IPD – 04 April 2026 | Jakarta, 3 April 2026 – Pasar energi global kembali berada di garis depan sorotan setelah harga spot minyak mentah Brent menembus level USD 141,36 per barel pada Kamis, 4 April 2026. Angka tersebut merupakan puncak tertinggi sejak krisis keuangan dunia 2008, menandai lonjakan dramatis yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan pada jalur distribusi utama, Selat Hormuz.
Kenaikan harga tidak hanya terbatas pada Brent; minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat level USD 111,54 per barel pada hari yang sama, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2020. Data tersebut dirilis oleh S&P Global dan dikonfirmasi oleh CNBC serta Reuters, menegaskan adanya tekanan signifikan pada pasokan fisik minyak di pasar spot, yang mencerminkan pengiriman dalam kurun waktu 10 hingga 30 hari ke depan.
Faktor utama yang mendorong lonjakan ini adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 April 2026 mengindikasikan peningkatan operasi militer terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Sikap tegas tersebut menambah kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur penyedia sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan sementara jalur ini, yang telah dilakukan Iran sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak akhir Februari, memperparah ketidakpastian pasokan dan meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Selain ketegangan militer, gangguan produksi di wilayah lain turut memperburuk situasi. Di Irak, ladang minyak Zubair mengalami penurunan operasional setelah serangan yang mengurangi output, sementara Rusia melaporkan kerusakan infrastruktur energi akibat serangan siber dan fisik. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan skenario pasar yang sangat sensitif, di mana setiap indikasi perpanjangan penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga lebih lanjut.
Analisis pasar menunjukkan perbedaan mencolok antara harga spot dan kontrak berjangka (futures). Pada saat yang sama, kontrak Brent untuk pengiriman Juni ditutup di level USD 109,03 per barel, lebih rendah USD 32,33 dibandingkan harga spot. Selisih ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa gangguan pasokan bersifat sementara, namun masih menimbulkan ketidakpastian jangka pendek.
Berbagai lembaga keuangan memberikan proyeksi yang beragam. Citi memperkirakan rata-rata harga Brent akan berada di sekitar USD 95 per barel dalam skenario dasar, namun dapat mencapai USD 130 pada skenario optimis di paruh kedua tahun ini. Sementara JP Morgan menilai harga minyak dapat berfluktuasi antara USD 120 hingga USD 130 dalam waktu dekat, dengan potensi menembus USD 150 bila Selat Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan Mei.
Para pelaku pasar juga menyoroti dampak potensial pada sektor energi dan industri terkait. Menurut Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, pertanyaan utama kini adalah sejauh mana infrastruktur minyak Iran dapat rusak dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan aliran minyak. John Kilduff, mitra di Again Capital, menambahkan bahwa premi risiko akan turun secara signifikan jika Selat Hormuz kembali beroperasi dalam beberapa minggu ke depan.
- Harga spot Brent: USD 141,36/barel
- Harga spot WTI: USD 111,54/barel
- Harga futures Brent (Juni): USD 109,03/barel
- Selat Hormuz: menyumbang ~20% pasokan minyak global
- Proyeksi Citi: USD 95–130/barel 2026
- Proyeksi JP Morgan: USD 120–150/barel 2026
Implikasi ekonomi domestik pun terasa. Di Indonesia, harga BBM domestik mengalami kenaikan signifikan, menambah beban pada konsumen dan sektor transportasi. Pemerintah diperkirakan akan meninjau kebijakan subsidi dan mempertimbangkan langkah-langkah penstabilan pasar energi untuk melindungi rumah tangga.
Secara keseluruhan, pasar minyak dunia berada dalam kondisi yang sangat dinamis, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, gangguan produksi, dan ekspektasi pasar. Meskipun harga spot telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, ketidakpastian tetap menjadi faktor utama yang menahan keputusan investasi jangka panjang. Para analis menyarankan pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan di Selat Hormuz dan kebijakan militer Amerika Serikat sebagai indikator utama pergerakan harga ke depan.
Dengan harga minyak mentah yang kini melampaui USD 100 per barel, tekanan inflasi global diperkirakan akan meningkat, memicu kebijakan moneter ketat di beberapa negara. Ketahanan energi menjadi agenda utama bagi pembuat kebijakan, sementara industri energi berupaya menyesuaikan strategi produksi dan distribusi untuk mengurangi dampak volatilitas harga.
