IPD – 05 April 2026 | Sungai Ciliwung, yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Jakarta, kini menghadapi ancaman serius dari spesies invasif ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus). Peneliti lingkungan memperkirakan bahwa dalam kurun waktu kurang dari satu tahun populasi ikan ini meningkat secara eksponensial, mengganggu rantai makanan alami dan menurunkan jumlah ikan endemik yang menjadi sumber protein bagi warga sekitar.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama dengan komunitas relawan telah meluncurkan program pembersihan massal yang berhasil mengangkut sekitar satu ton ikan sapu-sapu dari aliran Ciliwung. Program ini dilakukan secara manual, tanpa penggunaan bahan kimia, untuk menghindari pencemaran tambahan yang dapat merusak kualitas air dan membunuh spesies asli yang masih bertahan.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu mengonsumsi alga serta mikroorganisme dasar sungai yang seharusnya menjadi makanan utama bagi ikan-ikan lokal. Akibatnya, populasi ikan asli menurun drastis, sementara ikan sapu-sapu terus berkembang biak tanpa hambatan. “Kami paham bahwa ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif dapat mengganggu keseimbangan ekosistem asli Sungai Ciliwung,” ujar Rasio dalam konferensi pers di Bogor pada 5 April 2026.
Metode penangkapan yang dipilih KLH bersifat fisik: para relawan menggunakan jaring, perangkap, dan peralatan sederhana lainnya untuk menangkap ikan-ikan besar tersebut, kemudian mengangkutnya ke daratan. Seluruh proses diawasi ketat untuk memastikan tidak ada bahan kimia berbahaya yang masuk ke dalam aliran air. “Penggunaan bahan kimia atau zat khusus belum kami pertimbangkan karena potensi dampaknya yang tidak dapat diprediksi,” tegasnya.
Selain upaya penangkapan, KLH juga menggalang dukungan moral dan religius masyarakat. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa membuang sampah ke sungai merupakan perbuatan haram dijadikan landasan untuk mengajak warga tidak lagi mencemari Ciliwung. Rasio menekankan bahwa menjaga kebersihan sungai tidak hanya soal lingkungan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral umat manusia. “Menyelamatkan lingkungan dan menyelamatkan Ciliwung berarti menyelamatkan kehidupan kita sendiri,” tuturnya.
Para peneliti menambahkan bahwa keberhasilan program ini dapat diukur melalui indikator biologis, seperti peningkatan kembali populasi ikan endemik dan perbaikan kualitas air. Berikut adalah data sementara yang diperoleh setelah tiga minggu operasi pembersihan:
- Penurunan total biomassa ikan sapu-sapu sebesar 45%.
- Peningkatan kepadatan ikan nila dan ikan mas sebesar 30%.
- Penurunan kadar nitrat dan fosfat di air sebesar 20%.
Meski hasil awal terlihat menggembirakan, para ahli memperingatkan bahwa pengendalian spesies invasif memerlukan upaya berkelanjutan. Mereka merekomendasikan program edukasi publik, pengawasan reguler, serta kebijakan yang melarang introduksi spesies non-asli ke perairan Indonesia. Tanpa langkah-langkah tersebut, populasi ikan sapu-sapu dapat kembali bangkit, menimbulkan kerusakan ekologis yang lebih parah.
Kesimpulannya, ledakan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung menuntut respons terpadu antara pemerintah, komunitas, dan lembaga keagamaan. Upaya manual KLH yang berhasil mengangkut satu ton ikan invasif menunjukkan bahwa solusi tanpa bahan kimia dapat efektif bila didukung koordinasi yang kuat. Namun, keberlanjutan perbaikan ekosistem bergantung pada komitmen jangka panjang dalam edukasi, regulasi, dan pengelolaan sampah. Hanya dengan sinergi tersebut, Ciliwung dapat kembali menjadi sungai yang bersih, subur, dan mendukung kehidupan manusia serta satwa liar yang bergantung padanya.
