USD/JPY Turun Meski NFP AS Tangguh: Risiko Intervensi Jepang Menahan Kenaikan

IPD – 04 April 2026 | Pasangan mata uang dolar AS versus yen Jepang (USD/JPY) berada di bawah tekanan pada hari Jumat, meski data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat menunjukkan tenaga kerja yang kuat. Kekhawatiran akan kemungkinan intervensi otoritas moneter Jepang menjadi faktor utama yang menghambat kenaikan yen, sekaligus menahan potensi penguatan lebih lanjut bagi dolar.

Pada saat penulisan, USD/JPY diperdagangkan di sekitar 159,57, sedikit melemah setelah sempat menembus level 159,82 sebagai reaksi awal terhadap data NFP. Kondisi likuiditas pasar yang tipis, dipicu oleh libur Jumat Agung, memperkecil ruang gerak harga dan menambah volatilitas yang tidak terduga.

Data NFP yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penambahan 178 ribu pekerjaan pada bulan Maret, jauh di atas perkiraan 60 ribu. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 % dari 4,4 % sebelumnya, sementara revisi data Februari menunjukkan kehilangan 133 ribu pekerjaan, menandakan dinamika pasar tenaga kerja yang masih bergejolak. Pendapatan per jam rata‑rata naik 0,2 % secara bulanan, sedikit di bawah ekspektasi 0,3 %, dan mencatat pertumbuhan tahunan 3,5 % yang juga di bawah perkiraan 3,7 %.

Angka-angka tersebut memperkuat harapan pasar bahwa Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga pada tingkat yang ada lebih lama, mengingat inflasi masih dipengaruhi oleh tekanan harga minyak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Sementara itu, indikator aktivitas bisnis di AS memperlihatkan tanda pelemahan: Indeks Manajer Pembelian (IMP) Komposit S&P Global turun menjadi 50,3 pada bulan Maret, menandai level terlemah sejak September 2023, dan Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor jasa berada di angka 49,8, di bawah estimasi flash 51,1.

Meski data fundamental mendukung dolar, pergerakan USD/JPY tetap terhambat. Otoritas moneter Jepang, Bank of Japan (BOJ), secara konsisten menegaskan kesiapan untuk melakukan intervensi bila yen melemah terlalu cepat atau pasar menunjukkan volatilitas berlebih. Sinyal tersebut menciptakan zona psikologis di sekitar level 160, yang menjadi titik pengawasan utama para pedagang. Ketakutan akan intervensi membuat investor beralih ke posisi lebih aman, menguatkan yen meski dasar ekonomi AS lebih kuat.

Indeks Dolar AS (DXY) tetap berada di zona 100,15, menandakan penguatan dolar secara umum terhadap sekeranjang mata uang utama. Namun, pergerakan DXY tidak dapat diterjemahkan secara otomatis ke dalam pasangan USD/JPY karena faktor lokal Jepang yang lebih dominan dalam konteks ini.

Berikut ringkasan utama yang mempengaruhi pergerakan USD/JPY pada sesi tersebut:

  • Data NFP AS melampaui ekspektasi, menambah dukungan bagi dolar.
  • Penguatan dolar tidak cukup untuk menembus level psikologis 160 pada USD/JPY.
  • Bank of Japan terus memberi sinyal kesiapan intervensi, menahan ekspektasi kenaikan yen.
  • Likuiditas pasar tipis akibat libur Jumat Agung memperkecil ruang gerak harga.
  • Indeks DXY tetap kuat, tetapi pengaruhnya terbatas pada pasangan USD/JPY.

Secara teknikal, level support kuat terletak di sekitar 158,80, sementara resistance utama berada di 160,00. Jika yen berhasil menembus level 160, kemungkinan akan muncul tekanan beli kembali pada dolar, mengingat ekspektasi intervensi menjadi lebih lemah. Sebaliknya, penurunan USD/JPY di bawah 158,80 dapat membuka peluang bagi dolar untuk kembali menguat, terutama bila data ekonomi AS selanjutnya tetap positif.

Para analis memperkirakan bahwa keputusan Bank of Japan mengenai kebijakan suku bunga tetap pada level negatif 0,1 % akan menjadi penentu utama pergerakan jangka pendek. Sementara itu, kebijakan Fed yang cenderung berhati‑hati dalam menurunkan suku bunga akan terus memberi dukungan pada dolar, namun tidak cukup kuat untuk mengatasi kecemasan intervensi Jepang.

Kesimpulannya, meskipun NFP AS menunjukkan performa yang kuat dan menambah dasar bagi dolar, risiko intervensi dari otoritas Jepang serta likuiditas pasar yang terbatas menjadi faktor penghambat utama yang membuat USD/JPY tetap berada di bawah tekanan. Investor perlu memantau sinyal kebijakan BOJ dan data ekonomi AS selanjutnya untuk menilai arah pergerakan pasangan mata uang ini dalam minggu mendatang.

Leave a Comment