IPD – 08 Maret 2026 | Sabtu (7/3/2026) malam, Stadion Gelora Kie Raha di Ternate menjadi saksi sebuah pertempuran tidak hanya di atas lapangan, tetapi juga di luar arena sepakbola. Pertandingan pekan ke-25 Super League 2025/2026 antara Malut United dan PSM Makassar berlangsung dengan ketegangan tinggi, dipimpin oleh wasit berlisensi FIFA, Thoriq Alkatiri. Namun, drama tidak berhenti pada keputusan wasit; pada jeda pertandingan, Thoriq menjadi korban serangan fisik oleh oknum suporter dan wartawan yang meliput laga tersebut dilaporkan mengalami intimidasi.
Profil Singkat Thoriq Alkatiri
Thoriq Alkatiri adalah salah satu wakil terbaik Indonesia di tingkat internasional. Ia resmi memperoleh lisensi FIFA sejak 2014 dan telah menorehkan pengalaman luas di kompetisi domestik serta internasional. Sepanjang karier profesionalnya, Thoriq mencatat 227 pertandingan, termasuk 159 pertandingan di level kompetisi domestik sejak era ISL 2011/2012. Statistiknya menunjukkan 807 kartu kuning dan 19 kartu merah yang dikeluarkan, menandakan sikap tegasnya dalam mengendalikan permainan.
Selama musim ini, Thoriq telah memimpin 14 pertandingan Super League. Ia menjadi pilihan utama bagi tim PSM Makassar, yang telah mempercayainya dalam 15 laga selama karier mereka di kompetisi tertinggi Indonesia. Rekam jejaknya di bawah kepemimpinan Thoriq tidak selalu menguntungkan; PSM mencatat tujuh kekalahan, lima kemenangan, dan tiga hasil imbang pada pertandingan-pertandingan yang dipimpin olehnya.
Latar Belakang Laga Malut United vs PSM Makassar
Pertandingan antara Malut United dan PSM Makassar dijadwalkan dimulai pukul 19.00 WIB (20.00 WITA). Kedua tim berusaha mengumpulkan poin penting untuk mengamankan posisi mereka di klasemen. Bagi Malut United, laga ini menjadi pertandingan kelima yang dipimpin Thoriq, dengan catatan satu kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan sebelumnya. Sementara PSM Makassar menyiapkan skuad tanpa pelatih kepala Tomas Trucha; asisten pelatih Ahmad Amiruddin mengambil alih taktik, dibantu oleh direktur teknik (dirtek) Zulkifli Syukur yang tercantum dalam Daftar Susunan Pemain (DSP).
Susunan pemain PSM menampilkan Hilman Syah sebagai kiper yang baru pulih dari cedera, empat bek (Dusan Lagator, Yuran Fernandes, Aloisio Neto, Victor Luiz), serta formasi tengah yang padat dengan lima gelandang: Rifky Dwi Septiawan, Daisuke Sakai, Akbar Tanjung, Sheriddin Boboev, dan Victor Dethan. Penyerang tunggal, Alex Tanque, menjadi ujung tombak serangan PSM. Di bangku cadangan terdapat beberapa nama potensial seperti Rizky Eka, Savio Roberto, dan Jacques Medina.
Insiden Kekerasan Terhadap Wasit
Menjelang akhir babak pertama, sekelompok suporter yang tidak teridentifikasi melanggar zona terlarang dan mendekati lapangan. Dalam kerusuhan kecil, salah satu oknum menampar Thoriq Alkatiri dengan pukulan keras di bagian kepala. Wasit sempat terjatuh, namun berhasil bangkit dan melanjutkan tugasnya setelah menerima perawatan singkat dari tim medis. Kejadian ini memicu sorakan protes dari pemain, ofisial klub, serta penonton lain yang menuntut keamanan lebih ketat di area pertandingan.
Tak hanya Thoriq, seorang wartawan lokal yang meliput pertandingan dilaporkan diperlakukan secara intimidatif oleh petugas keamanan tuan rumah. Wartawan tersebut menyatakan bahwa ia mengalami tekanan verbal dan ancaman fisik ketika mencoba mengumpulkan keterangan mengenai insiden tersebut. Meskipun begitu, laporan resmi klub belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tindakan terhadap wartawan.
Reaksi Pihak Berwenang
Pihak penyelenggara Super League segera mengeluarkan pernyataan bahwa mereka menyesali kejadian tersebut dan berkomitmen untuk menindak tegas oknum yang terlibat. Komisi Keamanan dan Ketertiban (K3) dijadwalkan melakukan investigasi menyeluruh, termasuk peninjauan rekaman CCTV dan identifikasi pelaku. Sementara itu, Persatuan Wasit Indonesia (PWI) menyatakan dukungan penuh kepada Thoriq Alkatiri, menegaskan bahwa keselamatan wasit harus menjadi prioritas utama dalam setiap kompetisi.
Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI) juga menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap petugas pertandingan tidak akan ditoleransi. PSSI berencana mengimplementasikan protokol keamanan tambahan, termasuk peningkatan jumlah petugas keamanan dan pembatasan akses area lapangan pada pertandingan-pertandingan mendatang.
Dampak terhadap Kompetisi
Insiden ini menambah daftar panjang kasus kekerasan suporter di sepakbola Indonesia, yang telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemain, ofisial, dan sponsor. Dari sudut pandang kompetitif, PSM Makassar dan Malut United harus tetap fokus pada strategi masing-masing. Pada akhir pertandingan, PSM Makassar berhasil mengamankan kemenangan tipis 2-1, berkat gol penentu dari Alex Tanque pada menit ke-78. Malut United, meskipun berjuang keras, hanya mampu mencetak satu gol pada menit ke-55.
Kemenangan ini mengangkat PSM Makassar ke posisi ke-5 klasemen, sementara Malut United tetap berada di zona aman dari degradasi namun harus memperbaiki catatan pertahanannya.
Kasus kekerasan ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak bahwa sepakbola bukan hanya tentang hasil di atas lapangan, melainkan juga tentang menjaga integritas, keamanan, dan sportivitas. Semua elemen – klub, suporter, media, dan penyelenggara – harus berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap pelaku permainan.
