IPD – 18 Maret 2026 | Jakarta, 18 Maret 2026 – Dua kapal tanker LPG berbendera India berhasil menembus blokade selektif yang diterapkan Iran di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Keberhasilan ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan transit Iran, yang selama ini menutup selat tersebut bagi sebagian besar kapal asing sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Iran mengklaim bahwa hanya kapal-kapal dari negara sekutu yang diperbolehkan melintasi selat strategis itu. Seleksi ketat tersebut dilakukan melalui mekanisme izin berbasis kontrol militer, sebagaimana dilaporkan oleh perusahaan intelijen maritim Windward dan dikonfirmasi oleh pejabat Iran. Pada 15‑16 Maret, setidaknya lima kapal dilaporkan keluar dari Selat Hormuz melalui rute Larak‑Qeshm, termasuk satu tanker minyak Aframax berbendera Pakistan bernama Karachi.
Kebijakan Transit Iran dan Dampaknya pada Pasar Energi
Blokade Iran pada awal Maret menimbulkan kekhawatiran besar bagi pasar energi global. Sekitar 20% pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupan total dapat mengguncang harga minyak internasional. Pada 16 Maret, harga Brent melambung lebih dari 2,5% menjadi US$105,70 per barel, meningkat hampir 40% dibandingkan harga sebelum konflik.
Menanggapi tekanan tersebut, Iran membuka jalur aman bagi sejumlah negara yang dianggap sekutu atau tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa permintaan izin datang dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Turki, dan India. Namun, rincian lengkap mengenai negara mana yang mendapat izin tidak diungkapkan secara publik.
India dan Dua Tanker LPG
Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, mengonfirmasi bahwa beberapa kapal India diizinkan melintas, tanpa menyebutkan jumlah tepatnya. Pada hari yang sama, Kementerian Perkapalan India mengumumkan bahwa dua tanker LPG berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan barat India. Pejabat India, Rajesh Kumar Sinha, menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut menavigasi rute melalui Selat Larak‑Qeshq, yang biasanya tidak dipilih oleh armada komersial, menunjukkan adanya prosedur verifikasi khusus untuk memastikan kepemilikan dan muatan kapal.
Menurut analis komoditas JPMorgan, Natasha Kaneva, rute alternatif tersebut mencerminkan upaya Iran untuk mengkonfirmasi identitas kapal dan muatan sebelum memberikan izin, sekaligus memberikan jalur bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat atau sekutunya. Kaneva menambahkan bahwa sebagian besar kapal yang melintasi selat menonaktifkan transponder otomatis mereka untuk menghindari deteksi, namun tanker LPG India tetap mengaktifkannya, menandakan transparansi yang diminta oleh otoritas Iran.
Negara Lain yang Mendapat Izin
- Pakistan: Tanker Aframax Karachi berhasil melewati selat pada 15 Maret.
- Turki: Salah satu dari lima belas kapal Turki yang menunggu di perairan Iran mendapatkan izin dan berhasil melintas setelah pemeriksaan pelabuhan.
- China: Sedang dalam negosiasi untuk memperoleh jalur aman bagi kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair dari Qatar.
- Beberapa negara Eropa: Mengajukan permohonan izin, namun belum ada konfirmasi resmi tentang hasilnya.
Secara umum, Iran menegaskan bahwa kebijakan ini bukan merupakan pelonggaran blokade secara menyeluruh, melainkan penerapan “transit berbasis izin” yang menekankan kontrol militer atas setiap kapal yang diizinkan lewat.
Implikasi Geopolitik
Kebijakan baru Iran dapat dilihat sebagai upaya meredam tekanan internasional sambil tetap mempertahankan leverage strategis di wilayah Timur Tengah. Dengan memberikan akses terbatas kepada negara-negara yang tidak bersekutu dengan Amerika Serikat, Tehran berupaya menjaga aliran minyak tetap berjalan, menghindari lonjakan harga yang lebih tajam, dan sekaligus memperkuat hubungan bilateral dengan negara‑negara seperti India, Pakistan, dan Turki.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus menggalang dukungan sekutu untuk memberikan perlindungan militer bagi kapal-kapal yang beroperasi di wilayah tersebut. Keputusan Iran untuk membuka jalur bagi India—salah satu konsumen utama minyak Timur Tengah—menunjukkan dinamika baru dalam konflik yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Laut Arab.
Ke depan, observasi terhadap jumlah dan jenis kapal yang diizinkan melintas akan menjadi indikator utama kebijakan Iran. Jika Iran memperluas daftar negara yang mendapat izin, tekanan pada pasar energi global dapat berkurang, namun hal itu juga dapat mengubah perhitungan strategis Amerika Serikat dan sekutunya dalam menanggapi agresi Iran di Selat Hormuz.
Dengan dua tanker India berhasil menembus blokade, Iran tampaknya menguji batasan kebijakan transitnya, sambil tetap mempertahankan kontrol ketat atas lalu lintas maritim di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.
