IPD – 15 April 2026 | Pengadaan armada motor listrik untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan utama publik dan media. Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan rencana pembelian 21.801 unit motor listrik tipe Emmo JVX GT dengan nilai investasi sekitar Rp56 juta per unit. Namun, penemuan desain yang identik dengan motor asal China, Kollter ES1‑X PRO, yang dijual di platform internasional seperti Alibaba dengan harga sekitar Rp10 jutaan, menimbulkan pertanyaan serius tentang praktik rebranding dan transparansi penggunaan anggaran negara.
Netizen pertama kali menyoroti persamaan visual antara Emmo JVX GT dan Kollter ES1‑X PRO melalui foto‑foto yang beredar di media sosial. Kedua motor menampilkan rangka trail berwarna hitam mengkilap, lampu LED lebar, serta bentuk tangki bahan bakar yang hampir serupa. Perbedaan utama yang ditonjolkan oleh BGN adalah klaim adanya perbedaan teknis signifikan, terutama pada sistem penggerak, daya tahan baterai, dan standar kualitas internasional yang dikaitkan dengan merek global Tinbot.
BGN menegaskan bahwa Emmo JVX GT diproduksi oleh PT Adlas Sarana Elektrik di Bogor dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen. Motor ini dilengkapi motor mid‑drive tipe BLDC berdaya 3.800 W (puncak 7.000 W) serta baterai 72 V 31 Ah yang dapat menempuh jarak hingga 70 km. Kecepatan maksimal tercatat 80 km/jam, dengan kemampuan mengangkat beban hingga 200 kg. Spesifikasi lengkap dapat dilihat pada tabel perbandingan di bawah ini.
| Aspek | Emmo JVX GT | Kollter ES1‑X PRO |
|---|---|---|
| Produsen | PT Adlas Sarana Elektrik (Indonesia) | Tinbot (Jerman/China) |
| TKDN | 48,5 % | ~0 % (impor) |
| Daya Motor | 3.800 W (puncak 7.000 W) | 11.000 W |
| Tipe Motor | Mid‑drive BLDC | Axial Flux |
| Kecepatan Maks | 80 km/jam | 96 km/jam |
| Baterai | 72 V 31 Ah (LFP) | 72 V 31,5 Ah (Samsung Li‑Ion) |
| Jarak Tempuh | 70 km | 56‑112 km (tergantung mode) |
| Waktu Pengisian | 1 jam (30‑80 % fast charge) | 1‑1,5 jam (fast charge) |
| Dimensi (P × L × T) | 2.080 mm × 860 mm × 1.150 mm | 1.701 mm × 584 mm × 1.117 mm |
| Bobot Kosong | 110 kg | 113,4 kg |
| Daya Angkut | 200 kg | 170 kg |
Perbandingan di atas menggarisbawahi bahwa meskipun kedua motor memiliki tampilan luar yang serupa, terdapat perbedaan mendasar pada arsitektur motor, tenaga puncak, serta kapasitas baterai. Kollter ES1‑X PRO menggunakan motor axial‑flux berteknologi tinggi dengan torsi 220 Nm, sementara Emmo JVX GT mengandalkan motor BLDC standar. Perbedaan ini menjadi argumen utama BGN untuk menolak tuduhan rebranding semata.
Namun, kritik tetap mengemukakan bahwa perbedaan spesifikasi tidak menghilangkan fakta bahwa platform dasar produksi kemungkinan berasal dari pabrik yang sama di China. Jika benar, proses impor komponen utama dan perakitan di dalam negeri dapat menjelaskan selisih harga yang signifikan. Harga resmi Emmo JVX GT tercatat Rp49,95 juta (termasuk PPN 12 %) dan belum termasuk biaya pengurusan STNK serta garansi, sementara motor serupa di marketplace Alibaba dipasarkan sekitar Rp10 juta tanpa dukungan purna jual.
Selain kontroversi MBG, pasar motor listrik Indonesia juga dipenuhi dengan produk lain yang menawarkan variasi harga dan spesifikasi. Polytron, misalnya, meluncurkan tiga varian motor listrik – FOX 200, FOX 350, dan FOX 500 – dengan harga mulai Rp11,5 juta hingga Rp16 juta setelah subsidi. Meskipun harganya lebih rendah dibandingkan Emmo, Polytron menargetkan segmen konsumen perkotaan dengan fokus pada efisiensi energi dan kemudahan pengisian melalui baterai LFP.
Di sisi lain, produsen motor listrik ALVA yang belum berhasil menampilkan data lengkap karena gangguan teknis, tetap menjadi pemain potensial dengan desain futuristik. Kehadiran merek‑merek baru ini menambah tekanan pada pemerintah untuk menstandardisasi proses pengadaan, memastikan transparansi harga, serta mengoptimalkan penggunaan TKDN.
Secara keseluruhan, perdebatan seputar motor listrik MBG menyoroti tantangan regulasi dalam era mobilitas elektrifikasi. Pemerintah dihadapkan pada dua tugas utama: pertama, menjamin bahwa setiap pengadaan publik memenuhi standar kualitas dan nilai ekonomis; kedua, mengedukasi publik tentang perbedaan teknis yang dapat memengaruhi keputusan pembelian. Penjelasan resmi BGN mengenai spesifikasi dan ekosistem global Tinbot memberikan gambaran awal, namun audit independen serta publikasi rinci tentang rantai pasokan akan menjadi langkah selanjutnya untuk menenangkan skeptisisme masyarakat.
Dengan semakin banyaknya motor listrik beredar di pasar, baik yang diproduksi secara lokal maupun yang diimpor, transparansi harga dan kualitas menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan konsumen dan memastikan penggunaan anggaran negara yang bertanggung jawab.
