IPD – 04 April 2026 | Tim pencari korban yang hilang selama dua minggu akhirnya menemukan jasad seorang nenek berusia 78 tahun di kawasan hutan lindung Trenggalek, Jawa Timur, pada Jumat malam. Korban, yang dikenal sebagai Ibu Siti, dilaporkan menghilang pada tanggal 20 Maret setelah pergi mencari kayu bakar di daerah pegunungan yang dikenal rawan binatang buas dan medan sulit.
Menurut keterangan saksi mata, Ibu Siti terakhir terlihat bersama cucunya, seorang pria berusia 22 tahun yang bernama Dedi, saat mereka menapaki jalur setapak dekat Sungai Wulung. Dedi mengaku melanjutkan pencarian sendirian setelah korban tidak kembali ke rumah pada sore hari. Upaya pencarian resmi dimulai pada keesokan harinya, melibatkan tim dari Polres Trenggalek, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan masyarakat setempat.
Selama 12 hari, petugas melakukan pencarian intensif dengan menggunakan anjing pelacak, helikopter, dan perahu di wilayah sungai yang deras. Namun, medan yang licin dan cuaca yang tidak menentu menghambat proses pencarian. Pada hari ke-12, sebuah tim penyelamat menemukan jasad Ibu Siti tergeletak di antara semak belukar, dengan tanda-tanda luka memar di kedua lengan dan kaki.
Tim medis dari Puskesmas Setu melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah dan menyatakan tidak menemukan bukti kekerasan fisik yang signifikan. Hasil otopsi sementara menunjukkan bahwa penyebab kematian kemungkinan besar adalah kelelahan ekstrem dan hipotermia akibat terpapar suhu dingin hutan selama berhari‑hari. Pemeriksaan lebih lanjut masih berlangsung untuk menyingkirkan kemungkinan gigitan binatang atau trauma lainnya.
Penemuan ini mengingatkan pada kasus serupa yang terjadi di wilayah lain Indonesia baru-baru ini, seperti kasus nenek berusia 77 tahun di Siak yang terbunuh oleh cucunya, serta kasus nenek berusia 74 tahun yang tenggelam di Sungai Wulung, Blora. Meskipun penyebabnya berbeda, ketiga peristiwa tersebut menyoroti kerentanan lansia di daerah terpencil, terutama yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental atau fisik.
Kapolres Trenggalek, AKBP Budi Santoso, menegaskan bahwa penyelidikan masih terbuka lebar. “Kami akan melakukan verifikasi menyeluruh, termasuk wawancara dengan saksi, analisis jejak, serta memeriksa potensi faktor lingkungan yang berperan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pencarian Dedi, cucu korban, tetap menjadi prioritas utama, mengingat ia belum kembali sejak kejadian.
Warga setempat mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kondisi keamanan di daerah hutan. Seorang tokoh masyarakat, Bapak Hadi, menyampaikan, “Kami berharap pihak berwenang dapat meningkatkan patroli dan memberikan edukasi kepada warga tentang risiko menjelajah hutan, terutama bagi lansia yang rentan.”
Selain upaya penegakan hukum, otoritas daerah berencana memperkuat jaringan posko pertolongan pertama di pintu masuk hutan dan meningkatkan kerja sama dengan lembaga kesehatan untuk memberikan pemeriksaan rutin kepada warga senior.
Kasus ini juga menimbulkan perdebatan mengenai peran keluarga dalam mengawasi anggota lanjut usia. Para ahli kesehatan masyarakat menekankan pentingnya dukungan sosial dan pemantauan rutin bagi lansia yang tinggal sendiri atau memiliki keterbatasan mobilitas.
Dengan temuan jasad Ibu Siti, keluarga kini dapat mengakhiri penantian yang melelahkan. Namun, pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi selama 12 hari di hutan masih menjadi misteri yang harus dipecahkan oleh aparat. Pemerintah daerah berjanji akan mempercepat proses penyelidikan dan menyediakan bantuan bagi keluarga korban.
