IPD – 08 April 2026 | Pasangan mata uang USD/JPY terus berjuang di zona harga sekitar 159,95 pada Selasa kemarin, menampilkan aksi yang kuat namun sarat volatilitas. Situasi pasar dipicu oleh eskalasi tajam antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, yang semakin memunculkan risiko geopolitik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform media sosialnya, Truth Social, mengeluarkan pernyataan keras yang menyinggung kemungkinan penggunaan senjata nuklir bila Iran tidak mematuhi tuntutan Washington terkait Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menambah kecemasan investor, memaksa mereka menilai kembali posisi dalam pasangan mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko.
Retorika Trump menegaskan bahwa “sebuah peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah kembali lagi,” dan menambahkan “Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi.” Kalimat ini tidak hanya menimbulkan spekulasi tentang tindakan militer lebih lanjut, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan tekanan maksimum terhadap Tehran. Di samping itu, Iran secara resmi memutuskan semua jalur komunikasi diplomatik dengan Washington, menghilangkan peluang dialog jangka pendek yang dapat menurunkan ketegangan. Langkah ini meningkatkan risiko kesalahan perhitungan dan potensi konfrontasi yang lebih cepat.
- Iran memutuskan semua komunikasi dengan AS.
- Penurunan diplomasi menghilangkan skenario de-eskalasi jangka pendek.
- Pasangan mata uang USD/JPY kemungkinan akan tetap dibeli secara keseluruhan tetapi sangat volatil.
Secara teknis, grafik empat jam menunjukkan USD/JPY berada di level 159,94, menandakan bias jangka pendek yang masih cenderung bullish. Pasangan ini tetap berada di atas Simple Moving Average (SMA) 20‑periode dan 100‑periode, dengan SMA jangka pendek menembus ke atas SMA jangka panjang, sebuah formasi yang biasanya menguatkan sentimen positif. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada di sekitar 61, tetap di atas level netral 50 dan belum memasuki zona overbought, mengisyaratkan momentum naik yang berkelanjutan namun tidak berlebihan.
Resistansi terdekat terletak pada 159,95; penembusan yang konsisten di atas level ini dapat membuka jalan menuju level 160,03 sebagai target selanjutnya. Di sisi support, level awal berada di 159,71, di mana SMA 20‑periode berpotongan dengan support horizontal sebelumnya, menciptakan fondasi yang relatif kuat. Jika terjadi pullback yang lebih dalam, level 159,47 menjadi target berikutnya, bertepatan dengan SMA 100‑periode yang berfungsi sebagai zona support penting untuk mempertahankan bias bullish yang ada.
Para analis pasar menekankan bahwa volatilitas akan tetap tinggi selama situasi geopolitik ini belum mereda. Ketidakpastian mengenai apakah retorika nuklir Trump akan berujung pada tindakan militer nyata atau hanya menjadi taktik tekanan politik, menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan selanjutnya. Sementara itu, trader yang beroperasi di pasar forex dihadapkan pada pilihan antara tetap memegang posisi beli pada USD/JPY dengan harapan pasangan akan menembus level 160, atau mengurangi eksposur mereka dengan menempatkan stop‑loss di sekitar support kritis untuk melindungi dari potensi koreksi tajam.
Kesimpulannya, kombinasi antara ancaman nuklir yang diisyaratkan, pemutusan jalur diplomatik Iran, serta tekanan pasar yang terus meningkat menempatkan USD/JPY pada posisi yang sangat sensitif. Meskipun indikator teknikal masih mengindikasikan bias bullish, risiko geopolitik yang meluas dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar. Investor dan trader disarankan untuk terus memantau perkembangan pernyataan politik, laporan intelijen, serta pergerakan harga secara real‑time, serta menyiapkan strategi manajemen risiko yang ketat sebelum mengambil keputusan trading selanjutnya.
