IPD – 04 April 2026 | Dolar Amerika Serikat (USD) menegaskan tren bearishnya untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu, melanjutkan penurunan dari puncak multi‑bulan terbaru. Penurunan ini dipicu oleh perbaikan signifikan pada aset‑aset berisiko serta meningkatnya ekspektasi penyelesaian konflik di Timur Tengah, meski masih terdapat ketidakpastian yang menghambat pemulihan penuh.
Indeks Dolar AS (DXY) kembali menurun dan mencatat level terendah baru dalam lima hari, mendekati angka 99,30. Penurunan ini beriringan dengan pergerakan imbal hasil Treasury AS yang beragam, mencerminkan pergeseran sentimen investor ke arah aset‑aset yang lebih berisiko. Di tengah dinamika tersebut, ekspektasi komentar Presiden Donald Trump mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah pada awal sesi Asia menjadi sorotan utama, menambah lapisan spekulasi pada pergerakan mata uang.
Agenda ekonomi Amerika Serikat pada Kamis, 2 April, mencakup dua data penting: Klaim Tunjangan Pengangguran Awal (Initial Unemployment Claims) dan hasil Neraca Perdagangan lanjutan (Advanced Trade Balance). Kedua indikator ini akan menjadi barometer utama bagi para pelaku pasar untuk menilai kesehatan pasar tenaga kerja dan keseimbangan perdagangan AS, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.
Di pasar pasangan mata uang utama, euro (EUR/USD) mencatat kenaikan tajam pada Selasa, menembus level 1,1600 dan mendekati puncak tiga minggu terakhir. Gerakan ini didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter European Central Bank serta perbedaan suku bunga relatif antara zona euro dan Amerika Serikat. Pada hari Kamis, agenda euro terlihat kosong, memberikan ruang bagi pergerakan teknikal untuk mendominasi.
Pound Sterling (GBP/USD) juga menunjukkan performa positif, melambung ke level tertinggi tiga hari di atas 1,3300. Sentimen risk‑on yang kuat serta prospek kebijakan Bank of England (BoE) menjadi pendorong utama. BoE dijadwalkan merilis Panel Keputusan Pasar (Decision-Making Panel), satu-satunya rilis data di sisi Inggris, yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Pasangan dolar‑yen (USD/JPY) berada dalam rentang perdagangan yang sempit, sempat menantang level psikologis 159,00 sebelum mengalami penurunan ringan. Data mingguan Investasi Obligasi Asing yang biasanya dirilis serta pembacaan Basis Moneter (Monetary Base) akan menjadi faktor tambahan yang dapat memicu volatilitas di pasangan ini.
Di belahan selatan, pasangan dolar‑dolar Australia (AUD/USD) melanjutkan tren naiknya pada Selasa, kembali menembus level 0,6900 dengan kenaikan sekitar satu sen dari posisi terendah hari Selasa. Sorotan utama pasar Australia pada hari Kamis adalah hasil Neraca Perdagangan, yang dapat memberikan sinyal mengenai kekuatan ekonomi domestik dan permintaan ekspor.
Sektor komoditas tidak kalah menarik. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus berada dalam tekanan turun, mendekati level $96 per barel sebelum kembali naik ke area $100. Fluktuasi harga minyak ini mencerminkan penilaian kembali para pedagang terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya risiko pasokan yang terkait dengan konflik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, harga emas terus menguat, mendekati level $4.800 per ons troy. Penguatan logam mulia ini didorong oleh melemahnya dolar AS, imbal hasil Treasury yang beragam, serta ketidakpastian yang terus menggelayuti konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Emas kembali menjadi aset safe‑haven pilihan bagi investor yang mencari perlindungan terhadap volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, pasar valuta asing hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental dan teknikal. Sentimen risk‑on tetap kuat, namun ketidakpastian geopolitik dan data ekonomi utama AS tetap menjadi penentu arah pergerakan. Para pelaku pasar disarankan untuk memantau komentar Presiden Trump terkait Timur Tengah, serta data tenaga kerja dan neraca perdagangan AS, karena keduanya dapat memicu pergeseran signifikan dalam arah alur likuiditas global.
Investor juga perlu memperhatikan perkembangan di pasar komoditas, terutama minyak dan emas, yang terus mencerminkan dinamika geopolitik dan kebijakan moneter. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pendekatan manajemen risiko yang disiplin menjadi kunci untuk mengoptimalkan peluang dalam lingkungan pasar yang terus berubah.
