IPD – 22 April 2026 | Pasangan mata uang NZD/USD mengalami penurunan selama sesi perdagangan Amerika Utara, meskipun dolar Amerika sempat menguat pada awal sesi. Harga berbalik naik ke level sekitar 0,5880 setelah dolar kehilangan sebagian traksi, seiring risiko geopolitik yang masih mengendap dan tekanan politik terhadap Federal Reserve.
Awal sesi, greenback tetap kuat karena permintaan safe‑haven yang dipicu ketegangan di Selat Hormuz. Namun, momentum tersebut mulai memudar ketika sesi Asia dimulai. Penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta perbaikan moderat pada sentimen risiko global memberi ruang bagi mata uang risiko seperti dolar Selandia Baru (Kiwi) untuk menguat kembali.
Komentar terbaru dari lingkaran kebijakan moneter Amerika Serikat menambah kompleksitas pasar. Presiden Donald Trump kembali menegaskan preferensinya terhadap suku bunga yang lebih rendah, menyatakan kekecewaannya bila mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh tidak segera memotong suku bunga setelah konfirmasi sebagai ketua Fed berikutnya. Warsh menanggapi bahwa meskipun banyak presiden mendukung kebijakan suku bunga rendah, independensi Federal Reserve tetap berada di tangan institusi tersebut.
Warsh juga menekankan bahwa risiko inflasi yang dipicu tarif telah mereda, dan neraca perdagangan yang lebih kecil dapat mendukung suku bunga lebih rendah, inflasi yang terkendali, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Ia menolak memberikan panduan ke depan, sekaligus mengkritik sejumlah pejabat Fed yang memberi sinyal jalur suku bunga di muka. Sebagai gantinya, Warsh menyerukan reformasi struktural, termasuk pengenalan alat baru, strategi komunikasi yang diperbarui, serta kerangka inflasi yang lebih realistis mengingat data saat ini masih “sangat tidak sempurna”.
Secara teknikal pada grafik empat jam, NZD/USD diperdagangkan di level 0,5888, berada tepat di bawah Simple Moving Average (SMA) 20‑periode pada 0,5891, namun masih jauh di atas SMA 100‑periode di 0,5813. Kondisi ini menandakan bias jangka pendek yang netral. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada di sekitar angka 50, mengindikasikan pasar berada dalam fase konsolidasi dengan kurangnya tekanan beli atau jual yang signifikan.
- Resistance terdekat terletak pada SMA 20‑periode di 0,5891, diikuti level horizontal 0,5904 dan 0,5907, serta puncak potensial di sekitar 0,5965.
- Support langsung berada di 0,5887, dengan lantai lebih dalam di 0,5874. Penurunan lebih jauh dapat menguji SMA 100‑periode di 0,5813 sebagai zona permintaan kunci.
Faktor geopolitik tetap menjadi katalis utama bagi pergerakan dolar. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, meskipun tidak menyebabkan lonjakan tajam, masih memberi dorongan pada safe‑haven, yang pada gilirannya menekan NZD/USD. Namun, pergerakan imbal hasil obligasi AS yang menurun memberi sinyal bahwa pasar mulai menilai risiko inflasi lebih ringan, membuka peluang bagi mata uang berisiko untuk kembali menguat.
Dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat, terutama pernyataan Presiden Trump mengenai kebijakan suku bunga, menambah ketidakpastian. Sementara Warsh menekankan pentingnya independensi Fed, pernyataan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar mengenai jalur kebijakan moneter ke depan. Jika tekanan politik meningkat, kemungkinan Fed akan memperketat komunikasi atau menyesuaikan kebijakan dapat memicu volatilitas lebih lanjut pada pasangan mata uang utama, termasuk NZD/USD.
Secara keseluruhan, pasar kini berada dalam fase penyesuaian. NZD/USD masih berada di atas level support penting, namun belum menunjukkan tren naik yang kuat. Investor sebaiknya memperhatikan pergerakan imbal hasil AS, data inflasi terkini, serta perkembangan geopolitik yang dapat mengubah sentimen risiko. Pengawasan terhadap pernyataan resmi Fed dan potensi perubahan kebijakan moneter tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pasangan ini ke depan.
Kesimpulannya, meski narasi tekanan dari The Fed tetap hidup, momentum NZD/USD telah berkurang. Kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter AS, dan indikator teknikal yang netral membuat pasangan ini berada dalam zona konsolidasi, dengan potensi bergerak ke arah support lebih dalam bila tekanan jual meningkat.
