Emas Tetap Stabil di Tengah Negosiasi AS-Iran dan Tekanan Inflasi Minyak

IPD – 17 April 2026 | Pasar emas global menunjukkan pergerakan yang relatif tenang dalam beberapa minggu terakhir, seiring para pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut terkait negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harga XAU/USD berputar di sekitar level $4.816, setelah sempat menguji puncak intraday $4.838, dan tetap terjaga dalam rentang yang dibatasi oleh Simple Moving Average (SMA) 50-hari di kisaran $4.898 serta SMA 100-hari di $4.708.

Para trader tampak enggan mengambil posisi spekulatif yang signifikan, mengingat ketidakpastian geopolitik yang masih melingkupi proses mediasi. Peningkatan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata dua minggu antara Washington dan Tehran memberikan sentimen positif, namun belum cukup kuat untuk memicu lonjakan harga emas yang signifikan.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Rabu mengungkapkan bahwa percakapan dengan pihak Iran bersifat “produktif”. Ia menolak laporan bahwa Amerika Serikat telah meminta perpanjangan gencatan senjata, menegaskan bahwa perjanjian saat ini akan berakhir pada minggu depan. Di sisi lain, Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, tiba di Tehran untuk menyampaikan pesan langsung dari Washington kepada otoritas Iran. Kunjungan ini dianggap sebagai upaya mempercepat dialog, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dapat berlanjut minggu ini meski pertemuan akhir pekan di Islamabad tidak menghasilkan terobosan.

Seorang pejabat senior Iran menambahkan pada hari Kamis bahwa kunjungan Munir “telah membantu mempersempit perbedaan di beberapa bidang” dan menumbuhkan harapan akan perpanjangan gencatan senjata serta putaran kedua pembicaraan. Meski demikian, perbedaan mendasar mengenai program nuklir masih menjadi titik kritis yang belum terselesaikan.

Di luar dinamika politik, pasar energi juga memberikan tekanan tambahan pada prospek inflasi. Harga minyak mentah, meskipun mengalami penurunan dari level tertinggi baru-baru ini, tetap berada pada level yang cukup tinggi karena gangguan pasokan di Selat Hormuz. Blokade ganda oleh pasukan Amerika Serikat dan Iran memperpanjang ketidakpastian pasokan, yang pada gilirannya menyalakan kembali kekhawatiran tentang inflasi yang dipicu oleh energi.

Inflasi yang didorong oleh kenaikan harga minyak menambah beban pada Federal Reserve (The Fed). Bank sentral Amerika Serikat dihadapkan pada dilema antara menahan suku bunga untuk mengendalikan inflasi dan menghindari pengetatan yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Alberto Musalem, presiden The Fed St. Louis, menegaskan bahwa “kejutan pasokan menempatkan target inflasi dan ketenagakerjaan The Fed dalam risiko” serta menilai bahwa kisaran suku bunga saat ini “kemungkinan tepat untuk beberapa waktu”. Ia juga menambahkan bahwa fluktuasi harga minyak dapat memengaruhi inflasi inti, yang diperkirakan akan tetap berada di sekitar 3% hingga akhir tahun.

Dampak langsung pada pasar emas terlihat dari pola teknikal yang masih berada dalam zona konsolidasi. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) 14-periode berada di level 53, mengindikasikan kondisi netral, sementara Average Directional Index (ADX) berada di angka 24, menandakan tren dasar yang moderat namun tidak kuat. Jika harga berhasil menembus di atas SMA 50-hari, tekanan bearish dapat berkurang dan memberi ruang bagi pembeli untuk menguasai kembali. Sebaliknya, penurunan di bawah SMA 100-hari dapat memicu breakout ke bawah, memperkuat sentimen jual.

Secara fundamental, prospek emas masih dipengaruhi oleh dua faktor utama: kebijakan moneter The Fed dan dinamika geopolitik Timur Tengah. Selama ketegangan antara AS dan Iran belum mereda sepenuhnya, pasar tetap menilai risiko inflasi sebagai faktor utama yang dapat memicu kebijakan pengetatan moneter. Kenaikan suku bunga secara teoritis menurunkan daya tarik emas karena meningkatkan biaya peluang bagi investor yang dapat menempatkan dana pada instrumen berbunga.

Namun, jika situasi geopolitik melunak dan harga minyak kembali turun secara signifikan, tekanan inflasi dapat berkurang, memungkinkan The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih lunak. Kondisi tersebut berpotensi membuka ruang bagi logam mulia untuk kembali menguat, terutama jika investor mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Secara keseluruhan, pergerakan emas saat ini mencerminkan keseimbangan antara harapan akan tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh harga minyak. Selama kedua faktor ini tetap dalam keadaan ambigu, emas diperkirakan akan terus beroperasi dalam kisaran yang dipandu oleh level support dan resistance teknikal, sambil menunggu katalis yang lebih jelas untuk mengarahkan tren ke arah atas atau bawah.

Leave a Comment