali ajaran damai Kristus dan menolak legitimasi doa yang mendukung perang. Sementara Gedung Putih mempertahankan tradisi doa sebagai bagian integral identitas nasional, pertanyaan besar tetap: apakah doa dapat menjadi jembatan bagi perdamaian atau justru menjadi alat retoris dalam konflik yang terus memanas? Waktu akan menilai apakah seruan moral Vatikan mampu mempengaruhi kebijakan strategis Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
