Megawati: Krisis Iran‑Venezuela Buktikan Dasa Sila Bandung Masih Kritis di Era Geopolitik

IPD – 19 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Dalam sebuah seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa dunia kini berada dalam kondisi tidak stabil akibat serangkaian konflik geopolitik, termasuk krisis di Iran dan Venezuela. Megawati menilai peristiwa tersebut sebagai bukti nyata bahwa nilai-nilai Dasa Sila Bandung masih relevan untuk menjaga kedaulatan bangsa di tengah tekanan internasional.

Megawati memaparkan dua contoh utama yang mengguncang sistem internasional. Pertama, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menimbulkan eskalasi militer di Timur Tengah. Kedua, penculikan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang menyoroti intervensi luar dalam urusan dalam negeri Amerika Latin. Kedua insiden ini, kata Megawati, menimbulkan getaran kuat pada tatanan global dan menuntut respons kolektif yang berlandaskan prinsip persamaan dan non‑intervensi.

“Ketika dunia dihadapkan pada persoalan di Venezuela melalui penculikan Presiden Maduro, dan serangan Amerika Serikat‑Israel terhadap Iran, maka sistem internasional guncang,” ujar Megawati. Ia menambahkan bahwa situasi tersebut menegaskan kembali pentingnya kembali pada nilai-nilai dasar Konferensi Asia‑Afrika 1955, khususnya Dasa Sila Bandung, yang dirumuskan sebagai benteng hukum internasional untuk melindungi kedaulatan setiap negara.

Berikut ini rangkuman singkat Dasa Sila Bandung yang dikutip dalam pidatonya:

  • Kesetaraan hak semua bangsa
  • Penolakan intervensi militer asing
  • Penghormatan kedaulatan wilayah
  • Kerjasama ekonomi tanpa eksploitasi
  • Pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan secara mandiri

Megawati menyoroti bahwa prinsip‑prinsip tersebut bukan sekadar retorika sejarah, melainkan landasan strategis yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. Ia mengingat kembali inisiatif Indonesia pada tahun 1965 lewat Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) yang menentang penempatan pangkalan militer asing di wilayah negara‑negara berkembang.

Menurut Megawati, keberadaan pangkalan militer asing menjadi faktor pemicu cepatnya intervensi terhadap kedaulatan negara, baik di Amerika Latin maupun di Timur Tengah. Oleh karena itu, ia menyerukan agar Indonesia memperkuat kebijakan anti‑pangkalan militer asing, sekaligus mempromosikan dialog multilateral melalui platform seperti Konferensi Asia‑Afrika Jilid II yang direncanakan akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Selain menekankan nilai Dasa Sila Bandung, Megawati juga mengulas pemikiran geopolitik Bung Karno yang membagi dunia menjadi dua blok utama: The New Emerging Forces, yaitu negara‑negara baru yang tengah bangkit, dan The Old Forces, negara‑negara mapan. Ia menegaskan bahwa kedua blok tersebut harus bersinergi dalam upaya menegakkan keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian global, alih-alih terjebak dalam persaingan kekuasaan.

Para peserta seminar, termasuk Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Ahmad Basarah, serta para akademisi dan pakar pertahanan, memberikan respons positif terhadap pandangan Megawati. Mereka sepakat bahwa memperkuat solidaritas Asia‑Afrika serta menegakkan Dasa Sila Bandung dapat menjadi kompas moral bagi Indonesia dalam menavigasi dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Megawati menutup pidatonya dengan ajakan kepada semua pihak, baik pemerintah, militer, maupun masyarakat sipil, untuk bersama‑sama menghidupkan kembali semangat Persatuan dan Kesetaraan yang menjadi inti konferensi 1955. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh bagi negara‑negara lain dalam menolak segala bentuk neokolonialisme dan imperialisme.

Dengan menegaskan kembali relevansi Dasa Sila Bandung, Megawati berharap konferensi Asia‑Afrika Jilid II dapat menjadi platform efektif untuk merumuskan kebijakan bersama yang menegakkan kedaulatan, memperkuat pertahanan tanpa pangkalan asing, dan menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan damai.

Leave a Comment