IPD – 10 Maret 2026 | Sabtu (7/3/2026) menjadi saksi insiden mengkhawatirkan usai pertandingan pekan ke-25 Super League 2025/2026 antara Malut United dan PSM Makassar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate. Pertandingan yang berakhir imbang 3-3 ini tak hanya menyajikan aksi sepakbola memukau, tetapi juga menimbulkan kericuhan yang melibatkan pemukulan wasit serta intimidasi terhadap wartawan. Federasi Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Sekretaris Jenderal Yunus Nusi mengeluarkan pernyataan keras, menegaskan bahwa tindakan semacam itu dapat merusak citra sepakbola nasional.
Menurut keterangan resmi PSSI, oknum suporter Malut United menyerang wasit utama, Thoriq Alkatiri, ketika ia hendak menuju ruang ganti pasca pertandingan. Insiden tersebut dipicu kekecewaan suporter atas keputusan VAR yang membatalkan gol David da Silva pada menit tambahan. Thoriq, yang memegang lisensi FIFA, dipukul keras sebelum berhasil meninggalkan lapangan. Tindakan agresif ini menyalahi prinsip fair play dan menimbulkan kekhawatiran akan keamanan petugas pertandingan di kompetisi domestik.
Tak lama setelah itu, seorang jurnalis dari Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate, Irwan Djailani, menjadi korban intimidasi. Ia dilaporkan didekati oleh seorang pria yang diduga merupakan ofisial tim Malut United, yang memaksa Djailani menghapus rekaman video insiden tersebut. Tindakan tersebut dianggap sebagai upaya menutup mata publik terhadap pelanggaran yang terjadi, sekaligus mengancam kebebasan pers dalam meliput olahraga.
Reaksi PSSI
Yunus Nusi menegaskan bahwa PSSI tidak akan mentolerir tindakan kekerasan terhadap perangkat pertandingan maupun media. “Hal‑hal seperti ini tidak baik bagi atmosfer sepakbola Indonesia maupun kompetisi I‑League kami. Karena itu harus kita jaga bersama,” ujarnya dalam konferensi pers pada Selasa (10/3/2026). Ia menambahkan bahwa semua pihak harus mengendalikan emosi dan menghindari aksi agresif yang dapat merugikan citra sepakbola nasional.
PSSI telah menyerahkan kasus ini kepada Komite Disiplin (Komdis) untuk diproses sesuai regulasi yang berlaku. “Komite Disiplin akan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Apapun keputusan yang diambil, semua pihak harus menerimanya,” tegas Yunus.
Poin Penting yang Ditekankan PSSI
- Pemukulan Wasit: Tindakan fisik terhadap wasit dilarang keras; pelaku berpotensi dikenai sanksi disiplin berat.
- Intimidasi Wartawan: Menghalangi kerja pers dianggap pelanggaran etika dan dapat berujung pada denda atau larangan masuk ke area kompetisi.
- Pengaruh Terhadap Citra Sepakbola: Insiden semacam ini dapat menurunkan kepercayaan sponsor, menurunkan minat penonton, dan menghambat upaya profesionalisasi liga.
- Peran Klub: Manajemen klub diminta menegakkan disiplin internal, memberikan edukasi kepada suporter, serta memastikan staf tidak terlibat dalam tindakan anarkis.
Yunus menambahkan bahwa klub-klub di tingkat tertinggi harus memberi contoh yang baik kepada suporter dan memastikan tidak ada oknum yang menyimpang dari standar perilaku yang ditetapkan.
Langkah Selanjutnya
PSSI berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh, termasuk mengidentifikasi oknum yang terlibat baik di sisi suporter maupun ofisial. Proses ini meliputi:
- Pengumpulan bukti video dan saksi mata dari wasit, pemain, serta wartawan.
- Wawancara resmi dengan pihak keamanan stadion dan manajemen Malut United.
- Pemeriksaan latar belakang ofisial yang diduga melakukan intimidasi.
- Pengajuan rekomendasi sanksi kepada Komite Disiplin, termasuk kemungkinan denda, penangguhan lisensi, atau larangan masuk stadion.
Komite Disiplin diharapkan mengeluarkan putusan dalam waktu dekat, dengan mempertimbangkan faktor keparahan, niat, serta dampak jangka panjang terhadap integritas kompetisi.
Insiden ini menjadi peringatan keras bagi semua pemangku kepentingan sepakbola Indonesia. PSSI menekankan pentingnya kerja sama antara federasi, klub, suporter, dan media untuk menciptakan lingkungan kompetisi yang aman, adil, dan profesional. Diharapkan, pelajaran dari kejadian ini dapat mencegah terulangnya aksi anarkis di masa depan, sehingga citra sepakbola Indonesia dapat terus berkembang positif di mata dunia.
