Kenangan Mahfud MD: Menggantikan Juwono Sudarsono sebagai Menhan di Era Gus Dur – Sebuah Refleksi

IPD – 30 Maret 2026 | Jakarta, 29 Maret 2026 – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, baru-baru ini mengungkapkan kenangan mendalamnya saat menggantikan Prof. Juwono Sudarsono sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) pada awal pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mahfud menekankan bahwa Juwono bukan sekadar tokoh sipil yang pertama memegang jabatan tersebut, melainkan seorang ilmuwan besar yang menguasai strategi pertahanan dari perspektif geopolitik global.

“Saya dulu menggantikan Prof. Juwono di awal pemerintahan Gus Dur. Sejujurnya beliau seorang ilmuwan besar yang menguasai masalah pertahanan dari optik geopolitik global,” ujar Mahfud dalam sebuah wawancara di Jakarta pada Sabtu (28/3/2026). Ia menambahkan bahwa Juwono memiliki kepribadian santun, tidak mudah terprovokasi, namun daya tariknya sangat kuat sehingga mampu mempersatukan berbagai elemen dalam kebijakan pertahanan.

Juwono Sudarsono (5 Maret 1942 – 28 Maret 2026) lahir di Ciamis, Jawa Barat. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan studi di Institute of Social Studies Den Haag, University of California Berkeley, dan meraih gelar doktor (Ph.D.) dari London School of Economics and Political Science. Karier akademisnya menapaki bidang hubungan internasional dan geopolitik, menjadikannya salah satu pemikir terkemuka di Indonesia.

Sepanjang perjalanan politiknya, Juwono pernah menjabat sebagai:

  • Menteri Lingkungan Hidup (1998) pada masa Presiden Soeharto.
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1998‑1999) pada era Presiden BJ Habibie.
  • Menteri Pertahanan pertama dari kalangan sipil (1999‑2000) pada pemerintahan Gus Dur.
  • Menteri Pertahanan kembali (2004‑2009) pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
  • Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya (masa Megawati).

Penggantiannya oleh Mahfud pada tahun 2000 menandai transisi penting, di mana seorang sipil kembali memegang kendali atas kementerian yang selama puluhan tahun dikuasai militer. Mahfud menilai bahwa kebijakan pertahanan pada masa itu membutuhkan pendekatan yang lebih ilmiah dan bersifat lintas sektoral, sesuatu yang ia lihat secara jelas pada kepemimpinan Juwono.

Setelah kembali menjabat pada 2004, Juwono kembali mendapat pujian dari SBY yang menyebutnya sebagai “sosok yang mampu menyatukan pandangan militer dan sipil”. SBY menuturkan, “Saya memilih menempatkan seorang sipil yang cakap dan memahami masalah-masalah pertahanan, sehingga reformasi TNI bisa berjalan dengan baik dan kebijakan pertahanan berkembang secara efektif.”

Pada 28 Maret 2026, Juwono menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada usia 84 tahun. Konfirmasi kematiannya datang dari putranya, Vishnu Juwono, serta Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait. Jenazah sempat disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo, Kemhan, sebelum dipindahkan ke Lapangan Bela Negara untuk prosesi pelepasan, dan akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara militer yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Sjafrie, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Kemenhan pada masa Juwono, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. “Juwono Sudarsono sebagai Menteri Pertahanan RI periode 2004‑2009 merupakan sosok yang inspiratif. Diskusi mendalam hingga pertukaran gagasan mencerminkan dedikasi kami dalam upaya menjaga kedaulatan dan stabilitas bangsa,” tulisnya di media sosial pada 9 Februari 2025.

Kenangan Mahfud, pujian SBY, serta penghormatan Sjafrie menegaskan betapa signifikan peran Juwono dalam transisi pertahanan Indonesia dari era militer ke era sipil yang lebih modern. Sebagai ilmuwan, pendidik, dan politisi, ia meninggalkan warisan pemikiran yang masih relevan dalam konteks keamanan regional dan global saat ini.

Dengan selesainya upacara pemakaman, keluarga, kolega, dan seluruh elemen pertahanan mengajak generasi muda untuk meneruskan nilai integritas, kerja keras, dan keikhlasan yang menjadi ciri khas Juwono Sudarsono. Harapan mereka adalah bahwa semangat reformasi dan kolaborasi sipil‑militer yang dijalankan Juwono dapat terus menginspirasi kebijakan pertahanan Indonesia ke depan.

Leave a Comment