IPD – 12 Maret 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan peringatan keras kepada jajaran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara serta pejabat BUMN pada acara syukuran satu tahun berdirinya Danantara, Rabu 11 Maret 2026. Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa laporan yang tidak akurat atau dibuat semata‑mata untuk menyenangkan pimpinan tidak akan ditoleransi lagi.
Acara yang berlangsung di Wisma Danantara, Jakarta, menjadi ajang bagi Presiden untuk menilai kinerja lembaga sovereign wealth fund yang baru saja menandai tahun pertamanya. Menurut data yang ia terima, Return on Asset (ROA) Danantara pada tahun 2025 mengalami lonjakan lebih dari 300 persen dibandingkan tahun‑tahun sebelumnya, sebuah prestasi yang dipandang sebagai bukti keberhasilan konsolidasi aset negara.
Prestasi Danantara dalam Satu Tahun Pertama
Prabowo memuji pencapaian Danantara dengan menyoroti tiga poin utama:
- ROA meningkat lebih dari 300 persen, menandakan efisiensi pengelolaan aset strategis.
- Penggabungan lebih dari seribu entitas anak dan cucu BUMN ke dalam satu manajemen terpusat, yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dikelola secara efektif.
- Penguatan kontrol politik dan kemauan (political will) yang dianggap kunci utama keberhasilan.
Presiden menambahkan bahwa konsolidasi tersebut bukan sekadar upaya administratif, melainkan strategi untuk mencegah kebocoran kekayaan negara dan memastikan akuntabilitas yang lebih tinggi.
Peringatan Keras Terhadap Laporan Palsu
Meski puas dengan hasil kinerja, Prabowo menegaskan bahwa ia mengharapkan semua laporan yang diterima adalah fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menyatakan, “Jangan main‑main lagi dengan saya. Saya tidak ingin menerima laporan yang dibuat hanya untuk menyenangkan pimpinan atau mengakomodasi akal‑akalan.” Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka di depan jajaran BUMN, menandakan keseriusan pemerintah dalam menegakkan integritas laporan keuangan dan operasional.
Presiden juga menyinggung regulasi yang melarang audit terhadap anak dan cucu perusahaan BUMN, menanyakan dasar hukum tersebut dan menuntut adanya peninjauan kembali agar transparansi dapat terjamin.
Implikasi bagi Pengelolaan BUMN dan Kebijakan Pemerintah
Seruan Prabowo menggarisbawahi tantangan struktural dalam pengelolaan BUMN yang selama ini tersebar dalam ribuan entitas. Ia mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui jumlah entitas yang harus dikelola dapat mencapai lebih dari satu ribu, sebuah skala yang tidak pernah dijumpai dalam praktik manajemen global.
Dengan menekankan pentingnya konsolidasi, Prabowo memposisikan Danantara sebagai model baru untuk mengatasi fragmentasi BUMN. Ia berpendapat bahwa satu manajemen yang kuat, dilengkapi dengan standar internasional, dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi duplikasi, dan mempercepat pengambilan keputusan strategis.
Selain itu, pernyataan tersebut menjadi sinyal bagi para pejabat dan manajer BUMN bahwa laporan yang tidak akurat dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk potensi tindakan disiplin atau peninjauan kembali kebijakan internal.
Harapan ke Depan
Prabowo menutup pidatonya dengan harapan bahwa laporan‑laporan selanjutnya akan mencerminkan realitas yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menekankan bahwa keberhasilan Danantara tidak hanya diukur dari angka ROA, tetapi juga dari integritas, transparansi, dan kemampuan lembaga dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Dengan menegaskan komitmen pada pengelolaan aset negara yang terpusat dan transparan, Presiden berharap model Danantara dapat menjadi contoh bagi reformasi BUMN secara keseluruhan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kompetisi global sebagai pemilik sovereign wealth fund terkemuka.
