IPD – 29 Maret 2026 | Israel kembali melakukan serangan udara di wilayah Saksakiyah, Gaza, pada sore hari Rabu, menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil. Serangan tersebut menewaskan satu keluarga lengkap yang terperangkap dalam ledakan bom yang jatuh tepat di rumah mereka. Menurut laporan saksi mata, rumah yang dihuni empat orang itu runtuh seketika, meninggalkan puing‑puing serta korban jiwa dan luka berat.
Pasukan pertahanan Israel menegaskan serangan tersebut ditujukan pada infrastruktur militer Hamas yang diyakini berada di dekat area pemukiman. Namun, pihak militer Hamas mengklaim bahwa Israel sengaja menargetkan area sipil untuk menimbulkan tekanan psikologis pada penduduk Gaza. Pihak berwenang internasional kini menuntut penyelidikan independen terkait pelanggaran hukum humaniter internasional.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, muncul dalam sorotan media internasional setelah menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” dalam sebuah pernyataan yang memicu perdebatan geopolitik. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan kehadiran militer di wilayah tersebut untuk menjamin keamanan jalur pelayaran penting bagi pasar energi global.
Pernyataan tersebut datang bersamaan dengan ketegangan yang terus memuncak di Timur Tengah, terutama setelah serangan Israel di Saksakiyah. Para analis geopolitik menilai bahwa istilah baru tersebut dapat menjadi sinyal kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang lebih agresif, khususnya dalam menanggapi ancaman keamanan di kawasan Teluk Persia.
Reaksi internasional pun beragam. Sekretaris Jenderal PBB menyerukan penarikan segera semua serangan militer di Gaza dan menekankan pentingnya dialog damai antara kedua belah pihak. Sementara itu, beberapa negara Barat mengkritik retorika Trump yang dianggap mengeskalasi konflik, meski mereka tetap mendukung kebijakan keamanan energi yang stabil.
Di lapangan, keluarga yang terdampak serangan Israel di Saksakiyah masih berjuang untuk mengevakuasi mayat dan merawat yang selamat. Tim medis internasional yang berada di wilayah tersebut berupaya memberikan pertolongan pertama, namun keterbatasan akses dan ancaman serangan lanjutan menyulitkan upaya bantuan. Warga setempat melaporkan rasa takut yang mendalam, mengingat serangan udara dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Kesimpulannya, serangan Israel di Saksakiyah menambah daftar tragedi kemanusiaan di Gaza, sementara pernyataan kontroversial Donald Trump tentang Selat Hormuz menandai dinamika politik global yang semakin kompleks. Kedua peristiwa ini menegaskan pentingnya diplomasi multilateral dan upaya penegakan hukum internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di wilayah yang sudah rawan konflik.
