IPD – 30 Maret 2026 | John Herdman, pelatih Timnas Indonesia yang baru menjabat, kembali menarik perhatian publik bukan hanya karena taktiknya, melainkan karena kebiasaannya yang tak pernah berhenti berbicara selama pertandingan. Dalam beberapa kesempatan menjelang laga akhir FIFA Series 2026 melawan Bulgaria, Herdman menegaskan bahwa suara dan interaksi konstan di lapangan adalah bagian integral dari strategi menggerakkan energi tim dan memanfaatkan dukungan suporter.
Herdman mengaku sangat antusias menyambut atmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang dapat menampung hingga 70 ribu penonton. Pada 29 Maret 2026, setelah memimpin latihan di Stadion Madya, ia menyatakan, “Saya tidak sabar merasakan energi penuh stadion. Suporter yang bersemangat menjadi pemain ke-12 bagi kami.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya komunikasi verbal antara pelatih, pemain, dan penonton.
Berbagai wawancara mengungkap tiga alasan utama mengapa Herdman tak pernah diam sepanjang laga:
- Konstruksi Motivasi Real‑time: Dengan mengeluarkan instruksi, pujian, atau koreksi secara langsung, ia dapat menyesuaikan taktik saat permainan berkembang, terutama melawan tim yang memiliki kombinasi segitiga seperti Bulgaria.
- Penggunaan Suporter sebagai Sumber Energi: Herdman menilai atmosfer GBK “luar biasa” bahkan dengan 26 ribu penonton pada debut melawan Saint Kitts‑Nevis. Ia percaya bahwa teriakan dan nyanyian suporter dapat meningkatkan semangat pemain dan menekan lawan.
- Pengalaman Internasional yang Dibawa ke Tanah Air: Sebelumnya ia melatih di Kanada dan mengunjungi stadion ikonik seperti Azteca, Old Trafford, dan St James’ Park. Menurutnya, GBK menawarkan sensasi yang belum pernah ia rasakan, sehingga ia merasa perlu terus mengomunikasikan impresi tersebut kepada tim untuk membangun mentalitas juara.
Dalam persiapan melawan Bulgaria, tim Indonesia menjalani sesi latihan tambahan yang mencakup latihan penalti, karena aturan turnamen tidak memperbolehkan perpanjangan waktu. Herdman menambahkan, “Jika laga berakhir imbang, kita langsung ke adu penalti, jadi semua skenario harus kami siapkan.” Pendekatan ini memperlihatkan betapa pentingnya dialog berkelanjutan antara pelatih dan pemain selama sesi latihan maupun pertandingan.
Selain itu, Herdman menekankan bahwa lawan Bulgaria merupakan ujian sejati bagi skuad Garuda. Tim Eropa peringkat 86 dunia ini pernah berpartisipasi dalam tujuh edisi Piala Dunia, dengan performa puncak pada 1994. Menghadapi tim dengan fisik lebih besar dan organisasi yang matang, Herdman memperingatkan ancaman dari sisi sayap Bulgaria yang “berbahaya” serta kombinasi segitiga yang dapat mengacaukan struktur pertahanan Indonesia.
Berbagai pernyataan Herdman menunjukkan pola komunikasi yang konsisten: ia tidak hanya memberikan arahan taktikal, tetapi juga menginspirasi pemain dengan mengingatkan pentingnya dukungan suporter. Pada saat yang sama, ia mengkritik potensi kelemahan tim lawan dan menyiapkan skenario alternatif, termasuk strategi menyerang cepat dan penekanan pada pertahanan zona.
Keputusan untuk tetap vokal selama pertandingan juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya melatih Timnas Kanada, di mana ia pernah mengalami kekalahan melawan Belgia dan Kroasia di Piala Dunia 2022. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa komunikasi yang jelas dan berkelanjutan dapat meminimalisir kebingungan di lapangan, terutama ketika menghadapi tekanan tinggi.
Dengan dukungan suporter yang diharapkan mencapai kapasitas penuh GBK, Herdman optimis Indonesia dapat menyalurkan energi positif untuk menahan serangan Bulgaria. Ia menutup pernyataannya dengan harapan, “Kami butuh energi besar dari suporter untuk membantu kami mengalahkan Bulgaria, tim kuat yang memiliki pengalaman internasional luas.”
